Dinikmati Itu Nikmat

image
One of my turbans

Di setiap doa yang dipanjatkan, terhitung jumlah bilangan permintaan pada sang khalik. Namun, sadar tidak sadar, kita jarang sekali tersadarkan bahwa nikmat itu sudah selalu ada dan tak pernah terhitungkan. Allah swt bilang, “seandainya ummatku menjadikan seluruh ranting pohon di dunia ini sebagai pena, dan seluruh air laut sebagai tinta, sungguh tidak sanggup menulis nikmatku”. Kalimat ini sering sekali kita ucapkan pada pindato muhadharah setiap malam jum’at di dayah biasanya.

Nikmat diberikannya sehat. Nikmat disembuhakn penyakit, walau hanya pilek saja. Nikmat bisa berkumpul dengan teman-teman. Nikmat, nikmat, dan berbagai macam nikmat lagi. Sayang sekali, kita jarang merenung nikmat itu semua. Padahal, Allah swt bilang “Barang siapa yang bersyukur, maka akan kutambahkan lagi nikmat padanya”.

Syukur itulah kuncinya sekarang. Bagaimana mau Allah kabulkan permintaan, yang sudah ada saja tidak pernah kita menganggap nikmat Allah. Memang benar bahwa hak Allah yang menentukan segalanya. Tapi, tidakkah kita sadar?

“Nikmat tuhan manakah yang engkau dustakan?” . Berkali-kali Allah swt ucapkan dalam surah Ar-rahman. Ada yang menghitungnya sampai 33 kali dalam surah tersebut. *saya belum menghitungnya*.

Mestinya, kita menikmati nikmat itu semua untuk merasakan nikmatnya nikmat. Disitulah letak syukurnya kita. Selain semakin kita mendekat pada sang khalik. Ubudiyah yang frekuensinya semakin tinggi adalah cara kita menunjukkan kesyukuran. Bukan hanya kewajiban.

Hari ini juga merupakan nikmat bagi saya juga. Tadi pagi saya berdoa agar acara BukBer (buka puasa bareng) bisa berjalan lancar. Alhamdulillah bisa selesai dengan damai dan aman.🙂 Karena kebetulan saya sama Muhib yang handle itu acara sedikit binggung sih. Karena peserta belum banyak positive. Terus, ada yang cancel dan ada yang telat confirm. Belum lagi duit tidak ada ditangan untuk pesan nasi. Finally, semuanya bisa selesai secara adat. Sistemnya jadinya saya sama Muhib jadi kontraktor proyek dulu untuk tanggung pesanan semua. And thanks juga untuk Ria yang udah mau merepotin keluarganya. Hehehe🙂

Seharusnya saya pakek foto bukber tadi di sini ya? Lupa nggak bawa alat apapun tadi. Biar sama Ria sajalah fotonya. Hehe🙂

Sebagai penutup, satu ayat surah Ar-Rahman:
“Fabiayyiala irabbikuma tukadziban”

Oya, by the way, saya minta maaf bagi follower blog ini. Karena saya jarang blogwalking ke blog teman-teman. Dalam beberapa hari ini saya sedang fokus pada beberapa agenda spritual. Mohon dimaklumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s