Bundo Kanduong: Don’t go home!

Seharusnya saya malam ini sudah selesai “say good bye” pada kota Banda Aceh. Namun, apa hendak dikato, my mom doesn’t let me go home to my kampung (pinjam bahasa dorce). Padahal sudah ngambil langkah pertama terbag ke sana setelah selesai pengiriman aplikasi ADS td. Harus menarik nafas panjang. Apalah daya, sang bunda, sumber segala doa, melarang pulkam a.k.a. pulang kampung.
Kangen sih sebenarnya pada masakannya. Itu alasan paling atas dalam list. She knows what I want. Yaiyalah, khan anaknya sendiri. Hehehe🙂 Memang sih masakan beliau punya khas sendiri. Rasa yang berbeda. Sudah bosan makan masakan dijual di warung, cafe atau di luar-luar gitu. Makanya, sering kalau ada acara BuBar (Buka Puasa Bareng) sama teman-teman agar bisa bawa masakan sendiri aja. Terus, itu masakan dikumpulin dan dibagi-bagi. Jadi, kita bakalan dapat bulan nasi sendiri. Lebih seru. Kalau mengenai lauk, apa saja bolehlah. Selain itu, bisa juga masak bareng. Khan lebih seru. Beda rasanya dari pada makan di warung. Kok jadi ngomingin BuBar ya?. Secara paragraf sudah salah ini. Awal kalimat mulai denan kangen masakan bundo, terus sekarang udah masuk perkasa BuBar. Entahlah, mungkin pikiran saya belum bisa dikontrol. Hehe🙂

My bundo know what I want and what I don’t want. Saya suka ikan more than other. More than Ayam dan berbagai jenis daging yang terhampar di atas permukaan bumi ini. Apapun ikannya. Dulu memang iya, saja juga suka ayam. Sampai sekarang yaa tetap makan juga. Artinya itu adalah pilihan terakhir ketila ikan tak berwujud di hadapan. Sekarang, sering kalau saya pulang khampung, sering sekali beliau tuh udah siapin ikan bakar besar satu. Alkhususan ila Rahmat Hidayat. Begitu juga berbagai jenis masakan ikan lainnya. I like most ikan sambal. Pokoknya ikan lah. Sering pula saya makan tanpa nasi.

image
Sekumpulan jenis ikan entah apapun namanya

Besides that, My bundo jg tau klo saya suka sayur. Jadi, kalau ada saya di rumah, beliau berani masak sayur sebanyak-banyaknya. Karena tahu ada yang makan. Biasanya saya makan begitu saja without nasi. Pokoknya kalau boleh memuji, she is my super mom.

image
Sayur bayam dan wortel without nasi

Yaah… lari lagi dari judulnya. Baiklah. Inilah alasan kenapa my bundo mlarang I pulkam. Beliau bilang, baiknya jangan pulang dulu karena sayang dek pi sendiri di rumah. Trus, dia sebentar lagi final di kampus. Yaa….mau dibilang apa lagi kalau alasannya begitu kuat tak terbantahkan. Finally, I surrender jg.

7 thoughts on “Bundo Kanduong: Don’t go home!”

    1. Iya…. bener tuh… hehe🙂

      Bundo itu bahasa padang..🙂 klo di Aceh sering anaknya manggil “mak” ada juga manggilnya “bunda”, “ummi”🙂

      Thanks sdh brkunjung k tmpt yg sderhana ini.. hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s