Curhat kemana? (akhirnya ku memilih)

Memilih

Setelah saya diberikan waktu untuk memilih, maka saya juga berusaha mencari tahun mana yang terbaik. Waktu itu saya juga hubungi teman-teman dan sharing. Yang ingin saya tanyakan ke mereka adalah pendapat saja. Tidak lebih dari itu. Karena yang saya yakini adalah tidak ada manusia yang mampu menyelesaikan masalah. Banyak teman-teman yang dekat dengan saya tahu bahwa saya tidak pernah curhat dengan siapapun. Bahkan termasuk pula dilema ini. Antara saya harus memilih LP3I Langsa atau di Banda Aceh saja.

Waktu itu berkat info dari teman-teman, saya juga mempertimbangkan banyak hal. Plus dan minusnya saya ada di langsa dan juga di Banda Aceh. Pertimbangan utamanya adalah tentang income atau pendapatan yang saya dapat di langsa dengan di Banda Aceh. Dan pula, berapa banyak sumber income, bukan brapa banyak incomenya, tapi berapa banyak sumber income di langsa dan d Banda Aceh. Karena sebenarnya, saya tidak merasa nyaman bila sumber penghasilan cuma satu saja. Tapi harus lebih dari satu. Selain itu, linkungan yang baru adalah juga termasuk dalam pertimbangan.

Curhat

Ngomong-ngomong masalah curhat. Sebenarnya, saya bukan tidak percaya dengan orang lain atau teman. Ini sikap saya. Saya memang tidak bisa ngomongin masalah pribadi saya dengan orang, bahkan teman dekat sekalipun. Kecuali, mungkin istri ya? Walau saat ini belum punya, hehehe😀.  Saya punya anggapan, smoga aja anggapan ini selalu benar, bahwa manusia tidak punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi, yang ada dalam pikiran ini, what for? Untuk apa mesti ngomong masalah pribadi sama orang lain. Toh mereka juga manusia yang tidak punya daya.

Saya masih ingat kata-kata yang dibilang sama Ust. Yusuf Mansur, (karena kebetula saya adlah fannya),  dalam salah satu bukunya yang saya koleksi, bahwa semestinya manusia itu curhatnya sama Allah swt, bukan sama manusia. Yang ada manusia itu tahu semua aib kita, kelemahan kita. Karena manusia bisa berubah, maka suatu saat nanti bisa saja ia memamfaatkan kita atau punya satu image yang salah terhadap kita. Hal itu memang masuk di akal saya.

Lebih senang dan sangat puas sekali kalau kita curhatnya sama Yang Maha Menyelesaikan masalah. Yang maha menenangkan, Allah swt. Saya sering bilang sama teman-teman yang curhat masalah ke saya, walau saya tidak suka sikap ini, saya bilang ke mereka, kalau mau curhat, langsung aja sama Allah swt, nangis-nagislah sama Dia. Ngomong apa saja sama Dia. Karena ini lah yang saya lakukan. Alhamdulillah dan semoga kalau memang sikap ini baik, mada mudah-mudahan sikap ini terus ada sama saya.

Ya, memang sih, setiap orang punya cara sendiri dalam menghadapi masalah. Punya pelarian sendiri. Namun, bagi saya, inilah cara saya. Makanya, orang melihat kebanyakan dari luar saja. Mereka melihat senang, mereka melihat tidak ada masalah. Karena walaupun ada, saya tidak bilang sama mereka. Saya tidak curhat. Lebih baik begitu sih sebenarnya.

Saya masih teringat kata salah seorang bos saya, tempat saya ngajar. Kata si bos, “dunia ini adalah spekulasi”. Ketika kita berhubngan dengan teman, sikap dan cara kita bergaul beda dengan anak-anak. Beda dengan anak kecil. Beda dengan pedangan. Canda kita atau joke yang kita lakukan sudah tentu berbeda. Itulah spekulasi katanya. Kalau yang saya tangkap sbenarnya sih itu lebih sperti apa yang rasul bilang, “Wadha’ syai’kh fil makan”. Letakkanlah sesuatu pada tempatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s