Ilmu laduni, Wahdatul Wujud dan Dunia Tasawuf

image
Acara bedah buku Wahdatul Wujud di D'Rodya Cafe

Kemarin saya dan beberapa teman menghadiri salah satu acara bedah buku. Buku yang dibedah adalah “Wahdatul Wujud” karangan bang Kamaruzzaman Bustamam Ahmad a.k.a. KBA. Pembahasannya sangat seru sekali. Karena ini juga pertama kali di Aceh ada yang membahas tentang itu setelah kejadian pembunuhan Syeikh Hamzah Fansuri zaman dulu. Bagi saya, membaca judulnya saja, sudah sedikit terlalu berani bang KBA menulis topik ini.
Kali ini sebenarnya, saya tidak membahasa buku tersebut. Mungkin bila ada waktu insha allah bisa saya tulis resensi bukunya pada kategori book review.

Ada sesuatu yang menarik terjadi di meja saya duduk bersama teman-teman. Di saat selesai acaranya, saya iseng bertanya,

“Bang Amran, kalau ada orang yang memberi ilmu laduni, mau terima nggak? ” saya bertanya secara spontan saja.

Bang Amran sesaat terkejut dengan pertanyaan saya. Diam sebentar.
“Yaa gimana ya? Kalau saya belum berani” katanya.
“Kenapa? ” saya mendesak ingin tahu.
“Saya belum siap. Masih terlalu banyak dosa” jawabnya.

Saya sendiri sebagai orang awam, masih terlalu dini untuk ngomongin topik ini. Butuh banyak belajar. Walau demikian, harus diakui bahwa memang ada orang-orang yang sudah pada tingkatan tersebut. Tapi hal tersebut tidak nampak di permukaan. Bersifat underground. Sama seperti ajarah Wahdatul Wujud, diajarkan pada kalangan tertentu saja.

Bahasan-bahasan seperti itu, bagi orang awam tidak masuk di akal. Selalu bertentang dengan pemikiran rasional. Namun, tetap diakui memang adanya dan exist di Aceh. Dikalangan santripun, biasanya ketika mereka sudah mencapai makam tertentu, baru bisa mendapatkan surah semacam itu.

Biasanya mereka sudah duluan menguasai tauhid dengan pemahaman mendalam. Bukan hanya i’tikad 50 saja, namun pembahasa surah-surah asma’, af’al dan banyak lagi. Sang guru juga melihat, apakah bisa diberikan surah pembahasan tertentu.

Hal yang sering ditakutkan adalah terlalu cepat orang awam memvonis sesat. Apalagi orang yang hanya belajar fiqih saja tanpa mempelajari tasawuf. Untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh seseorang yang memakai sepatu, maka kita juga harus memasukkan kaki kita ke sepatunya. Begitu pula, untuk melihat dunia tasawuf, maka harus memasukan diri dalam dunia tersebut. Tidak bisa hanya membatasi diri pada ilmu fiqih saja.

Bagi orang-orang yang tidak mengalami pengalaman spritual, maka akan berkata tidak mungkin. Bagi mereka yang sering mengalami berbagai hal yang tidak masuk diakal, mereka percaya bahwa ada sesuatu yang hidden yang hanya Allah swt yang tahu. Sudah memasuki duni meta (pinjam bahasa bang KBA). Jadi, seharunya kita semua membuka mata dan bertanyalah pada ahlinya sebelum men-judge seseorang sesat atau tidak.

Yang paling aneh adalah ada beberapa kejadian seperti di Bireun waktu itu. Mereka membakar rumah orang yang mereka vonis dukun santet. Belumpun terbukti dan main hakim sendiri. Si pembakarpun tanpa tahupun apa itu sesat. Jangankan itu ditanya, tapi shalatpun jarang dilakukan.

Jadi, harunya kita bertanya dan selalu belajar pada ahlinya. Ingin tahu fiqih, belajar pada ahli fiqih bukan ahli teknik. Ingin tahu tasawuf, belajarlah pada guru tasawuf. Rasul selalu bilang, “bertanyalah pada ahlinya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s