Meluruskan kembali pandangan pak Fuad mengenai Tharikat Naqshabandiyah

image
Salah satu tasbih pemberian seorang teman (ilustrasi saja)

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah kelas penelitian, pak Fuad Mardhatillah menjadi pemateri salah satu pelajaran. Waktu itu bahasannya adalah tentang filsafat ilmu. Dalam berbagai contoh cara berpikir untuk mendapatkan ide penelitian, ia menyinggung sedikit tentang Thariqat Naqshbandiyah. Entah mengapa, tiba-tiba bahasannya sudah keluar dari materi yang seharusnya ia berikan. Mungkin itu hanya sebagai memberikan wawasan saja bagi peserta. Mungkin. Namun, saya perlu meluruskan kembali pandangannya terhadapa thariqat naqshabandiyah ini.


Pak fuad mengatakan, “Saya pernah datang sekali untuk tahu langsung Thariqat Naqshabandiyah. Menurut saya, thariqat naqshabandiyah itu tidak masuk logika. Coba kalian pikir, kita diharuskan meminta pada orang. Berdoa pada orang lain. Berdoa pada Mursyid. Kenapa tidak langsung berdoa pada Allah swt saja. Selain itu, orang-orang tharikat tersebut ingin mendapatkan kehebatan yang luar biasa”. Pendapat inilah yang ingin saya luruskan kembali dengan penjelasan satu persatu.

Coba kita kaji dulu pendapatnya biar mudah kita bahas. Lihat kembali pendapatnya. Ada 2 hal yang harus dikuruskan. Yaitu: PERTAMA, berdoa pada Mursyid bukan pada Allah swt. KEDUA, tujuan pengalam thariqat adalah untuk mendapatkan kehebatan. Nah, mari kita luruskan pendapat ini.

PERTAMA. Pengamal thariqat naqshbandiya bukanlah berdoa pada guru. Bukanlah meminta pada guru. Tetapi pada Allah swt. Pendapat pak Fuad ini mungkin karena kurangnya informasi yang ia dapat atau mungkin tidak jelasnya info tersebut. Allah swt bilang, “mintalah kepadaku, maka akan kuberikan”. Apakah mungkin seorang ulama besar Syeikh Abuya Muhammad Wali (syeikh muda wali labuhan haji Aceh selatan), Abuya Prof. Dr. Muhibuddin Wali, Abuya Jamaluddin Wali, bahkan ulama-ulama Aceh berikutnya yang tersebar seluruh Aceh meminta apapun bukan pada selain Allah? Dan tidak percaya dengan ayat tersebut? Jadi, jangan salah. Mursyid adalah bukan tuhan, tapi guru yang membimbing ilmu agama. Mana yang benar dan mana yang salah. Bila tidak tahu tentang sesuatu, kita bisa bertanya padanya.

KEDUA. Setiap pengamal thariqat Naqshabandiyah dilarang punya niat tersebut. Pak Fuad mungkin sudah terkontaminasi dengan berbagai pemeberitaan media masa terhadap kejadian-kejadian seperti ini. Karena sekitar 9 atau 10 bulanan yang lalu ada sekelompok orang yang mengatasnamakan “thariqat naqshabandiyah” dikatakan sesaat. Itu adalah oknum. Waktu itu ada beberapa kejadian dan salah satunya terjadi di Idi Cut, Aceh Timur. Masalah ini membuat ulama besar Aceh, Prof. Dr. Muhibuddin Wali, datang ke situ dan meneliti kelompok ini bersama MUI. Akhirnya memutuskan bahwa kelompok tersebut adalah bukan thariqat naqshabandiyah dan dinyatakan sesaat. Karena salah satu ajarannya adalah buleh tidak shalat dan tujuannya adalah untuk mendapatkan karamah (kehebatan). Jadi, pendapat ini adalah salah. Bahkan, pengamal thariqat naqshabandiyah tidak pernah bedoa seumpama, “wahai mursyidku, mudahkan urusan saja, jaga saya”. Tidak pernah ada yang seperti itu. Kalau itu kejadiannya berarti sudah syirik namanya karena meminta pada selain Allah.

image
Kegiatan mengaji di Dayah

Saya ingin memberikan sedikit tambahan. Pernahkan anda tahu apa makna sebenarnya Thariqat? . Thariqat itu artinya jalan. Jalan menuju Allah. Jalan mengenal sifat-sifat Allah. Jalan mengamalkan ajaran Allah swt. Tahukah anda rukun Islam? Ya. Benar, rukun Islam yang lima tersebut. Yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Pertanyaan saya sekarang adalah apakah anda tahu rukun agama? Rukun agama ada 4 perkara, yaitu:
1. Bersyariat.
2. Berthariqat.
3. Berhaqiqat.
4. Bermaghrifah.

Coba lihat point ke 2, yaitu berthariqat. Thariqat bukanlah cuma ada Naqshabndiyah satu-satunya. Ada thariqat syatariah. Ada thariqat qadhiryah, thariqat samanniyah. Kalau anda membaca literatur agama lagi, masih banyak yang lainnya. Kita boleh memilihnya walau berbeda dengan yang lain. Seperti dalam keluarga saya. Saya, dek ikhsan (adek cowok) dan bunda saya mengamalkan thariqat naqshabandiyah. Sementara adek saya yang cewek, dek pi, ia adalah thariqat syatariyah. Kenapa ia berbeda? Karena kebetulan ia mengaji di Dayah samalanga. Di dayah-dayah samalangan kebanyakan mengajarkan thariqat syatariyah. Apakah boleh? Tentu saja boleh. Diawal khan sudah saya kasih tahu bahwa thariqat itu adalah jalan. Bahkan saya sendiri juga suka thariqat syatariyah ini.

image
Photo dinding di ruang tamu (dari kiri ke kanan; dek ichsan, Abu Bustaman Junaid, saya)

By the way, membahas thariqat ini sangatlah luas. Jadi, tidak cukup hanya dengan satu postingan saja. Lain kali kalau punya waktu, insha Allah akan saya posting lagi. Namun demikian, postingan saya kali ini bukanlah untuk melawan pendapat Pak Fuad, tapi untuk meluruskan saja berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan sudut pandang saya. Saya sangat menghargai pendapat pak Fuad. Ia telah menggunakan haknya untuk berpendapat di negara yang demokrasi ini. Karena beliaupun juga adalah guru saya.

Note:
Fuad Marhatillah, MA adalah seorang akademisi IAIN Ar-Raniry. Ia juga seorang analis pada lembaga Aceh Institute.

5 thoughts on “Meluruskan kembali pandangan pak Fuad mengenai Tharikat Naqshabandiyah”

  1. tulisan yang bagus saudara Rahmat, saya risau juga jika banyak pemikiran akademis tercampur baur dengan berita media yang luar biasa dahsyat🙂

    1. Iya, bang..
      Terlalu sangat disayang pemikiran yang keliru memasuki tempat dimana orang mencari ilmu… butuh selalu filter untuk menyaring informasi walau itu dari dosen sekalipun..🙂

      Thanks udah berkunjung ke sini🙂
      salam kenal..

  2. Lurusan yang salah lurus…
    Ikhwan Rahmat,, penulis yang ingin meluruskan pendapat saya. Terima kasih atas upayanya meluruskan pendapat saya dipahami tidak lurus. Maka perlu saya luruskan pemahamannya atas apa yang saya kemukakan saat saya mengisi pada acara Kuliah di Sekolah Riset Aceh Institute sudah lebih dari setahun lalu. Namun saya barusan saja ttahu ada tulisan yang meluruskan pendapat saya.

    Perlu saya pertegas kembali, pertama, bahwa saya tidak pernah mengatakan, bahwa berdoa dalam thariqat Naqsyabandi adalah berdoa yang dialamatkan kepada Mursyid. Sama sekali bukan begitu. Yang saya katakan, bhw para pengikut Thariqat Naqsyabandi saat berdoa harus selalu melalui tali washilah para mursyid hingga sampai ke Rasulullah. Alasannya, seorang pengikut thariqat yang masih pada traf pemula yang masih penuh dosa, dinilai tidak mungkin bisa berdoa langsung kpd Allah. tetapi harus menggunakan perantara (wasilah) para “orang-orang suci” (mursyid), sehingga doa-doanya para pendosa akan lebih mudah diterima Allah. Tegasnya, seorang yang penuh dosa, tidak mungkin doanya diijabah Allah jika tidak pake perantara orang-orang suci (mursyid). Inilah yang sangat tidak sepakat.

    Buat saya, sebanyak apapun atau sebesar apapun seseorang berdosa, tetap saja bisa berdoa langsung kepada Allah dan bisa segera diampuni Allah. Keyakinan ini saya peroleh dari ayat Allah yang Allah tegaskan dalam Quran: Ud’uuni yastajib lakum…(berdoalah pada ku, akan ku kabuli). jadi disini tidak dipersyaratkan perlunya perantara. Yang diperlukan disini adalah sikap hati yang jujur, ikhlas, rendah hati dan tawaddhu’…. Sikap-sikap hati semacam itulah yang kiranya menjadi alasan Allah mengabulkan doa-doa hamba2nya yang bersungguh2 berdoa kepadaNya. Tidak perlu ada perantara, innallaha ghafuururrahiim…. Demikian pelurusan yang perlu saya lakukan pemahamann bro rahmat thdp pendapat saya bengkok….

    Kedua, bhw sebagian besar teman-teman yang sempat saya berbincang tentang motif mereka bergabung ke dalam Thariqat Naqsyabandi tsb adalah: mereka ingin mendapatkan suatu kemampuan yang bersifat luar biasa, seperti mengobati orang sakit dgn cara-cara yang bersifat spiritual, dapat melakukan hal-hal yang diluarkan kemampuan orang kebanyakan, seperti: mampu berjalan di atas air, bisa bepergian ke suatu tempat yang jauh hanya dalam waktu sekejab, bisa memukul orang tanpa menggunakan tenaga yang kuat dll. Jadi semua kemampuan yg diluar kebiasaan itulah yang ingin dicapai melalui pengamalan ajaran Thariqat bersama segala zikirnya… Jadi itulah motif yang yang banyak saya dapatkan pada teman baik yang seangkatan maupun yang telah lebih bergabung. barangkali memang tidak semua pengikut thariqat pasti begitu. Tapi untuk mendapatkan kemampuan luar-biasa itu telah menjadi sebagian besar pengikut thariqat.

    demikian pelurusan saya atas pemahaman yang bengkok dalam memahami pendapat saya. betapun demikian, tetap saya mengucapkan terima kasih atas apa yang dipersangkakan kepada saya….semoga Allah selalu membimbing kita menuju jalan yang diridhainya, dan senantiasa mengampuni segala dosa-dosa kita….
    salam…

    1. Terima kasih pak Fuad karena telah berkunjung ke blog saya… hehe😀
      Saya sendiri sangat menghargai setiap opini atau pandang setiap orang. Bagi saya pribadi, tidak semua hal bisa digeneralisasikan semuanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap jalan kebaikan yang ditempuh ada maksud lain dari si pelaku. Namun, masih banyak juga orang yang memilih jalan tertentu niatnya itu adalah karena Allah swt semata. Melihat sisi baik dari setiap jalan kebenaran yang dipilih adalah pilihan bagi saya sendiri menilai sesuatu. Maka alangkah baiknya kita mencari informasi bukan hanya pada satu dua orang saja dari pengamal thariqat, bahkan juga kita harus bertanya langsung pada ahli ilmunya. “Bertanyalah pada ahlinya”. Nah, baiknya kita juga bisa bertanya pada ulama yang memberikan ijazah thariqat tersebut.😀

      By the way, senang sekali Pak Fuad sendiri mau mengomentari tulisan saya dengan bijak sebagai seorang ilmuan dan akademisi dengan menjunjung tinggi nilai demokrasi, dan kebebasan berpendapat.😀 trims sdh brkunjung ke sini, pak.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s