Modifikasi Bahasa Aceh-Indonesia yang Gokil

image
Ilustrasi saja (sumber: pontraitindonesia)

“Apa qe liat-liat? ”
“Aqu palak li sama qe”
“Da utang qe sama aqu?”
“Apa qe tengok-tengok sini? ”
“Lucu li”
“Palak li”
“Ntah apa ntah”
“Sok li qe”
“Jangan reman qe”
“Kek na ni? ”
“Mana da kek tu”
“Kek na jugak?”
“Cak qu liat lu”

Tahukah anda arti kalimat-kalimat tersebut? Bagi anda anak muda Aceh yang sedikit alay, mungkin anda tahu maknanya. Hehehe🙂 Tapi tidak bagi yang non-Aceh. Seharunsya ini adalah bahasa Indonesia, tapi sudah disisipkan bahasa Aceh ke dalamnya. Wajar sekali sangat membingungkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Aceh.

Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman baik Aceh tau non-Aceh melalukan diskusi. Suatu ketika ada seorang teman Aceh yang ngomong dengan bahasa tidak jelas itu. Bahasa Aceh bukan. Bahasa indonesia juga bukan. Bercampur-campur tidak jelas. Ia mengatakan “aqu palak li kek gini”. Dalam hati, saya tertawa terbahak-bahak. Saya berpikir kenapa dia ngomong dengan bahasa modofikasi bem aneh dan tidak jelas itu. Kenapa nggak ngomong bahasa Aceh saja atau bahasa Indonesia yang benar-benar jelas. Sampai-sampai, salah seorang teman saya yang non-Aceh tanya ke saya, “apa maksud dia? Apa yang dia bilang? Apa itu ‘palak’? “. Saya terpaksa harus menjelaskan bahasa alien itu. Bahwa palak itu artinya “marah atau tidak suka”. Terpaksa deh jadi translator bahasa alien ini.

Seharusnya kalau mau ngomong bahasa Indoneaia, ngomonginnya yang bener. Jangan dicampur-campur. Kalau orang yang baru belajar, okelah bisa dimaklumi. Tapi ini bahasa sering dipakai oleh anak muda yang sedikit “alay”. Saya terkadang dalam hati selalu tertawa kita ada beberapa teman yang ngomong kayak gitu. Sehingga terkadang tidak lagi fokus pada konteks yamg dia bicarakan. Hehehe🙂 Bahkan pernah sekali waktu saya ejek dengan nada bercanda, dia cuma ketawa cengar-cengir saja. Hehe🙂

Yang paling serunya adalah ketika jenis mahkluk ini berkumpul. Saya sebagai teman mereka mencoba memposisikan diri sebagai observer saja. Asyik lihatnya dan jadi tontonan menarik terkadang. Hehe🙂 Mereka dengan serunya ngomongin apa saja dengan bahasa modifikasi tersebut.

Tidak mampu saya mencari alasan kenapa mereka bicara dengan bahasa itu. Padahal diantara mereka itu sudah sarjana, lho. Mungkin nilai bahasa Indonesianya juga bagus. Kalau masih anak muda ABG, okelah. Tapi ini mah sudah dewasa. Masa gitu ngomongnya. Mungkin itu juga karena pengaruh lingkungannya. Saya bisa memaklumi. Namun, setidaknya sebagi orang yang berpendidikan kenapa tidak kita bicara dengan bahasa Indonesia yang baik. Mampu memberi contoh pada yang lain juga.

Saya tidak tahu apakah fenomena ini juga terjadi di daerah lain. Butuh pengkajian yang dalam lagi kayaknya. Sambil travelling ke daerah lain, tidak salah juga untuk jadi observer bahasa. Profesi baru jadinya. Hehehe🙂

26 thoughts on “Modifikasi Bahasa Aceh-Indonesia yang Gokil”

    1. Hahaha🙂

      Iya, brader🙂 smg aja jd bunga yg enak d pandang.. jgn sampai jadi benalu pada bunga yang sudah ada….. bisa meruka bunga yg sudah ada… hehehe🙂

  1. Saya malah nggak bingung. Bahasa spt diatas sdh ada lebih dr 25 tahun yg lalu saat say msh duduk di bangku SMP. Bahasa tsb terkompilasi akibat bercampurnya logat aceh dgn lainnya. Pertanyaan, dimana itu terlahir? Maka saya menjawab bahwa bahasa itu terlahir di Kota Sabang yang notabene nya Penduduk Sabang terdiri dr banyak suku dan daerah, mulai dr Aceh hingga Papua.

  2. Wah, wah, udah jd pengamat bahasa ni mat. Tapi seumur hidup saya sbg pguna bhsa aceh bcampur indo lbh kurang kayak di atas, saya gk ngerasa itu bhs alay. Itu kan udah lamaaaa sekali, dari jaman saya MIN udah spt itu. Menurut hemat saya, itu lebih ke gaya bicara org aceh. Karena kita punya bahasa lain di smping bhs indo, asimilasi keduanya mghasilkan gaya khas bhs indonesia yg masih berbau kedaerahan. Wajar saja kalau menurut saya. Tiap daerah pasti gaya ngomongnya beda kan, meskipun judulnya masih sama2 menggunakan bhs indonesia..nah, yang ini, aceh punya gaya🙂
    Sbg catatan, palak itu setau saya juga dikenal di medan kok, org sumatera bagian utara tau lah kosa kata itu. Bukan monopoli org aceh.

    1. Hahahaha🙂

      Klo maslah “palak” saya hrus menerjmahkan ke orng sumatera utara lg wkt itu…. hehehe🙂 bkn pengamat, mia… tp luju aja. Hehehe🙂

      Mksh udh brkunjung, mia🙂

  3. Sebenarnya itu bukan bahasa “gaul” atau alay, tapi bahasa daerah2 tertentu di aceh. Sama kaya kata2 lain misalnya raon-raon, atret, dll. Anda sendiri menggunakan kata “bener”, “deh”, dll yg juga bukan bahasa indonesia. Tidak ada yg salah dg penggunaan kata2 tsb, krn memang guna bahasa untuk dipahami. Kata2 palak dsb hanya kurang terkenal aja dibanding lo, gue, deh, dll.

  4. Hal seperti ini kan terjadi di mana-mana gak hanya di Aceh apalagi di dunia Socmed.
    Suka sebel kalau ada yang pasang status atau nge-twit dengan bahasa anehnya…sebel karena saya berusaha keras untuk mengerti dan kadang gagal, he he he

    1. Iya ….🙂

      Smga saja dunia ini tidak mampu lg dkuasai species alay… hehehe🙂

      Ayo… slamatkan bumi kita…!! Wkwkwk🙂

      Salm knal🙂
      Mksh udh brkungjung🙂

  5. Menurut saya bahasa seperti ini malah harus di pertahanankan, karena itu ciri khas kita awak aceh. liat aja orang-orang laen di indonesia juga di campur bahasa daerahnya dengan bahasa indo. lagian bahasa seperti itu juga hanya dipakai di dalam bahasa percakapan sesama kawan, sedang saat formal mereka kan pakai bahasa indo EYD.

    just my 2 cents.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s