Mister, Master, Suhu, & Neuneuk

mg_2180_cartoonizer_2.jpg
Me

Senang rasanya kalau kita dipanggil dengan nama yang baik-baik. Sama seperti apa yang rasul pernah bilang bahwa kita semestinya memanggil orang dengan nama yang baik atau yang ia senangi. Namun demikian, satu hal yang harus diakui adalah bahwa nama asli kita terkadang terkaburkan karena ada nama panggilan lain yang diberikan oleh masyarakat atau lingkungan kita sendiri. Biasanya itu terjadi berdasarkan prilaku, sikap, profesi atau ada skill khusus yang kita punyai. Inilah faktor pembeda yang dibilang oleh Ippho Sentosa.

Tak dapat dipungkiri, memang, bahwa smestinya kita punya faktor pembeda itu. Ippho Sentosa, penulis Mega Best Seller, menyebutkan “kata kunci”. Inilah yang semestinya ada pada setiap individu. Itulah yang menjadi brand kita. Misal, seperti saya. Bagi orang yang mengenal saya sebagai instruktur bahasa inggris, ketika mereka menyebut nama “Rahmat Hidayat”, yang mereka ingat dalam kepala adalah bahasa inggris yang menyenangkan. Bagi sebagian lain yang mengenal saya sebagai Trainer Forex, maka ketika menyebutkan nama saya, mereka langsung terbayang forex. Berbeda pula dengan keluarga dan saudara yang sudah mengenal saya sejak kecil. Mereka sering memanggil dengan sebutan “neuneuk”.

“Apalah arti sebuah nama” adalah kalimat sesat, menurut saya. Nama atau panggilan lah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Contohnya, teman-teman dekat sering memanggil saya “rahmat”. Dikalangan forex, mereka panggil “master rahmat” atau “suhu rahmat”. Sementara siswa yang belajar bahasa inggris dengan saya, mereka memanggil “mister rahmat”.

Alhamdulillah dan sangat bersyukur sekali saya tidak dipanggil dengan sebutan macam-macam. Karena pernah ada seorang teman dengan nama aslinya sangat bagus dan islami, namun dia dipanggil “abblack” karena dia hitam kulitnya. Pertama sih dia marah, tapi lama-lama ia sudah biasa dan sudah jadi brand. Tapi saya tetap memanggilnya nama asli. Ada lagi kawan dekat saya juga, ia dipanggil “bueng” karena dia buncit. Ia terima dan sekarang udh biasa dengan nama tersebut yang melekat padanya. Tapi bagi saya, tetap memanggilnya dengan nama asli.

Dan benarlah apa yang dikatakan rasul untuk menyuruh kita memanggil orang dengan sebutan yang dia senangi. Dan itu bagus untuk hubungan silaturrahim yang lebih baik. Terutama hubungan antara trainer dan peserta atau antara siswa dan guru. Alangkah lebih baik kalau kita juga menanyakan nama panggilan selain nama asli. Karena nama panggilan inilah yang bakalan kita pakai sehari-hari nantinya. Sering pula nama panggilan berbeda jauh dengan nama asli terkadang. Pernah ada salah seorang sahabat dengan nama lengkap “Muzammil”, sementara panggilannya adalah “Iki”. Dan ia pun lebih senang dipanggil itu.

Baiklah, sebelum saya tutup tulisan ini, ada satu hal yang ingin saya ungkapkan. Mengenai nama saya. Jujur bin nggak bohong, bahwa saya tidak suka dipanggil  “mat” alih-alih nama jelek lain. Bener-bemer terasa tidak nyaman.

Walaupun demikian, satu hal yang saya tahu dan terjadi juga dalam kehidupan saya adalah; kalau kita memanggil orang lain dengan nama yang disukainya, maka ia pun memanggil nama kita dengan bagus , juga. Kita menghargai dan menghormati orang lain, maka merek juga bakalan memperlakukan kita dengan cara yang sama. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s