Dulu GAM, sekarang aparat TNI/Polri

Saya menulis postingan ini tanpa ada maksud apapun. Dan saya berani menulis postingan ini bukan pun sebagai protes tapi unek-unek saya. Dan saya menulis berani menulis postingan ini karena saya sadar bahwa saya ada di Indonesia yang menjunjung tinggi sikap kebebasan berpendapat. Alasan lainnya adalah saya menulis di blog pribadi saya. Terserah orang mau bilang apa. Blog khan ibarat diery. Sama seperti diery.

Kebencian saya ada pada 2 profesi.

Yang pertama GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Saya tidak ambil pusing dengan apa yang mereka perjuangkan. Tapi, yang membuat sakit hati adalah mereka harus minta pajak nanggroe (pajak negara) dari masyarakat Aceh. Kebanyakan mereka mintanya sama pengusaha-pengusaha kaya atau PNS (Purwo Ningsih Soro). Kebetulan, orang tua saya adalah salah satu dari profesi tersebut. Kadang mereka memerasnya dengan kekerasan. Sampai sekarang, kalau boleh jujur, sampai saat ini dendam itu masih ada. Kalau untuk sekarang sih mungkin mereka tidak terlalu punya power, keculai pas ada Pilkada.

GAM (Gerakan Aceh Merdeka)

Yang kedua adalah ‘oknum’ TNI/Polri. Sengaja saya menggunakan “oknum” dengan tanda petik. Saya juga tidak mau dong terlibat masalah hanya dengan menulis ini. Kebencian ini juga tibul bukan karena apa yang mereka kerjakan, tapi sikap kebanyakan mereka. Terkadang, bahkan lebih sering, dengan sok punya kuasa (karena ada senjata), mereka sering memeras masyarakat. Razia adalah salah satu ladang untuk mencari uang. Hanya dengan alasan tidak punya spion atau hal kecil seperti tidak ada penutup pentil ban. Sering pula dengan memberikan tilang pakek slip warna merah. Sehingga orang mesti bayar mahal atau terpaksa sogok-sogokan. Mereka tidak, bahkan sengaja, tidak kasih tahu bahwa ada juga slip warna biru. Tentang slip merah dan biru ini, lain waktu saya posting. J Sebenarnya masih banyak alasan lain. Kalau saya bikin list, mungkin bisa sangat panjang sekali.

Polantas

Saya menulis ini juga tiba-tiba saja. Ketika saya antarin adik saya lewat Jl. Soekarna Hatta, Labaro tadi, tiba-tiba ada polantas yang siap-siap menggelar razia. Inilah yang memancing emosi saya lagi. Sering, hampir setiap kali ngeliat orang dengan seragam dinas ini, membuat saya bener-bener benci. Bahkan disaat adik saya yang laki-laki ingin masuk Polisi, juga saya tidak setuju. Karena saya berpikir begini. Walaupun adik saya orangnya baik, tapi kalau pergaulan tidak baik, lama-lama juga tidak baik lagi. Tidak mungkin juga tidak bergaul karena mereka biasanya satu team, kompi, atau apalah sebutannya. Jadi, mereka selalu bersama.

Ya sudahlah. Saya juga tidak bisa membayangkan kalau orang-orang dengan profesi itu terlalu banyak di Indonesia. Saya jamin Indonesia ini bakalan hancur. Lambat laun itu pasti terjadi. Gara-gara itu pula banyak orang pingin masuk profesi ini dengan menghalalkan segala cara. Sudah rahasia umumlah begitu. Wallahu alam. Semoga saya orang-orang terbaik terus Allah hadirkan ke Indonesia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s