Muraja’ah depends on situation

Alhamdulillah semenjak memulai hafalan Qur’an pada bulan Ramadhan barusan, sekarang sudah mulai jauh dari halaman pertama. However, untuk menjaganya haruslah melakukan muraja’ah (pengulangan). Bila tidak, menurut beberapa orang mengatakan akan menghilangkan hafalan secara pelan-pelan.

image
Surah Al-baqarah

Dari berbagai sumber yang saya dapatkan, ada banyak cara untuk melakukan muraja’ah. Ada yang mencari waktu khusus, ada juga yang melakukannya sambil menjalankan aktivitas yang lain. Selain itu, ada juga yang muraja’ah hafalannya pada waktu shalat. Namun, beberapa pilihan tersebut tidak bisa saya praktikkan semuanya. Tidak semuanya cocok untuk saya.
Kalau untuk mencari waktu khusus, boleh saja. Tapi terkadang tidak selalu ada waktu tersebut. Sambilan melakukan aktivitas lain agak sedikit susah bagi saya. Saya butuh konsentrasi dan tidak boleh diganggu dan harus fokus. Jadi, sedikit susah bila ini saya terapkan. Pilihan terakhir adalah ketika dalam shalat. Ini yang saya suka.

Muraja’ah di waktu shalat rasanya lebih serius bagi saya. Di saat kita menghadap Allah dengan persiapan harus benar-benar mantang dalam mempersembahkan bacaan yang super sempurna, khusus untuk sang khalik. Rasanya itu bener-bener dahsyat. Hati benar-benar nyaman dan puas. Apalagi shalat wajib yang 5 waktu. Namun demikian harus dilihat juga siapa dibelakang kita, bila jadi imam. Banyak orang yang tidak memperhatikannya.

Bagi saya, mempertimbangkan makmum itu penting. Tidak semua makmum pernah ke arab dan shalat berlama-lama. Kalau yang jadi makmumnya adalah keluarga; ummi, abi, dan adek-adek, atau keluarga yang lain seperti nenek saya terkadang, it’s okey. Hehehe🙂 Walaupun bacaan ayatnya panjang-panjang mereka mengerti kalau saya lagi muraja’ah. Hal demikian tidak bisa diterapkan bila makmum adalah orang umum. Seperti di meunasah atau mushalla yang sudah biasa dengan bacaan surah yang pendek.

Jalan amannya adalah sewaktu shalat sunat. Shalat sunat juga menjadi waktu muraja’ah favorit saya. Tidak ada yang melarang dan marah bila berlama-lama baca ayatnya. Suka-suka kita, apalagi sendiri. Ada yang bilang bahwa shalat tahajud adalah waktu yang baik untuk muraja’ah hafalan. Bagi hafidz yang sudah memiliki hafalan yang banyak, mereka biasanya bangun tahajud lebih awal karena untuk muraja’ah semua hafalannya. Luar biasa juga ya perjuangannya. Wajar saja bagi Allah swt meninggikan derajat mereka. Bahkan bisa memberikan syafa’at untuk 10 orang di hari akhir. Subhanallah.

Kemampuan untuk muraja’ah semua hafalan bukanlah kemampuan sembarangan. Butuh selalu doa agar hafalan kita melekat ke dalam dada selama-lamanya. Tanpa daya upaya dari sang maha daya, sungguh tidak ada kemampuan itu bagi kita sebagai manusia yang sering lupa.

Wallahu ‘alam. Semoga postingan ini bermanfaat juga bagi yang sedang belajar menghafal al-qur’an. Sebagai hamba yang sedang belajar, selalu saya butuh bimbingan dari yang sudah bisa.

*catatan ketika pulang kampung lebaran kemarin

2 thoughts on “Muraja’ah depends on situation”

  1. a good startup. Semangat trus bg.. in syaaAllah dg keyakinan dan usaha..semua akan trasa mudah…
    bg saya pribadi, murajaah hafalan itu menjadi kesenangan tersendiri.. ada kepuasan tertentu yg tidak kta dapati dari aktivitas lainnya.. mengawali murajaah tu yg susah tp sekali sudah murajaah rasanya gak mau berhenti hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s