Belajar Cara Belajar

Tulisan ini adalah tugas essay di sekolah riset yang saya ikuti di Aceh Institute.

Ilustrasi mengajar
Ilustrasi mengajar

Pendidikan saat ini sudah sangat beda sekali dengan generasi sebelum kita. Dulu, pendikan tidak fokus pada banyak hal. Tidak banyak mata pelajaran yang diberikan. Coba ingat kembali pada masa 20 tahunan yang lalu. Di sekolah-sekolah, guru mengajarkan ilmu pengetahuan alam, sosial, matematika dan bahasa Indonesia. Itu saja yang penting. Sementara pelajaran lain masuk ke dalam ektrakurikuler. Sementara hari ini, ada banyak sekali pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Mereka harus bias menguasai matematika, fisika, kimia, ekonomi, akutansi, bahasa inggris, bahasa indonesia dan bahkan ada bahasa jepang, mandarin dan lain lagi tergantung pada sekolahnya. Siswa benar-benar dipaksa untuk mengetahui segala hal.

Inilah tugas para pendidik juga untuk punya kemampuan mengajari siswanya. Dengan berbagai macam pelajaran tersebut, sang guru sudah semestinya benar-benar mampu membuat siswanya paham bukan hanya sacara rata-rata siswa dalam kelas, tetapi juga setiap siswa harus mengerti dengan betul pelajaran yang diberikan. Selain itu, karena lulus tidak lulusnya UN (Ujian Nasional) bukan berdasarkan nilai rata-rata siswa kelas rersebut, tetapi nilai per individu siswa tersebut. Jadi, mau tidak mau, guru harus fokus pada individu siswa satu per satu.

Namun, pernahkan sang guru tahu cara belajar siswanya? Inilah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh guru. Kebanyakan guru hanya tahu cara dan teknik mengajar saja. Sementara faktor siswanya tidak pernah diperhitungkan. Sehingga, yang terjadi dikelas adalah tidak semua siswa dapat mengerti apa yang diajarkan dengan cara guru tersebut. Ini terjadi karena cara mereka memahami sesuatu tidaklah semuanya sama dengan cara guru mengajarinya.

Menurut Prof. Howard Gardner, guru besar pendidikan universitas Harvard, membagikan Intelinjensi seseorang (multiple intelijen) pada 8 bagian:

1. Kecerdasan lingustik (bahasa)

Mereka punya kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Contohnya adalah penulis, jurnalis, penyair, orator dan pelawak.

2. Kecerdasan logis-matematis.

Mampu menalar dan menghitung, berpikir logika dan sistematis. Contohnya, insinyur, ilmuwan, ekonom, akuntan, detektif dan pengacara.

3. Kecerdasan visual-spasial.

Berpikir menggunakan gambar, memviaualisasikan masa depan, membayangkan berbagai hal dalam pikiran. Contohnya, arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer, dan perencana strategis.

4. Kecerdasan musikal.

Mampu mengubah atau menciptakan musik, bisa bernyanyi dengan baik, memahami dan mengapresiasikan musik, serta menjaga ritme. Contohnya, musisi, komposer, perekayasa rekaman. Kebanyakan kita memiliki kecerdasan musikal dasar. Sangat menyenangkan sekali menggunakan sajak atau ritme tertentu dalam mengafal, misalnya.

5. Kecerdasan kinestetik-tubuh.

Punya kemampuan menggunakan tubuh secara terampil dalam memecahkan masalah, menciptakan produk, mengumukakan gagasan atau emosi. Biasanya terlihat dengan mampu berakting, punya prestasi atlet, seni, bidang bangunan dan konstruksi. Para bintang yang memiliki kecerdasan ini adalah seperti Charlie Chaplin, Michael Jordan, Rudolf Nureyef.

6. Kecerdasan interpersonal (sosial).

Kemampuan berkerja secara efektik dengan orang lain. Mampu berhubungan dengan orang lain, memperlihatkan empati, pengertian, motivasi dan tujuannya. Contohnya, guru yang baik, fasilitator, penyembuh, politisi, pemuka agama dan waralaba.

7. Kecerdasan intrapersonal.

Kebalikan dari interpersonal. Mampu menganalisis diri sendiri, merenungi diri sendiri dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang. Meninjau prestasi seseorang. Membuat rencana dan menyusun tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain lebih mengenal diri sendiri. Contohnya, filosof, penyuluh, pembimbing.

Pada tahun 1996, Gardner memutuskan untuk menambah satu kecerdasan lagi. Kendatipun banyak pendapat yang menentang terhadap keputusannya tersebut.

8. Kecerdasan naturalis.

Mampu mengenal flora dan fauna. Mampu memilah-milah runtut dalam dunia kealaman dan mampu menggunakannya secara produktif. Contohnya, petani, ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, dan pecinta lingkungan.

Nah, dari 8 kecerdasan inilah yang harus dilihat pada siswa. Beda kecerdasannya, berarti beda pula cara mengajarinya. Bila disamakan semua siswa dalam satu kelas dengan mengajari mereka dengan pendekatan kecerdasan, misal interpersonal, maka tidak semua punya kemampuan itu sehingga materi juga tidak tersampaikan pada semua siswa. Inilah masalahnya.

Namun demikian, ada solusi yang tepat. Solusi ini harus diuji dulu sebelumnya. Yaitu dengan cara mengklasifikasikan siswa bedasarkan 8 8 kecerdasan tersebut. Siswa dengan kecerdasan interpersonal, misalnya, diletakkan di kelas interpersonal. Siswa dengan kecerdasan kinestetik diletakkan di kelas kinestetik, dan seterusnya. Maka, untuk kelas interpersonal, misal, akan diajari dengan pendekatan interpersonal. Begitu pula dengan siswa dengan kecerdasan kinestetik. Begitu pula selanjutnya.

Dengan cara yang tepat sesau merekalah, mereka belajar. Itulah hal yang mesti dilakukan dulu oleh guru. Mengerti dulu gaya belajar setiap siswa dan gunakan cara yang tepat sesuai dengan gaya belajar mereka sendiri.

2 thoughts on “Belajar Cara Belajar”

    1. Bener itu, mbak🙂

      Guru adalah bukan mesin yang cuma mengajar dan memperhatikan dirinya saja…tp harus tahu cara siswanya belajar..🙂

      Makash udh brkunjung k sini, mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s