5 days of becoming a master of question

image
Giving question (depositphoto)

Hari selasa tertanggal 20 Agustus adalah hari pertama kesibukan dimulai. Pagi jam 8 harus sudah ada di tempat dan pulang jam 6 sore selama 5 hari. Hari ini adalah hari terakhir. Realy needs to take a rest.
Selama 5 hari tersebut, terkadang harus dinikmati. Yaa, alhamdulillah saya sangat menikmatinya. I think, I have written about how to menikmat last few days on this blog. I enjoyed the program of matrikulasi (s.o. introduction of university gitu ). Because of curiousity, I became a ‘master of question’ *kalimat yang diucapkan ria untuk saya di Tidak Naik Ketawa Club. Hehehe🙂

Ada beberapa alasan sih sebenarnya yang membuat saya mencoba bertanya banyak hal. Actually, it was not a box of questions. Tapi, yaa.. saya bertanya yang memang belum tahu dan harus tahu. Terkadang saya mencoba untuk memaksakan diri untuk berpikir ala cowok matre biar ide pertanyaan itu keluar terkadang.

Begini. Sebenarnya, itu ada kisahnya kenapa saya suka bertanya seperti menuntut untuk memuaskan keingintahuan sepuas-puasnya. Dulu, ketika saya baru masuk SMA, saya ikut les komputer. Saya sudah lupa berapa biaya les pada waktu itu. Yang pastinya sedikit mahal. Saya ambil program belajar Microsoft Office dan Internet + mengetik 10 jari. Waktu itu, sebelum berangkat menghadiri hari pertama les, kakak ipar saya mewanti-wanti saya bahwa saya harus berpikir tentang biaya mahal untuk ikut kursus itu mahal dan saya harus menuntut tentor di sana untuk membuat saya bisa. Caranya adalah bertanya segalanya bila tidak tahu dan jangan pernah ditahan karena kita bayar mahal mereka. Jangan takut bertanya. Kalimat tersebut sampai sekarang masih melekat di kepala saya. Thanks you kak Zahra🙂

Jadi, pikiran matre itu rupanya banyak juga manfaatnya bila dipakai. Sering sekali di setiap saya ikut traning, seminar, kursus atau apapun acara, saya selalu berpikir begitu. Terutama sekali yang berbayar. Rp. 500.000 yang saya keluarin, harus sesuai dan setara dengan ilmu yang harus saya dapatkan. Begitu pula dengan biaya 1 juta atau bahkan 5 juta. Maka, terkadang semakin ganas tuntutan saya untuk bisa dapat ilmu segitu. Agay sedikit jahat rasanya ya? Hehehe🙂 Semakin mahal bayarannya semakin ganar saya menuntut orang yang ngajarin saya untuk mampua membuat saya pinter. Efek buruknya, terkadang tidak malu lagi untuk tidak mengindahkan etika. Sebenarnya tidak boleh juga sampai segitu. Makanya, saya selalu berdoa agar setiap kata apapun yang keluar dari mulut, dimudahkan untuk dimengerti dan tidak menyinggung orang lain. Itu salah satu doa yang saya minta selalu sama Allah swt.

Memang sih, kalau untuk belajar bersama kawan, bila tanpa dipungut biaya a.k.a free, saya tidak berani juga bergebu-gebu menuntut kawan untuk ngajarin saya sampai benar-benar bisa. Namun, terkadang saya tidak sadar dan terus bertanya berbagai hal seperti menuntut kawan untuk bikin saya mengerti 100%. Di saat saya sadar, segera saya stop pertanyaan tersebut. Cuma, enaknya belajar sama kawan adalah kita tahu kelemahan kita di mana dan kita bisa belajar lagi dan bisa saling sharing dan diskusi dengan kawan secara bebas.

Nah, sydrome master of question ini kambuh lagi di kelas matrikulasi. Karena ini program adalah seperti program pengenalan kampus gitu. Bagaimana cara belajar. Apa yang harus dipelajari. Dan banyak hal lain dijelaskan di kelas matrikulasi tersebut. Kesempatan untuk saya bertanya sedalam mungkin. So, it’s time to be a master of question again. Hehe🙂

Walau demikian, saya sangat bersyukur juga dapat wejengan dari pak Prof. Syamsul Rizal ketika jadi pemateri waktu itu. Beliau bilang, “kalau kalian pinter bertanya dan sangat kritis, boleh-boleh saja. Cuma kalian harus pinter-pinter juga dan harus sopan”. Karena katanya, manusia itu tidak semua hal tahu walau ia sekelas profesor sekalipun. Bila ia menjawab dengan jawaban yang tidak jelas atau mengelak menjawab dengan bahasa yang di setel abis, bagusnya jangan ditanya lagi. Langsung stop pertanyaan itu. Artinya ia tidak bisa menjawan pertanyaan tersebut. Jadi, jangan sampai kita tekan untuk membuat ia malu. Karena tidak ada gunanya juga. Ia jadi malu dan kita juga tidak dapat jawaban. Jadi, sama-sama rugi. Penjelasan inilah salah satu yang saya dapatkan selama 5 hari tersebut. It inspires me.

Artinya, saya harus belajar lebih banyak bagaimana cara bertanya yang baik dan sopan. Tidak menyinggung orang lain dan sama-sama senang.

4 thoughts on “5 days of becoming a master of question”

  1. Prof. Samsul bijak sekali ya. Benar kata beliau, kadang ada juga orang-orang yg mencari celah melalui pertanyaan, yang intinya hanya ingin menjatuhkan, klo yg ditanya tdk bisa menjawab😦 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s