The Second Change (kesempatan ke-2)

Hari sabtu kemarin, saya ditelpon oleh sekretaris LP3I langsa. Terkejut juga lihat nama ditelpon terulis “lp31emilangsa”.  Waktu itu saya tidak langsung angkat. Kepala saya langsung mikir. “Apa maksudnya ini?”. Saya langsung teringat hal yang terjadi setahun yang lalu.

Waktu itu, saya pernah mendaftar sebagai instruktur di LP3I langsa. Saya ikuti tesnya, termasuk tes ngajar. Waktu saya ngajar, mereka suka. (Terima Kasih buat IES). Terus, saya ikut tes wawancara. Namun, mereka tidak memberikan hasil terus di hari itu. Setelah itu, saya langsung balik lagi ke Banda Aceh.

Di Banda Aceh, saya sudah dapat jadwal mengajar di Akper Fakinah secara full time. Saya mulai mengajar dan tiba-tiba, selang beberapa hari setelah tes di LP3I Langsa, mereka nelpon, dan bilang bahwa saya dinyatakan lulus dan bisa mengajar di LP3I. Terus saya bilang, “Sorry, sudah telat. Saya saat ini sudah duluan diterima mengajar di Akper Fakinah, Banda Aceh. Jadi, saya minta maaf”. Kemudian, saya jelaskan lagi, “waktu setelah interview di LP3I, saya balik ke Banda Aceh dan langsung di terima di sini. Jadi, sudah duluan orang lain”. Akhirnya saya tidak mengajar di sana.

Baiklah, kalau boleh jujur, sebenarnya bukan itu alasan saya tidak mengambil di LP3I. Bisa saja saya cancel yang di Banda Aceh dan terbang ke sana. Saya punya alasa lain, diantaranya; karena waktu itu saya jadi Sekretaris Aceh Forex Community dan juga sebagai trainer forex. Selain itu saya juga trading forex dengan dana sendiri. Jadi, incomenya bersumber dari jabatan sebagai sekretaris, ngisi training, dan juga profit dari trading forex sendiri. Alasan lainnya adalah karena Banda Aceh ini bisa dan mudah mengakses informasi secara cepat. Sementara itu, saya lebih banyak punya teman di Banda Aceh. Kehidupan yang kadang naik dan turun sudah saya rasakan di sini. Banda Aceh ini sudah menjadi seperti my home.

Nah, kita ngomong lagi ke awal. Setelah ditelpon itu dan saya tidak angkat, saya biarin aja. Memang sih saya sudah mulai berpikir bahwa kayaknya ini mereka ada rencana minta lagi saya untuk ngajar di sana lagi. Saya tunggu apakah ditelpon lagi atau tidak. Rupanya tidak. Sore harinya, saya telpon balik dan lagsung nanya,

“Hello, Aslkm emi?”.

“ia, alaikms, Pak rahmat”.

“Ia, ada yang bisa dibantu , kak”.  Saya nanyak.

“Pak Rahmat lagi ada kegiatan apa saat ini?”

“Sekarang lagi banyak kosong, kak”.

“Ia, gini Pak Rahmat. Pak rahmat masih berminat dengan LP3I Langsa?”.

 “Oya?, boleh. Tapi kapan tahun ajarannya. Ini khan udh mulai”

“Iya, pak. Ini udh mulai. Tapi kalau pak rahmat mau, kapan ada waktu biar ngomong lansung sama pimpinan. Sekarang sudah pimpinan yang baru, pak”

“Ooo.. gitu. Baiklah. Bagaimana kalau interview lewat telpon aja, boleh? Karena saya lagi di Banda Aceh sekarang”

“Pinginnya sih jumpa aja, pak”

“Oke, baiklah. Kayaknya lebih nyaman gitu. Nanti saya kasih tau pas mau ke sana ya? Dalam minggu ini insya allah”

“Oke, baiklah”

Setelah itu, saya langsung mikit. Pertama yang saya pikir adalah money. Ya, salary. Saya masih teringat waktu itu, saya pernah tawarkan gaji Rp. 1.5 juta. Kata pimpinannya, ia terlalu sedikit karena gaji di sana bisa lebih dari itu. Kata-kata itu masih saya ingat. Sekarang saya mulai hitung-hitungan.

Untuk mengajar biasanya, 50 atau 60 ribu adalah hal yang wajar untuk sekali tatap muka. Terus, saya hitungnya gini. Kalau dalam sehari saya punya 2 kelas. Anggap saya dibayar 50 ribu per tatap muka. Jadi, sehari adalah 100 ribu. Saya berkerja dari hari senin sampai jum’at. Rencanya saya ingin bilang itu nanti pas diwawancara lagi. Sabtu dan minggu saya tidak mau kerja. Jadi, 100 ribu kali 5 hari ada 500 ribu. Dikali 4 minggu (satu bulan) berarti 2 juta. 2 juta itu sangat murah sekali saya pikir. Mending enak di Banda Aceh saja kalau segitu. Namun, pikiran saya bilang, kalau lebih dari itu, oke. Jadi, saya sudah mulai ada ancang-ancang, bila ini di Tanya, saya ingin bilang 2.5 juta atau 3 juta. Nanti, tergantung pimpinan apakah ada tawar-menawar atau tidak. Gitu aja. Namun, niat saya, kalau cuma 2 juta, mending di Banda Aceh aja.

Selain masalah salary, saya sudah mulai punya ide lagi untuk buka cabang kursus yang sudah ada ini di langsa. Jadi, yang di Banda Aceh tetap jalan dan langsa juga ada. Tapi, saya harus lihat market di sana dulu. Karena pernah kejadian ada yang buka kursus bahasa inggris di sana,tapi tidak jalan. Setiap orang yang mau daftar sering nanyak, “apakah ada mata pelajaran lain selalain bahasa inggris?”. Jadi, menurut saya, bagusnya di sana itu bukan kursus bahasa inggris, tapi bimbel. Di bimbel, di situ sudah ada bahasa inggris, matematika, kimia, dan mancam-macam. Tapi, kita lihat dulu lah nanti.

Ide lain adalah, sabtu-minggu, saya bisa mengabil S2 atau ke Banda Aceh untuk ngurusin kursus di sini atau upgrade forex dengan teman-teman.  Ini semua adalah rencana, tapi semuanya nantilah kita lihat lagi.

Dari semua kesempatan yang diberikan Allah swt kepada saya, saya tetap masih membutuh arahanNya, yang mana yang harus saya pilih. Karena di banda aceh, juga mengiurkan. Yaitu lewat trading forex, juga di sini saya punya jabatan sebagai sekretaris komunitas. Di sini juga saya baru-barunya buka les. Lagi merintis. Semongga Allah mengarahkan saya untuk memilih yang terbaik. Amin.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s