Aceh: Antara Konflik, Tsunami, Syari’at Islam dan Ganja

image

Bagi kebanyakan orang yang non-Aceh, mendengar nama “Aceh” langsung connect pada sesuatu yang identik dengan Aceh. Yaitu, konflik. Kalau bukan konflik, yaa tsunami atau bahkan ada yang lebih parah lagi, yaitu ganja. Seolah-olah orang Aceh itu makanan pokoknya adalah ganja, kehidupannya adalah perang dan ketakutannya ada tsunami. Terlalu berlebih-lebihannya orang luar Aceh menilai Aceh. Yaa mungkin wajar bagi mereka yang belum pernah ke Aceh.

Kalau sudah ada di Aceh, minimal 1 tahun, pandangan terhadap Aceh biasanya lebih terbuka untuk melihat Aceh bagaimana. Bahkan, Aceh ini diakui dunia sebagai laboratorium penelitian. Mereka berlomba-lomba datang ke Aceh untuk melalukan penelitian. Penelitian agama, sosiologi, antopologi, politik, budaya, seni, phsikologi, arsitek, manajemen pemerintahan dan lain-lain. Mereka punya alasan bahwa Aceh itu unik. Banyak hal yang bisa diteliti. Inilah kenapa berbeda pandangan terhadap Aceh dari orang yang tidak pernah ke Aceh dengan orang yang tinggal di Aceh dan bagi mereka yang langsung melakukan penelitian di sini.

Saya ingin menggambarkan apa sebenarnya Aceh. Karena saya sebagai orang Aceh punya sudut pandang sendiri dalam melihat Aceh. Sesuatu yang identik dengan Aceh itulah yang akan saya bahas di sini.

#1. Konflik
Setiap orang Aceh tahu sejarah Aceh. Sejarah kerajaan Aceh dan bagaimana perjuangan bangsa Aceh melawan penjajah melalui kerajaan Aceh yang luasnya seluruh pulau Sumatera. Sejarah ini terus diceritakan turun temurun ke anak cucu. Semasa kecilpun, ketika, masih dalam ayunan, orang tua sering sekali menyanyikan shalawat badar dan berbagai lagu perjuangan serta shalawat perjuangan lainnya. Jadi, mereka tidak pernah ada nyanyian ninak bobok. Mungkin inilah yang menyebabkan orang Aceh terlalu mendewa-dewakah perjuangan masa lalu. Merekapun tahu fakta tentang penyerahan pesawat pertama ke Indonesia. Jadi, mindsetnya tetap Aceh ini adalah independent dan “mandiri”.

image

Ketika konflik mulai ada, semakin kuat mindset masyarakat Aceh akan “keidependenan” itu. Dalam tanda petik. Ini wajar terjadi. Ibarat bola pimpong yang semakin ditekan ke air, maka semakin melawan. Apalagi bagi mereka yang menjadi korban konflik.

Ngomong-ngomong konflik, saya mengakui bahwa waktu itu sangat parah sekali. Terkadang, kami haru bersembunyi sampai-sampai harus menyatu dengan tanah setiap saat mendengar suara tambakan. Bagi laki-laki, sebaiknya tidak boleh ada lagi di rumah bila ada suara tembakan bentrok antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan TNI/Polri. Sering sekali setelah itu, aparat akan melakukan penyisiran dan menyuruh kaum lelaki untuk berbaris dan dipukul satu persatu. Kadang kalau mikir ini, saya tertawa. Masa’ mencari tikus di sawah harus membakar tanaman padi semuanya. Hehehe🙂 Sering pula mereka melakukan pembakaran rumah warga. Di setiap rumah, biasanya sudah ada tempat persembunyian rahasia bila ada suara tembakan. Sama seperti perang khandak pada zaman rasul. Menggali parit-parit dan bersembunyi di sana.

Dibalik itu, ada juga hal yang aneh. Biasanya terdengar sangat menakutkan, tapi ketika lama-kelaman seperti sudah biasa dengan konflik. Walau taruhannya adalah nyawa. Pernah seorang teman bilang bahwa dia rindu suara tembakan bila sudah beberapa hari tidak terdengar. Normalnya, setiap malam jum’at adalah jatahnya dengerin suara tembakan di serangnya markas brimob, polsek, tentara atau sejenis mereka. Setiap malam jum’at. Entah memang sudah terjadwalkan, tapi itulah yang terjadi.

Namun demikian, pada waktu itu, hukum memang benar-benar tidak berlaku. Siapa yang punya senjata, dialah pemenangnya. Jadi, kalau mau jadi hebat harus memilih masuk TNI/Polri atau masuk GAM. Jangan jadi raknya biasa yang berada ditengah-tengah. Menjadi rakyat, harus siap jadi korban.

#2. Tsunami
Di awal-awal usaha damai wakru itu, dengan kehendak Allah swt, tsunami datang. Banyak sekali cerita-cerita tsunami ini dari banyak orang. Namun, bagi sebagian orang, memandang tsunami ini sebagai nikmat. Dengan terjadinya tsunami, isu konflik mulai reda karena isu besar tsunami dimana Aceh adalah daerah yang berdampak paling kritis di dunia waktu itu. Semua mata dunia tertuju ke Aceh. Inilah yang menjadi faktor X terwujudnya perdamaian.

image

Selain itu, tsunami membuat Aceh makin terkenal. Terkenal budayanya, adat istiadat, kebiasaan, karakter masyarakatnya. Aceh semakin membaik. Perekonomian semakin membaik dari sebelumnya. Pariwisata makin terkenal. Kuliner Aceh semakin mendunia, seperti kopi.

Dengan semkin terkenalnya Aceh, ada yang beranggapan bahwa Aceh itu adalah sebuah negara. Bukan bagian dari Indonesia. Apalagi Malaysia masih menganggap seperti itu. Bahkan pada beberapa universitas di Malaysia, ada data pada formulir yang harus diisi bahwa kita berasal dari negara mana. Pilihanya adalah list negara dimana disitu ada negara Indonesia dan juga negara Aceh. Sempat bingung mau conteng yang mana. Aceh atau Indonesia. Hehehe🙂

#3. Syari’at Islam
Ini ada cerita lucu mengenai syari’at islam. Pernah karena saking paranoidnya orang luar Aceh, ada yang pas mulai masuk perbatasan Aceh, mereka sudah siap-siap dengan jilbab, sikat gigi, pakaian lengkap dan segala macam. Sudah seperti masuk ke daerah asing nan aneh. Hehehe🙂 Sebenarnya, Aceh itu biasa ajalah. Sebelum diberlakukan syari’at islam, Aceh ini memang punya aturan dan norma islam yang sebelumnya tidak banyak yang bersifat tertulis. Setelah diberlakukannya syariat islam, baru ada yang tertulis tentang berbagai aturan.

image

Bila anda ingin ke Aceh, anggap saja anda memasuki rumah saudara anda yang ramah. Mereka juga memang welcome. Nah, sebagai tamu, anda hanya menghormati aturan di rumah tersebut. Aturannya adalah menggenakan pakaian yang sopan. Sopan disini maksudnya, kalau anda cowok, yaa jangan pakek celana pendek kalau kemana-mana. Bahkan olah ragapun, pakailah celana training panjang. Kalau anda cewek, gunakan jilbab sebagi penutup kepala. Tidak mestilah yang ribet-ribet. Yang penting kepala tertutup dan rambut tidak tampak. Pakailah pakaian yang longgar, tidak ketat. Boleh pakai celana tapi yang longgar. Namun, ada beberapa daerah yang melarang pakai celana. Untuk amannya sediakan juga rok longgar biasa. Jadi, begitu mudahnya sih kalau mengenai item syariat islam. Tinggal hormati saja aturan masyarakat di sana. Bila anda tidak mengerti, bertanyalah pada orang-orang di sana. Mereka bakalan kasih tau kok. Mereka itu welcome🙂

#4. Ganja
Kalau boleh saya akui, ganja memang hal yang sudah biasa dilihat di Aceh. Saya pertama kali melihatnya ketika masih sekolah tingkat SMP. Waktu itu memang konflik belum memuncak. Orang menanam ganja sudah seperti menanam bunga. Ada yang menanam di dalam pot, pekarangan depan rumah, belakang rumah. Namun tetap tersembunyi. Tidak terang-terangan. Ulama di sana dan juga masyarakat sangat membenci ganja. Kalau ketahuan, tetap ditangkap juga sama aparat.

image

Walau demikian, seperti yang sudah diketahui banyak orang bahwa masyarakat Aceh ketika memasak, memakai ganja sebagi bumbu masak. Saya tidak mau menyangkal pendapat itu. Tapi, mesti diingat, tidak semua orang memasak menggunakan bumbu ganja. Jangan sampai anda berpikir seolah-olah warung-warung nasi di Aceh menggunakan ganja.

Ngomong-ngomong masakan pakek ganja, saya ada cerita nih. Waktu itu cecek saya punya ayam siam yang memang ayam petarung. Waktu itu, ayamnya sudah luka karena bertarung. Bila tidak segera disembelih, maka ayam tersebut akan mati. Akhirnya diputuskanlah untuk disembelih. Ketika dimasak, karena danging ayam petarung keras-keras, susah sekali lunaknya. Jadi, paman saya terpaksa suruh cecek saya ini untuk memasukan beberapa butih biji ganja (bukan daun) biar lunak. Pas kebetulan waktu itu datang tamu ke rumah dan makanlah masakan tersebut. Kemudian, dia langsung pening, kepalanya tersasa berat. Sampai terakhir harus tidur. Tamu ini tanyak apa yang dimasukkan ke makasakan, cecek saya tidak ingat lagi jadi dibilang terus gak ada apa-apa, cuma bumbu biasa. Beberapa saat kemudian, datang teman-teman paman saya yang makan juga di rumah. Mereka bertanya apa di masakan tersebut dipakek ganja? Kemudian cecek saua baru teringat tentang ganja. Akhirnya, ia minta maaf ke saudaranya karena memang ada di taruk ganja tadi. Saudaranya cuma ketawa saja.

Pernah juga saya dan teman-teman menggunakan biji ganja ini. Waktu itu kebetulan sedang ada acara khatamul kitab bajuri. Salah seorang memasukkan beberapa beberap bijinya. Ketika saya makan biasa saja. Tidak sampai pusing. Mungkin tidak banyak biji ganjanya dipakai. Namun, dagingnya lebih lembut dan cepat lunak waktu memasak.

Selain itu, pernah juga makan kuah sop yang dimasak oleh salah seorang sanak famili juga. Kebetulan waktu itu adalah hari meugang. Postingan tentang hari meugang sudah ada beberapa hari yang lalu. Setelah makan kuah sop, terasa kepala ini berat sekali dan pusing. Masakan tetap sangat enak sekali. Kita ingin nambah terus rasanya. Itulah efeknya bila terlalu banyak ditaruk dalam masakan. Selain itu ada juga yang ditaruk ke dalam kopi, dan dodol.

Wah, baru sadar saya. Rupanya masih banyak lagi kisah ganja ini kalau kau di tulis di sini. Macam-macam kisahnya. Tapi dipostingan lain sajalah saya posting, insha allah.

Satu hal yang harus diketahui bahwa tidak semua orang Aceh makek ganja. Tidaklah seperti yang dibayangkan oleh orang luar Aceh. Memang benar kalau ganja kualitas terbaik itu ada di Aceh. Namun yang paling terbaik itu ada di Pulo Aceh. Yaitu kecamatan Pulo Aceh. Pulo Aceh ini adalah 2 pulai kecil, namanya Pulau Nasi dan Pulau Breuh. 30 menit perjalanan dari Banda Aceh dengan menggunakan boat. Walau demikian, orang Aceh itu tidak suka ganja. Apalagi sekarang semakin banyaknya kaum terpelajar, semakin susah ganja dicari. Karena kini masyarakatnya sangat terpelajar.

4 hal yang identik itu juga bukanlah sebuah kebenaran. Banyak hal lain sekarang yang membuat Aceh punya khas sendiri. Berbagai wisata kuliner tersedia selalu dengan banyak variasi. Selain itu gara-gara kopi, Aceh di majalah Tempo dijuluki negeri sejuta warung kopi. Serta masih banyak lagi hal lainnya yang positif.

Nikmati wisata di Aceh, anda akan merasakan sendiri keunikannya sendiri.

Aceh: SAY NO TO DRUG!

18 thoughts on “Aceh: Antara Konflik, Tsunami, Syari’at Islam dan Ganja”

  1. wow…..slm knal ya…hmmm…brrti klo g sengaja kemakan, g dosa kan?hehehe…aku jg ada paman yg tinggal d aceh coz istrinya org aceh..kpn2 aku ksana ahh..ntar info wisata seputar aceh yaa

    1. Klo ke makan gk sengaja…. pura-pura gk tau aja, sis… hehehe🙂
      Nikmati aja.. hehe🙂
      Tp memang biasanya bisa ditandai dengan terasa pusing setelah makan… tp kita pingin lagi makannya walau udah kenyang.. klo udh gitu, biasanya ada di taruk di masakaj tuh…
      Gk usah makan lg🙂

      Iya.. slam knal jg🙂
      Mksh sdh brkunjng ke tmpt yg sederhna ini… hehehe🙂

      1. Hahaha ….🙂 jd nya gk usah konsumsi obat gemuk lagi,,,, apa lg harus ke klinik tong fang… hehehe🙂

        Cukup dengn bbrapa butih biji ganja saja..
        Mungkin, obar penggemuk mengandung ganja jg ya… hehehe🙂

  2. Bang saya mau tanya2..
    1. Cerita ttg TNI yg suka bakar rumah itu beneran?
    2. Sy pernah liat di TV ttg orang2 aceh yg ga suka dg hukum syari’at disana ? Brp persen kira2 antara org aceh yg pro dg yg kontra thd penerapan hukum syari’at. Klo abang termasuk yg pro apa kontra ^_^

    1. 1. Iya…. nmun alhmdlah kami skeluarga tdk menglaminya, namun bbrapa sanak famili kami menglami yg demikian.

      2. Alasan mereka tidk setuju bukan pada syariat Islam, tp yang dipertanyakan kenapa aturan syariat islam harus tertulis padahal orang Aceh Islam semenjak dulu… jd anggapannya seolah-olah orang Aceh harus didekte lagi denan aturan tertulis. Padahal sudah islam tinggal jalani aja aturannya sama-sama. Itu saja kontroversinya. Sekarang ketika udah jalan aturannya, yaa semua terima. Itu hanya kontroverai awal saya ketka awal-awal pemberlakuaannya.

      Itu yang saya tahu, mas🙂

  3. Saya agak-agak merinding bacanya, hehe tapi infonya lengkap dah. Kapan-kapan jadi pengen main ke Aceh juga…

    Oh iya, yang poin 1 soal konflik, kotaku juga ngalamin kok. Orang kalo denger Poso tuh pasti yang ditanya duluan soal rusuh-rusuhnya dulu.
    Kadang sebenernya aku agak sebel kalo ditanyain, “Gimana Poso? Masih rusuh?”
    Rrrrrrrrrr……

    1. Iya…sis🙂

      Klo ngomongn konflik masa lalu mmg ngeri jg… namun ketika damai kayak sekrng, suasananya bebas… bebas sekali bahkan bebas ngeluarin pendapat untuk pemerintah, bebas ngomong apa saja di warung kopi… karena klo dulu ngak ada yang ngomong sembarangan apalagi politik di tempat umum, bisa-bisa langsung tinggal jasad nya saja malam harinya… sekrng alhmdulillah sdh super aman…🙂

      Sama kayak pendduk d poso juga… pasti klo jumpa orng luar ditanya maslah rusuh n konflik dlu… hehe🙂

      Yuk, main sekali-kali ke Aceh… bnyak jg tempt wisatanya, lho… hehe🙂

      1. Aaa, iya nih. Kapan gitu ya mereka berenti nanyain yang soal konflik? Tanyain kuliner apa wisatanya juga kek😉😉

        *masukin ke bucket list*

    1. Hahaha….🙂

      Buleh…buleh, mas… silahkan di rasa… wkwkkw🙂
      Entar klo mabok tanggung sndiri.,. Hehhe🙂

      Untuk sekarang susah dapat….terutama daunnya itu. Orang nggak akan kasih sembarang, mas. Apalagi orang non-aceh. Tapi kalau mau masakannnya, biasanya mereka mau bawa ke warung-warung yang begituan.. hehehe🙂
      Biasanya tuh rame yang makan di situ. Kalau di warung biasa dimasak dengan kari kambing. Tp hanya tempat2 tertentu… pinter-pinter bergaul dulu, bawa mau dibawa ke sana… hehehe🙂

      1. Alhamdulillah aman, mas….🙂 org Aceh welcome kok dgn pndtg… hehehe🙂 dulupun konfliknya jg bkn dgn pndtang…tp pembrontkn krn ketidakpuasan pd pmerinth wkt itu… hehehe🙂

  4. eeemmmaaaa….
    tat na syedara nyoe…
    peu keu han neu ceurita masalah laen mantong..beh peu keu neu jak bukak masalah tamah aneuk bakong lam gule manok..??
    nyan kon bumbu rahasia awak tanyo,hahahaaa…

    tp mantap cit ceurita nyoe..gara2 ku baca peu yang neu tuleh nyoe lon pih ka hawa lom keu gule kameng spesial awak tanyoe..tat treep ka hana ku rasa…
    maklum ta tinggai di nanggroe gob kadang2 cit payah ta mita masakan yang lage ta hawa…
    alahaaaaiiiii….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s