Pemuda Aceh: Mahar Untuk Nikah atau DP Mobil Dulu

image
Mesti istikharah dulu kayaknya. Merid dulu atau mobil dulu

Saya sangat terkejut ketika hitung-hitungan mahar. Ini disebabkan oleh harga emas yang masih berada pada kisaran Rp. 1.500.000 per mayam (3.3 gram). Harga tersebut terkadang naik terkadang turun bergantung pada harga emas dunia. Pernah mencapai angka Rp. 1.700.000 per mayam. Bila dikalkulasikan dengan mahar seorang wanita Aceh, maka anda akan terkejut dengan angka tersebut. Misal, paling tinggi maharnya adalah 25 mayam. 25 mayam ini sudah sangat tinggi sekali walau masih ada yang melebihi itu seperti 30 mayam, 50 mayam atau tinggi lagi bergantung siapanya dan anak siapa. Bisa saja anak seorang ulama pendiri dayah/pesanteren. Ambil saja 25 mayam. Bila harga emas 1 mayam adalah Rp. 1.700.000, maka 25 mayam adalah Rp. 42.500.000. Itulah harga yang harus dipersiapkan untuk menikah seorang wanita.
Sekarang pertayaan saya, berapa harga rata-rata DP (down payment) untuk satu unit mobil? . Kalau anda berkerja di bagian jual beli mobil, anda sudah tahu. Biasanya uang Rp. 50.000.000 sudah bisa bawa pulang satu unit mobil. Bahkan ada juga dengan memberikan DP cuma sebesar Rp.20.000.000, mobil sudah bisa dipakai. Jadi, bila anda mempunyai uang segitu, mau menikah dulu atau ambil mobil dulu? Hehehe🙂 Langsung deh calon pengantinnya jadi galau kalau gini. Hehehe🙂

Masih mau hitung-hitungan lagi?🙂 baiklah. Kita misalkan mahar normal atau yang rata-rata saja, yaitu 15 mayam. Harga emas kita pakai harga rata-rata sajalah, yaitu Rp. 1.500.000 per mayam. Jadi 15 mayam dikalikan Rp. 1.500.000 sama dengan 22.500.000 rupiah. Itu adalah mahar. Belum termasuk pesta dan tetek bengek yang lain.

Rp.22.500.000, masih bisa nggak jadi DP mobil? . Sudah pasti itu DP terkecilnya untuk satu mobil. Jadi, mau mobil duluan atau menikan dulu? Hehehe🙂 . Galau lagi deh si calon pengantinnnya. Hehe🙂

image
Table mahar yang diplesetkan oleh anak muda Aceh. Berdar di media sosial facebook walau keakuratannya dipertanyakan.

Entah sejak kapan fenomena ini berlaku. Mungkin, bahkan tidak bisa lagi disebut fenomena. Dari zaman saya dilahirkan memang sudah begitunya. Hal tersebut membuat laki-laki berjuang mati-matian dalam hujan dan badai untuk bisa kumpulin mahar. Ini mungkin juga punya dampak positif, dimana dengan usaha keras laki-laki membuktikan ke-gentleman-nya dia sendiri pada keluarga istri dan istrinya sendiri. Bahwa ia mampu berjuang. Menunjukkan mampu berkomitment. Selain itu, mahar yang tinggi tersebut merupakan pukulan telak terhadap laki-laki. Bahwa menikah itu tidak gampang. Artinya kalau si laki-laki mau kawin lagi nantinya, ia harus mikir 1001 kali. Belum lagi biaya hidup yang harus ditanggung dengan istri lebih dari satu.

Namun demikian, ada juga yang main “jalan belakang”. Ini berdasarkan info dari beberap sahabat. Laki-laki tetap berusaha keras kumpulin mahar. Namun, ketika harinya sudah mulai dekat, sementara mahar belum cukup, ada juga si wanitanya yang turun tangan. Si wanita lewat “jalan belakang” bantu si pria beberap mayam. Tapi hal yang begini jarang terjadi. Biasanya itu karena sang wanita sayang dan cinta mati sama si pria. Priapun biasanya juga memang benar-benar orang yang baik. Selain itu, ada juga sih yang turun tangan adalah orang tuanya si pria. Tapi tetap juga si pria ini harus berjuang dulu mati-matian. Orang tuapun cuma genapin saja 1 atau 2 mayam saja.

Walau jalan seperti itu terbuka lebar, bagusnya dihindarilah. Nggak gentleman sekali kalau harus seperti itu. Baik dari si wanita atau orang tua sendiri. Nggak keren. Si wanita harusnya jangan jugalah harus seperti itu. Terlalu memanjakan pria kalau begitu.

Bicara tentang mahar, sebenarnya saya sempat iri pada teman-teman saya yang non-Aceh. Terkadang mereka cukup dengan seperangkat alat shalat saja sudah cukup. Cukup dengan musaf Al-qur’an. Bahkan ada juga sebagian cuma hafalan surat Ar-rahman saja. Nah, bicara Ar-rahman, saya teringat adek saya cewek. Pernah kami berdebat masalah ini. Dia bilang kalau abang Rahmat nggak fairlah kalau cuma Ar-rahman sebagai mahar. Saya tanya, “kenapa? “. “Abang Rahmat sudah hafal itu surat, jadi nggak fair”. Hahahaha🙂 Tapi kalau boleh jujur, tidak pernah saya melihat di Aceh menggunakan seperangkat alat shalat sebagai mahar. Jadi, berhasilnya menikah itu adalah menjadi simbol struggle nya seseorang.

Saya sering puji teman-teman yang sudah menikah. Ada salah satu teman, saya bilang, “Jempol untuk kamu! “. Artinya dia sudah bener mampu memilih menikah dulu atau beli mobil dulu. Hehehe🙂

31 thoughts on “Pemuda Aceh: Mahar Untuk Nikah atau DP Mobil Dulu”

  1. wah… ketat juga ya.
    tapi kalau dibilang bahwa menikah itu perjuangan… maka saya salut dengan semua yang menikah di Aceh sana. karena mereka benar-benar menunjukkan perjuangan mereka sejak awal.

    1. Iya…mas…🙂

      Kayaknya tuh alternatif utk menghindri itu adlh merid dgn non Aceh, mas… hehehe🙂 atau bikin sayembara siapa yg mau dinikahin dgn seperangkat alat shalat… hehehe🙂 sayembaranya harus d luar Aceh… hehehe🙂

      1. dulu pas suami aku mau ngelamar, kita kan kelupaan tuh ngebahas mahar🙂 trus aku minta yg aku mau dong dan kebetulan itu gadget yang aku udah pengen2 huahhahahaha * dikeplak * trus dia yang baru jadi mualaf langsung ngomong ” bukannya mahar itu seharusnya semampu si pria untuk ngasih dan wanita menerima, karena kurang lebih mahar itu seperti hadiah dari pihak laki2 ” langsung berasa di sundut huahhahaa. Akhirnya mahar kita hanya mukena aja secara udah tongpes🙂

        PS : yah ini sekedar berbagi cerita aja yaaaaa

      2. yep Matt hehe. Kita nikah sederhana banget loh🙂 kamu bisa baca tulisan aku tentang itu. Ayah aku juga ngomong kalo anak laki2 udah siap menikah dan sudah punya kerjaan, sebaiknya jgn diberatin langkahnya karena mahar semata hehhehe

      3. Bagus juga ya klo seorang Ayah mertua punya cara pandang seperti itu… pingin punya ayah mertua kayak gitu,,,, hehehe🙂

        Matt beruntung dech bisa dpt ayah mertua yang pemikirannya tdk trlalu memberatkan anak muda.,. Hehhe🙂
        Pokoknya salut utk Matt… hehe🙂

  2. busett, sampe ada tabel maharnya gitu.
    hihi
    beli mahar aja dulu. dp mobil pas udah ada istri, biar ada yg selalu nemenin di mobil baru.😀

  3. Hallo Mas Rahmat, kunjungan balik ini… hehe… menarik ada fakta seperti ini, mirip dengan daerah NTT yang maharnya harus dalam bentuk kuda…🙂

    1. Wah….. Kuda ya?? Si cowok nya hrus pelihara kuda sejal awal kayaknya🙂 tp bg pecinta alam kayaknya mendukung tuh biar kuda tidak punah🙂

      Hehe🙂
      Thanks udh kunjng lg🙂

  4. Tapi sekrng ga juga, syawal kemaren teman ane nikah di Pidie, maharnya cuma 3 Mayam. Itu tergantung kepada dua keluarga juga, ya, pinter-pinter ngatur aja. Kalau udah cinta, tanpa mayam pun jadi, he…he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s