Awal Kehancuran Usaha

image
Work in proggress (pinjam dari http://www.percivalconstantine.com)

Menangani berbagai hal butuh yang namanya seni. Terutama sekali bagi institusi besar yang sudah punya nama. Hal inilah yang sering tidak disadari oleh ownernya terkadang. Makanya, tujuan dari pendirian institusi itu harus benar-benar jelas dan tidak salah.
Ada beberapa institusi yang lebih mementingkan profit dari pada manfaat institusi itu sendiri terhadap masyarakat. Sehingga dengan hanya berpikir keuntungan saja, menundakan masalah kecil yang seharusnya segera diselesaikan. Bila ini tidak diselesaikan dengan segera, maka kehancuran secara perlahan mulai mendekat. Ibarat rumah yang sudah dibagun, namun ada masalah kecil seperti adanya bekas air bekas tsunami yang mengenai dinding. Lama-lama ini akan mebuat bangunan runtuh. Begitu pula dengan institusi.

Dalam sebuah institusi, hal yang harus jelas adalah job description. Setiap karyawan punya pekerjaan yang harus ia lakukan. Sudah pasti punya perbedaan tugas karena beda posisi. Jadi, semua karyawan berjalan on the track. Namun, bila salah satu karyawan tidak pinter menangani tugasnya, atau tidak hadir, maka itu pasti berakibat pada bagian yang lain. Hal itu akan menganggu keseluruhan kinerja institusi tersebut. Itulah yang saya sering lihat.

Apalagi disaat seorang karyawan tidak hadir dan tugasnya harus ditangani oleh orang lain. Ini akan mengganggu tugas orang lain juga. Mereka punya tugas sendiri untuk difokuskan. Tapi karena harus menambahkan tugas orang lain untuk dikerjakan, maka hal tersebut sangat menganggu sekali. Saya yakin bahwa pembaca blog ini pasti pernah mengalami hal yang demikian.

Bagi saya, kalau begini kejadiannya, sudah pasti KESETIAN itu sudah hilang. Saya punya tugas sendiri untuk saya fokuskan. Sangat menganggu tugas saya bila saat sedang mengerjakannnya, tiba-tiba saya harus menangani yang lain. Biasanya saya langsung menolak untuk menangani tugas orang lain. Lain halnya bila saya punya waktu kosong. Ataupun kalau memang saya ingin membantu, tidaklah berhubungan dengan pekerjaan tersebut, tetapi di luar itu sebagai teman saja.

Kejadian seperti inilah yang bagi sebagian orang merepresentative dengan kalimat,

“Sudah dikasih hati, diminta jatung lagi”.

Kalimat tersebut mungkin terlalu kejam, tetapi itulah fakta. Itulah kenyataan dingkungan kerja, kehidupan, dan pertemanan.

Saya percaya anda juga punya pengalaman yang serupa. Coba dishare🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s