Bule: Orang Aceh masih cocok menunggangi binatang

image
Oknum pelanggar

Setelah membaca berita tentang penghargaan kepatuhan lalu lintas yang baik yang diterima oleh provinsi Palembang tahun ini, membuat saya merasa bertanya-tanya kenapa bukan Aceh. Apa yang salah dengan Aceh. Kenapa juga mesti palembang yang menang. Apa bagusnya mereka. Namun, saya belum bisa mendapatkan jawaban itu.

Secara umum, Indonesia masih bisa dikatakan negara yang tidak patuh pada peraturan. Negara yang banyak oknum melanggar aturan yang ada di jalan raya. Apalagi Aceh. Pernah suatu ketika. Ada bule yang datang ke Aceh. Waktu itu kita ngobrol-ngobrol masalah lalu lintas. Sempat keluar dari mulutnya, “orang Aceh ini belum waktunya menggunakan kedaraan di jalan raya. Mereka masih harus menggunakan binatang yang ditunggangi seperti kerbau, kuda, dan sapi”.

Saya tidak bisa membantah pernyataan tersebut. Apalagi saya melihat dengan mata kepala sendiri terhadap peraturan-peraturan yang dilanggar, peraturan yang tidak ketat dan aturan yang terkadang tidak jelas dan sperti menjebak pengguna kederaan untuk membayar denda. Bahkan banyak lagi hal lain yang bisa mendukung pernyataan si bule itu.

Mengingat kata-kata dosen saya bahwa pengkritik yang baik adalah megritik dan memberikan solusi.🙂 maka saya akan mencoba memeberika beberapa solusi terhadap permasalahan ini. Yaitu:

1. Anak sekolah (umur di bawah 18 tahun) belum boleh mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Mereka juga tidak boleh menggunakan kederaan ke sekolah. Bila mereka ke sekolah, mereka bisa diantarkan oleh orang tuanya atau menggunakan sepeda. Bersepada juga hal bagus untuk mendukung kampanye Go Green di kalangan pelajar. Karena banyak temuan kecelakaan dialami oleh orang muda.

image
Pembuatan SIM

2. Setiap sekolah ada pelajaran mengemudi kederaan. Karena sekolah adalah tempat yang baik untuk mengajarkan sesuatu, bahkan untuk mengajarkan etika dalam mengemudi, bukan cuma aturan tapi juga norma. Jadi, pelajar memahami aturan dalam mengemudi. Mereka juga diajarkan cara mengemudi dengam baik. Untuk mendapatkan SIM, mereka harus lulus ujian mengemudi yang diberikan di sekolah. Bukan di Satlantas. Karena terkadang banyak pengguna SIM tidak di tes. Bahkan, saya sendiri juga tidak pernah di tes ujian mengemudi ketika membuat SIM. Tinggal memberika uang ke petugas pembuat SIM, kemudian difoto, sidik jari dan selesai. Pulang ke rumah langsung boleh menggunakan kederaan.

3. Penegak hukum WAJIB menjadi model. Mereka adalah contoh bagi masyarakat. Jangan sampai mereka terlihat tidak menggunakan helm di jalan raya. Karena sering saya melihat, jangankan menggunakan helm, bahakan mereka berani menerobos lampu merah. Ini yang dicontohkan. Seharusnya mengajari masyarakat adalah lebih baik dengan memberikan contoh.

4. Adanya aturan penggunaan speed limit (batas kecepatan). Setiap jalan yang dilewati, selalu dipasang batas maksimum kecepatan yang dibolehkan. Penegak hukum juga harus memantau dan menindak tegas para pelanggar. Karena banyak pengguna jalan yang ugal-ugalan dengan mengemudi kenderaan berkecepatan tinggi di jalan-jalan perkotaan atau tempat-tempat keramaian. Ini sangatlah berbahaya bagi pengguna jalan yang lain.

image
Batas Kecepatan maksimum

5. Pemakaian zebra cross bagi pejalan kaki. Ini yang belum maksimal. Banyak pejalan kaki yang ingin menyeberang, langsung menyeberang tanpa lewat zebra cross. Seharusnya para petugas juga memberikan punishment.

6. Pemasangan kamera. Petugas juga bisa memasang kamera di tempat-tempat tertentu untuk mengawasi pengguna jalan. Bila melanggar, petugas bisa memberikan denda. Tanpa adanya petugas di jaln raya, para pengguna jalan akan terbiasa mematuhi aturan, karena adanya kamera pengawas.

image
Kamera pemantau jalan raya

7. Pembatasan jumlah kenderaan setiap daerah. Ini harus pula dipertimbangkan oleh para penguasa daerah tersebut. Karena tanpa adanya batas kederaan lewat aturan pemerintah, maka para produsen akan memasok terus kenderaannya. Jalan semakin sempit. Tidak ada pedestrian (jalan untuk pejalan kaki). Semakin semberaut dan macet. Hal, ini juga mendorong penggunaan sepeda atau jalan kaki. Mendukung kampanye Go Green lagi. Hehehe🙂

image
Kemacetan akibat banyaknya kederaan

Jadi, setiap orang terlibat dalam menjaga aturan, dalam menghormati, dan juga mematuhinya. Setiap orang juga harus menjadi model yang baik bagi yang lain di jalan raya. Bukan cuma tugas pemerintah, tetapi juga tugas kita.

One thought on “Bule: Orang Aceh masih cocok menunggangi binatang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s