Cerewet itu bagus, lho!

Ada sebagian teman-teman saya, mereka bilang tidak suka dengan orang yang cerewet. Namun, yang suka, juga tidak pernah saya temui mereka mengaku. Walaupun tidak ada penyangkalan, bisa juga dibilang setuju. Mungkin, mereka tidak mau mengeluarkan statement. Tulisan inipun, juga tidak memaksa orang lain untuk mengaku bahwa cerewet itu bagus, tapi mari kita lihat dari sudut pandang pribadi saya.

Walau tidak ada pengakuan, percaya tidak percaya, kenyataannya kita sebernarnya suka orang cerewet. Oke, yang pastinya bukan pen-cerewet yang over ya. Coba lihat, bisasanya yang orang cereweti adalah nasehat. Ya, sebenarnya mereka menyampaikan nasehat. Absolutely dengan cara yang terlalu cepat di waktu yang tepat. Lebih kepada mengingatkan akan aturan-aturan. Aturan hidup, pola hidup, aturan umum, adat, norma, kebiasaan,  kesehatan seseorang bisa jadi atau suatu hal yang semestinya dilakukan.

“Kok, kamu bisa lupa sih? Seharusnya ingat dong.”

“Gimana, sih? Selalu harus dibilang …. bla..bla..”

“Padahal khan tau bukan begitu, seharusnya begini dong”

“Jangan lupa tuh, bla…bla.. bla.. “

“Yuk, tidur. Udah malam. Jangan begadang, begana..begini…begitu…bla.. bla”

Itu beberapa contoh, yang sebenarnya masih banyak lagi. Coba lihat baik-baik, rata-rata itu adalah nasehat. Disampaikan pada waktu yang tepat, secara cepat. Bedanya, itu diucapkan dengan nada kesal.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya suka orang cerewet. Mungkin orang bakalan menilai saya aneh. Saya mau ngomong sebagai cowok, ya? Walau diluaran sana sudah pasti banyak juga cowok yang tidak satu pemikiran dengan saya. Pertama, mungkin karena saya masih ada sedikit sifat keras kepala. Sengaja saya ketik “bold”. Jadi, senang aja dicerewetin. Terutama dari orang terdekat, bisa keluarga, teman, bahkan, apalagi pasangan atau calon pasangan.

Nah, kalau ngomongin pasangan. Sebenarnya mereka lagi menunjukkan bahwa mereka perhatian. Bener tuh. Cara mereka, ya cerewet. Cuma, yang pastinya tidak over. Sengaja saya bold tulisan “tidak over” atau berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu, sudah pasti tidak bagus. Walau terkadang, kalau dicerewetin, saya sih senang aja. Nggak ngikutin apa yang dibilang tuh.  Saya lihatnya, ya ia memang benar-benar peduli, sayang atau perhatian. So, it’s okey. Never mind. Normal.

Cerewet berasal dari sifat genetik?

Kalau dari segi sience, biarlah para ahlinya yang menjawab. Tapi, dari segi karakter, saya ingin ngejelasin tentang keluarga saya aja. Tapi sebelum, saya tidak mau mengakui bahwa cerewet itu adalah sifat turunan dari keluarga. Saya benar-benar tidak mengakuinya.

Mama saya punya keluarga dari pihak nenek. Diantaranya, saya panggil nek yuh. Sebenarnya untuk manggil “nek” agak risih bagi sebagian orang. Karena nek yuh ini blm terlhat tua kayak nenek-nenek. Tapi, karena berdasarkan level keturunan aja, sehingga saya manggilnya nek yuh. Biar tau aja, keluarga saya untuk panggilan seperti itu selalu menggunakan level keturunan ini. Dan tidak canggungpun. Seperti saya manggil cek muslem. Cek muslem ini sebenarnya seuumuran saya. Bedanya saya lahir 25 hari lebih awal dari beliau. Tapi kemanapun pergi, saya manggilnya tetap “cek”.

Oke, balik lagi ke nek yuh ini. Ia orangnya cerewet, orang bilang dan saya mengakuinya. Cerewet dalam artian positif. Bukan menggunjing orang ya? Karena saya ingin yang baca postingan ini juga bisa membedakan mana orang cerewet dengan pengunjing atau tukang cerita aib orang. Selain beliau, ada juga dari pihak mama, saya panggilnya nek salbi. Ia orangnya terlihat santai tapi tetap memberikan solusi diwaktu yang tepat. Terus, ada nek putik, saya panggilnya begitu. Ia orangnya tenang dan suka ngomong. Selain itu, ada adik dari mama saya juga. Saya panggilnya Bunda. Nah, ini orang memang saya akui cerewet. Tahun ini insyallah berangkat haji. Moga ibadahnya mabrur. Amin.  Dan masih banyak lagi saudara dari keluarga mama saya yang lain yang punya karakter tidak jauh beda dengan yang sudah saya bilang itu.

Bunda (kiri) dan mama (kanan)

Nah, kesemuanya itu ada kombinasinya pada sifat dan karakter mama saya. Rumusnya, Sifat dan karakter nek yuh, nek salbi, nek putik,maka terlahirlah sifat dan karakter mama saya. Karakternya adalah berani mengeluarkan pendapat. Iya. Bener. Dan mama saya juga tidak terlau ambil pusing dengan komentar orang. Yang penting ia sudah mengeluarkan pendapatnnya sendiri.

Tapi, kalau ngomong masalah cerewet, mama saya, bagi saya tidak cerewet. Kata yang tepat menurut saya adalah berani ngomong, berani ngeluarin pendapat.

Jadi, bagi saya, cerewet itu tidak bisa a hundred persen karena faktor karakter genetik. Serta, saya senang (mungkin karena keras kepala masih ada sama saya) dicerewetin “positif”. Hehehe😀 bukan cerewet yang over ya? Itu untuk menunjukkan bahwa mereka peduli, care, sayang.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s