Mie Caluk, satu lagi kuliner khas Aceh

image
Mie Caluk di lapangan tugu Darussalam, Banda Aceh.

“Kak Jah, mie caluk saboh pingan, beh?”
“Pakek kuah, Rahmat? ”
“Bek kak. Neuboh bumbu kacang manteng beu le bacut”.

Itulah percakapan yang sering terjadi di kantin sekolah belasan tahun yang lalu. Sejak saya sekolah di tingkat dasar, saya sudah menyukai mie caluk. Selain rasanya yang khas dengan taburan bumbu kacang di atasnya, harganya juga sangat murah sekali untuk anak sekolah. Ketika saya masih di Sekolah Dasar, harganya cuma Rp. 200 saja. Saya masuk sekolah menengah pertama, harganya Rp. 500. Ketika sekolah di tingkat menengah, harganya sudah Rp. 1000.


Diawal-awal saya mengenal mie ini, saya tidak tahu ini adalah mie caluk. Saya sekolah tingkat dasar di Aceh timur. Di sana, orang-orang tidak menyebutnya dengan istilah “mie caluk”. Biasanya cuma bilang mie saja. Penjual mie juga sudah tau mie apa yang dimaksud. Setelah menamatkan sekolah dasar, saya melanjutkan sekolah lanjutan tingkat pertama di Aceh Utara. Di sinilah baru saya tahu bahwa sebutan untuk mie jenis ini adalah mie caluk.

Rupanya di Aceh Utara sebutan mie caluk sangat familiar. Setiap hari pekan (hari pasar), orang sering sekali membeli mie ini. Kalau tanpa bawa pulang satu bungkus mie caluk, rasanya seperti tidak pergi ke hari pekan. Bahkan almarhumah nenek saya juga ikut-ikutan membeli seperti yang lain. Selalu membeli mie caluk setiap pulang dari pasar pekan ini. Mungkin inilah sebabnya saya juga menjadi lebih familiar dengan mie caluk ini.

Asal-muasal mie caluk ini masih belum jelas dari daerah Aceh bagian mana. Sebagian orang mengatakan dari Caleu, daerah kabupaten Pidi. Sebutan awalnya adalah “mie caleu”. Lama-kelamaan disebut oleh banyak orang sebagi mie caluk. Namun, saya sempat berpikir bahwa dikatakan mie caluk dikarenakan cara penjual meletakkan mie ke piring pelanngan. Yaitu dengan cara mengambil mie menggunakan sendok dan agar mienya tidak jatuh, penjual menjepitnya lagi dengan jari jempolnya. “Caluk” artinya mengambil makanan dengan tangan yang langsung menyentuh makanan. Walaupun demikian, belum ada sejarah yang shahih mengenai asal-muasal mie caluk ini.

Mie caluk ini ada 2 jenis. Ada mie caluk yang dibuat dari mie tepung saja. Ada satu lagi dibuat dari mie hun. Jadi, kita tinggal memilih saja kalau memesannya. Apakah mie tepung atau mie hun. Bila suka makan mie dengan menggunakan kuah, tinggal suruh sama penjual untuk menambahkan kuah. Bila ingin merasakan kedua rasa mie tepung dan mie hun, bisa juga dicampur. Namun, ciri khas mie caluk adalah adanya bumbu kacang yang ditaburi diatas mie. Inilah yang membuat penikmat mie caluk ingin tambah lagi dan tambah lagi.

Memasak mie caluk sangatlah berbeda dengan memasak mie Aceh. Mie Aceh adalah mie lidi yang dimasak dengan bumbu khusus dan cara memasak yang sangat khusus. Bahkan sebagian penjual mie Aceh, merahasiakan resep khasnya. Guna untuk menghindari dijiplak resepnyan oleh pesaing. Namun tidaklah dengan mie caluk. Mie caluk, baik mie tepung atau mi hun, dimasak dengan cara yang sangat sederhana sekali. Hanya mengunakan rempah-rempah alami saja, seperti bawang merah, bawang putih, cabe, yang kemudian dijadikan bumbu masak. Mienya dimasak dengan cara digoreng saja dengan bumbu. Untuk kuahnya biasanya dimasak terpisah. Tinggal dibuat kuah tumis dengan bawang, cabe, tomat dan kol. Kemudian bumbu kacang disediakan juga dalam penyajiannya. Begitulah sederhananya dan tidak rumit.

Mie caluk biasanya disajikan dalam acara-acara sederhana. Biasanya sangat cocok sebagai penganan buka puasa di rumah atau di meunasah. Sering sekali untuk buka puasa di rumah, dengan mengundang saudara dan sanak famili lainnya, saya sendiri yang turun tangan untuk memasak mie ini di dapur. Selain itu, ada juga yang menyajikannya pada kenduri perkawinan dan juga kematian. Karena terlalu mudahnya mendapatkan bahan memasak mie ini, sehingga sering disajikan pula tanpa repot pada berbagai moment.

Bagi sebagian orang, mie caluk ini sering juga dijadikan oleh-oleh. Mereka yang melewati jalan Medan-Banda Aceh, biasanya akan mampir di Grong-grong, kabupaten Pidie. Di sinilah tempat terkenalnya mie caluk, dimana banyak sekali penjual mie caluk yang berjejer di pinggir jalan. Penjual biasanya belum membungkusnya. Ketika ada yang pesan, baru kemudian dibungkus. Pembeli bisa membeli dengan harga yang ditentukannya sendiri perbungkus. Bisa membeli dengan harga Rp. 2000 perbungkus atau Rp. 5000 per bungkus. Kemudian penjual akan membungkusnya sesuai dengan harga tersebut. Biasany mie ini dibungkus dengan daun pisang dan pembeli juga mudah membawa pulang sebai oleh-oleh.

Entah kapan Grong-grong dijadikan base campnya mie caluk. Tapi setiap menyebutkan Grong-grong, orang sudah ingat pada mie caluk. Apalagi dengan diberitaknya seorang penjual mie caluk yang mampu naik haji, Grong-grong-pun semakin terkenal sebagai tempat penjualan mie caluk. Mungkin judul filmya tidak hanya “Tukang Bubur Naik Haji” saja, tapi bisa juga “Tukang Mie Caluk Naik Haji”.

Selain tempat khusus di Grong-grong, ada juga tempat lain untuk mendapatkan mie caluk ini. Biasanya pada bulan Ramadhan sering yang dijual di pinggir jalan pada sore hari. Di hari-hari biasa, bagi anak sekolah sangat mudah mendapatkannya di sekolah mereka. Namun, masyarakat umum ada beberapa tempat khusus di kaki lima yang menjualnya. Mereka bisa ditandai dengan adanya meja ukuran sedang tempat diletakkan barang dagangan mereka berupa mie caluk ini.

Walaupun demikian, tetap diakui kalau untuk zaman sekarang, mie caluk susah didapatkan pada hari-hari biasa. Mungkin karena banyak tempat penjaja makanan yang lebih suka menjual mie instant yang jelas tidak sehat dari pada mie caluk ini. Bilapun ada yang menjualnya, maka akan banyak yang datang untuk membeli karena saking langkanya. Tapi, mie caluk tetap digandrungi oleh bayak orang.

Melihat mie caluk sebagai kuliner khasa Aceh, namun eksistensinya mulai kurang, maka perlu adanya pelestarian dengan berbagai cara. Pemerintah sebagai pihak yang punya power dan masyarakat sebagai penggerak, butuh satu kerja sama yang baik untuk menggalakkan kembali kuliner ini. Berbagai program bisa dijalankan kalau mau. Misalnya, acara memecahkan rekor MURI kategori memasak mie calak sejuta piring, menyediakan tempat khusus kuliner Aceh yang menyediakan mie caluk, pembrian modal bagi penjual mie caluk, mendaftarkan mie caluk sebagai makanan khas Aceh pada lembaga terkait. Jangan sampai ketika sudah diambil sama tetangga sebelah baru sadar. Selain itu, bisa juga dilalukan kampanye mie caluk sebagai makanan yang sehat. Upaya-upaya sejenis inilah yang akan membuat mie caluk ini eksis dan dikenal sebagai bagian dari kuliner khas Aceh juga. Bahkan ini pula mendukung program Visit Aceh yang sedang digalakkan sekarang.

Note:
Tulisan ini adalah tugas essay saya pada Sekolah Riset.

9 thoughts on “Mie Caluk, satu lagi kuliner khas Aceh”

    1. Iya…mas🙂 klo ada di Aceh, cobain sekali-kali mie caluk. Mie caluk hargany lebih murah dari pada mie aceh. Lebih simple tapi mantap… apa lagi pas ditaburi bumbu kacang di atasnya…. mmmmnyummny🙂 hehe🙂

      Susahnya klo ada yang ngidam ini tengah malam, gk tau mau cari kemna… hehe🙂

  1. Aku biasanya nyobain ©ÿâ kalo ke aceh ajaa kalau lebaran , mangat that . Uwak ma om âкü
    mpe pusing kalo ksana makan mie mulu hehe. Sehari mpe 5 kali makan mie ºˇώκώЌώκ˚•☺˚=Dº

    1. Hehehe …🙂 sehari berapa kilo bisa habis mie nya ya…klo 5 kali makannya. Bila sekali makan habis sekilo, brarti 5 x bisa habis 5 kilo… hehehe🙂

      Datang-datang lagi deh ke Aceh, biar tak traktir entar..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s