Dari mata turun ke gigi (versi pertama)

image
My teeth after dental care

Apakah anda percaya bahwa mata juga bisa memandang banyak hal? Beguti pula dengan mata saya. Bukah hanya mata dengan mata salig memandang, tapi mata juga bisa memandang gigi. Seharusnya setiap kali kita berbicara dengan orang, cukup hanya memandang mata saja. Artinya kita mendengarnya, memperhatikannya dan merespon dengan bahasa non verbal. Namun, hal itu lain terjadi dengan saya. Saya tidak cuma memandang mata ke mata, tetapi juga turun ke gigi.
Memang sedkit aneh mungkin. Tapi, saya tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu terlahir. Setiap orang yang saya kenal, menyebutkan namanya saja, saya sudah bisa membayangkan wajah begitu pula giginya. Setiap mereka punya sesuatu yang unik yang bisa diingat pada giginya. Mungkin, bila saja mereka menutup seluruh wajah dan hanya menampakkan giginya saja, I khow who s/he is.

Sebenarnya sih sedikit seru dengan begini. Berbagai ciri khas sahabat dapat kita tangkap. Selain mereka punya karakter yang berbeda-beda, juga mereka punya bentuk gigi yang unik dan berbeda. Karakter mereka memiliki daya tarik sendiri, begitu pula gigi mereka memiliki juga daya taril sendiri. Coba perhatikan orang-orang di sekeliling anda, mereka pasti punya gigi yang berbeda antara satu sama lain. Tetap ada perbdaannya.

Saya tidak tahu apakah bentul gigi seseorang punya hubungan dengan karakter kepribadian seseorang. Mungkin, ini bisa menjadi ide baku saya dalam membuat research proposal pada Sekolah Riset. Variabel karakter dan variabel bentuk gigi. Memang agak sedikit terdengar aneh sih. Namun hal iu bukan masalah, khan? Bisa diteliti. Nanti hasilnya kita uji dengan menggunakan t-test atau uji T. Sehingga kita tahu apakah 2 variabel tersebut punya korelasi positif ataukah negatif.

Kok tiba-tiba saya ngomongin riset, sih. Hehehe🙂 mungkin karena sudah menjadi possesion people pada riset ya? Hehe🙂 Inilah efek sampingnya kalau baru-baru ikut kursus riset. Apa saja bisa diteliti. Entah apapun itu. Tapi, tidak apa-apalha. Setidaknya semangat untuk jadi periset semakin terpelihara, walau sampai hari ini belumpun selesai resarch proposal yang jadi tuga untuk dikumpulin. Hehe🙂

Baiklah, sebagai penutup, saya ingin membuat quote sendiri. “Tidak selalu dari mata turun ke hati, tapi bisa juga dari gigi turun ke hati”

12 thoughts on “Dari mata turun ke gigi (versi pertama)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s