Setimpal dengan ikhtiar (ITP TOEFL)

Kemarin saya mengambil nilai ITP TOEFL di USK (Universitas Syiah Kuala) . Rasa penasaran bercampur dengan perasaan gelisah menjadi satu. Membuat saya benar-benar terkejut ketika membuka amplop yang berisi score TOEFL yang saya ikuti seminggu yang lalu. Nomor cantik segera terlihat di depan mata saya; 500. Ya, Alhamdulillah saya mendapatkan nilai minimal untuk syarat mendaftar beasiswa. “Yes! Alhamdulillah” seru saya dengan kegirangan di depan petugas Lab Bahasa tersebut. Petugas itu cuma senyum saja melihat aksi saya. Hehehe..😀.

toefl itp
Learning TOEFL

Kali ini perasaan puas saya dapatkan. Puas bukan karena nilai saya segitu, tetap puas dengan proses yang saya ikuti untuk mendapatkan nilai tersebut. Selama lebih kurang satu bulan saya belajar TOEFL secara intensive. Beda sekali dengan waktu sebelumnya ketika itu tes ITP TOEFL. Dulu saya belajar sendiri.  Kedisiplinan pasti kurang. Ketekunan juga kurang. Niat serius selalu ada, tetapi environment nya sering tdk mendukung. Misalnya, tiba-tiba teringat janji dengan kawan, ada kesibukan yang kadang bisa ditinggalkan tetapi harus diikuti dan banyak ragam ganguan lainnya.

Nah, tes kali ini, bagi saya benar-benar beda. Sebelum ikut tes TOEFL, saya belajar tidak sendiri, tetapi dengan teman-teman yang lain. Saya join dengan group belajar yang orang-orangnya fokus untuk belajar TOEFL. Gilanya, itu jadwal tiap hari. Mulai hari senin sampai jum’at. Every day. Kawan-kawan saya itu, kalau boleh dikatakan adalah ‘scholarship hunter’. Mereka benar-benar gila-gilaan belajar dengan targetnya adalah ke luar negeri via beasiswa. Bahkan ketika saya tanya mau beasiswa negara mana? Mereka bilang bahwa yang penting ke luar negeri, terserah apapun nama beasiswanya. Environment seperti inilah yang membuat bergairah, dan terpengaruh untuk terus belajar lebih giat.

Saran saya bagi yang mau belajar TOEFL, bagusnya bentuklah group. Buat jadwal ketat. Boleh seperti kami, yaitu belajar 1-2 jam dari hari senin sampai jum’at. Cara belajar yang kami lakukan adalah dengan fokus pada 3 macam test yang ada pada TOEFL. Yaitu, Listening, Structure dan Reading. Jadwalnya selalu berselang setiap hari. Misalnya, hari ini belajar Listening, besok belajar structure dan lusa belajar reading. Seminggu atau 2 minggu sekali, kami mengadakan complete test untuk menilai kemampuan secara keseluruhan. Ketika belajar, kami selalu awali dengan test dulu. Seperti structure. Waktunya kami set 5 menit lebih cepat dari tes aslinya. Misal lama waktu mengerjakan structure test adalah 25 menit, maka dalam belajar kami set waktu 20 menit untuk semua soal (structure test punya 40 soal). Kemudian, kami melihat kunci jawaban dan menghitung berapa benar dan berapa salah. Terus, baru bahas bersama soal-soal yang susah dan kami share berbagai pendapat. Begitulah setiap hari yang kami lakukan.

Bagi saya, hal ini sangat membantu sekali. Terbukti kemampuan saya mulai meningkat. Alhamdulillah. Terlihat di hari pertama saya belajar bersama teman-teman, dimana saya mendapat angka salah bisa sampai 25 atau 26 soal. Berikutnya angka tersebut mulai berkurang menjadi 20 soal salah, 17 salah, 15 salah, 10 salah dah bahwkan sampai Cuma 3 soal yang salah. Alhamdulillah, sangat terasa sekali kepuasan proses belajar seperti ini.

History saya ikut test TOEFL adalah:

  1. Score 450 (prediction test)
  2. Score 450 (ITP TOEFL)
  3. Score 480 (prediction test)
  4. Score 453 (ITP TOEFL)
  5. Score 480 (prediction test)
  6. Score 500 (ITP TOEFL)

Score 500 tersebut adalah score sekarang ketika saya beljar bersama dengan teman-teman. Target saya adalah bisa mendapatkan angka 560. Karena syarat untuk daftar beasiswa Fulbright Amerika adalah 550. Namun, walau saya mendapatkan angka 500 pas, saya puas. Saya puas dengan proses yang saya lalui. Saya juga masih bisa mendaftar beasiswa ADS Australia (syarat ITP TOEFL minimal 500) dan juga beasiswa lain.

Saya menyadari bahwa semua ikhtiar yang saya lakukan adalah tidak terlepas dari doa orang tua saya. Setiap selesai shalat, saya sendiri juga berdoa. Cuma dalam setiap doa yang terucap adalah angka 560, namun hati lebih memilih angka 500 ke atas. Itulah semua terbukti bahwa doa seseorang diterima adalah berdasarkan ikhtiar dan keinginan hati yang mendalam. Saya menyadari dan sangat bersyukur dengan yang saya dapatkan sekarang. Itulah kemampuan saya, sekarang. Kedepan, dengan izin Allah swt, saya juga bisa melebihi angka tersebut. Yang penting cara dan strategi sudah saya dapatkan. Alhamdulillah. Thanks Allah, Syukran, arigato gozaimaze.

 

5 thoughts on “Setimpal dengan ikhtiar (ITP TOEFL)”

  1. Halo kak salam kenal, saya maba dari PLB UNESA. Sungguh kakak hebat deh bisa dapat skor segitu. Saya kemarin habis tes ITP di UNESA dapat skor 393. Untuk lolos harus dapat skor 400. Tolong share buku-buku buat latihan ITPnya kakak dong, buat pedoman saya gitu. Ngiri kak saya sama kakak. Saya juga ingin dapat skor 500. Maaf Curcol. Terima Kasih.🙂

    1. Coba pelajari buku2 TOEFL cliff. Selalu kerjakan latihan yang ada di situ tiap hari. Disipin yang tinggi. Selain buku itu, coba cari juga buku TOEFL Nelson penerbit Aksara. Buatlah komunitas walau cuma beberapa orang …. itu lbh bagus …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s