Prof. Darni M. Daud di Mata Saya

Beberapa hari yang lalu, Prof. Dardi M. Daud ditahan oleh jaksa atas dugaan terlibat kasus korupsi. Bagi banyak orang yang telah mengonsumsi media massa, hanya mengenalnya lewat berita-berita seperti itu saja. Bahkan sebelumnya tidak pernah mengenalnya, tetapi semenjak ada berita-berita sekarang baru kenal.

image
Prof. Darni M. Daud (theglobejournal)

Sempat terkejut sewaktu salah seorang teman saya memperlihatkan foto penahanan beliau yang dilakukan oleh jaksa lewat handphonenya. Padahal baru kemarin beliau mengajar di ruang kelas. Seperti tidak percaya. Walau memang dari sebelumnya kasus ini masih belum selesai. Saya juga mengikuti berita ini sebelumnya.
Sebagai seorang yang pernah menjadi mahasiswa beliau, saya juga punya sisi sendiri melihat beliau. Dalam mengajar, beliau sangat sesuai dengan titel ‘professor’ yang disandangkannya. Diskusi dan tanya jawab antara mahasiswa dan dosen adalah gayanya dalam mengajar. Asyiknya dengan cara beliau ini, mahasiswa bebas bertanya apa saja yang berhubungan dengan topik dan beliaupun memberikan kesempatan kepada siapapun yang mau memberikan komentar, sanggahan dan jawaban. Ia juga mampu membawa diskusi-diskusi seperti itu pada tujuan topik yang sedang dibahas.

Di ruang kami, beliau mengajar matakuliah “Phylosopy of education”. Hari terakhir beliau masuk, sebelum ditahan jaksa, saya benar-benar puas dengan jawaban beliau terhadap pertanyaan saya. Cara beliau menjawab mampu memberikan pemahaman besar bagi saya.

Waktu itu, saya bertanya, “what for I study this subject by sitting here for 2 hours every week? Do I really need this subject to study? Because I have ablity in teaching and I can teach well. Even without I study this subject, I’m good at teaching. Would you like to give a logic reason why I should study this subject and an example why this subject is need to study? “. Pertanyaan yang menantang inilah yang saya tanyakan. Beliau dengan senyum mencoba melempar pertanyaan ini ke beberapa teman saya yang lain. Diantara mereka ada yang menjawab. Kemudian, beliau baru menjawab pertayaan tersebut dengan cara memberikan beberapa contoh dan memberikan wawasan baru sehingga pertanyaan tersebut terjawab sendirinya. This is what I like. I said in my hear, “you are deserve to get ‘professor'”.

Pernah pada pertemuan pertama, beliau menyinggung tentang kasus yang di alaminya saat ini. Waktu itu ia mengatakan bahwa seharusnya perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan hanya fokus pada pengembangan pendidikan saja. Tidak perlu ada kaitannya dengan keuangan. Terutama sekali rektor. Biarlah ada satu lembaga atau pihak tertentu yang hanya mengurusi keuangan saja. Sementara rektor hanya fokus pada pendidikan, perkembangan program-program pendidikan dan lain-lain. Kalau semuanya harus ditangani sama rektor, terkadang rektor harus menanda tangani berbagai dokumen keuangan yang sebenarnya ia tidak tahu banyak. Akibatnya, yaa salah satunya apa yang beliau alami saat ini.

Untuk kalimat yang beliau ucapkan di atas tersebut, saya beluam berani men’judge’ mana yang benar dan salah. Biarlah hukum yang memutuskan. Cuma, satu hal yang saya lihat adalah bahwa beliau memang profesional dan sesuai dengan titel yang disandangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s