Menghadap Ust. Rum di jalur Gaza

“Door, door, door!!! ”
“Bummmm!! ”
“Trettttt….tretttt….!!! ”

Suara mesin pembunuh ini kerap terdengar di telinga ketika melewati jalan ini. Bau mesiu tercium jelas terkadang. Tidak banyak manusia yang lalu-lalang di sini. Yang terlihat hanya hutan blantara di sisi kiri dan kanan jalan. Sampai akhirnya saya dan seorang teman bisa sampai di tempat tujuan.

image
Di depan pintu masuk (botak bukan karena kena sanksi ya🙂 )

Itulah suasana sehari-hari di Dayah Tinggi Al-Qur’an, Japakeh, Mata Ie, Aceh Besar. Setelah memasuki jalan kecil dari asrama raider, beberapa meter kemudian, terlihat langsung bangunan khas dayah pengajian. Ada beberapa bale dan bilik penginapan bagi yang tinggal di situ. Terdapat juga satu kolam ikan. Menurut ust. Rum, kolam ikan ini khusus untuk santri yang tidak kasih setoran harian minimal, yaitu satu halaman al-qur’an. Maka mereka akan disuruh masuk ke kolam ikan ini. Hehehe🙂 Sanksi lainnya adalah di botakin kepalanya. Hehehe🙂


Diawal-awal tiba di sana, saya teringat konflik mendengar suara tembakan tersebut. Salah satu santri mengatakan itu sedang ada latihan di lapangan tembak. Mereka sudah biasa dengan suara itu dan juga tidak setiap hari mereka latihan. Namun, suasana di sana memang bener-bener sangat kondusif untuk belajar. Pemandangan alaminya itu yang nggak tahan. Alam penggunungan terlihat jelas ketika berdiri di atas bale.

image
Salah satu bale yang dipakai untuk shalat dan kasih setoran hafalan

Fasilitas bagi santri juga sangat bagus. Kamar mandi bersih, dapur juga bersih. Tempat tidur mewah serta mereka juga gratis tinggal di sana. Gratis makan dan segalanya gratis. Namun, bila tidak kasih setoran hafalan minimal 1 halaman perhari, sanksinya itu bos. Hehehe🙂 Tapi wajar jugalah dengan fasilitas seperti itu, rasanya tidak ada alasan untuk tidak bisa menghafal. Bahkan, rata-rata mereka bisa kasih setoran harian sampai 2 lembar (4 halaman) atau lebih.

JUMPA UST. RUM

Jadwal setoran hafalan adalah setiap hari senin-jum’at. Pagi setelah subuh dan setelah ashar. Setelah subuh setoran hafalan baru. Setelah ashar muraja’ah (ngulang) setoran tadi pagi. Khusus hari sabtu setelah subuh, jadwal muraja’ah seluruh hafalan.

image
Ust. Muhammad Rum, Lc, MA (sumber: facebook beliau)

Nah, saya sama seorang teman ini, alhamdulillah akhirnya bisa juga menghadap ust. Rum. Sebenarnya kami sudah berjumpa di rumah beliau langsung untuk bilang bahwa kami ingin ust. Rum yang bimbing hafalan. Terus beliau nyuruh kami untuk datang ke Dayah Tinggi Al-qur’an ini. Katanya biar lebih semangat. Karena di sini banyak santri yang hafalannya ada yang sudah 10 juz, jalan 20 juz dan ada juga yang baru 4 juz.

Saat itu, dengan semangat 45, saya sudah bersiap-siap mau kasih setoran surah a-baqarah. Namun, teng….teng….teng….. *seperti di film kartun* Usd. Rum nyuruh ngafal juz 30 dulu. Katanya, khan nggak lucu udah hafal sampai juz 10 misalnya, terus juz 30 nya ngak hafal. Entar kata orang, belajar dimana? . Hehe🙂 iya juga ya?🙂 Finally, yaa ngak jadi deh.😦 saya harus ngafal semua juz 30 dulu baru boleh yang lain. Mulai dari surah an-naba’.

However, kami di suruh setor surah Al-fatihah saja dulu. Hehehe🙂 Di sinilah saya baru tahu, rupanya banyak juga para imam di daerah kita, Aceh, yang salah membaca surah ini. Kesalahannya adalah pada bacaan mad. Mad nya terlalu panjang melebih 2 harkat. Padahal semuanya 2 harkat kecuali pada mad aritslissukn dan kalimat “waladdhaaaaaaaliiin”. Terus beliau juga bercerita bahwa ketika beliau belajar di madinah. Ada satu syech yang bahkan menyurh muridnya untuk membaca al-fatihah sampai 50 kali, sampai bener-bener betul. Padahal orang arab, lho. Namun, banyak juga yang salah.

Finally, sekarang lagi siapin hafalan dulu. Setor lagi deh minggu ini insha allah. Tapi, rencana saya hafalan kemarin tetap dijaga dan dimuraja’ah dulu biar nggak hilang. Entar sambung lagi setelah selesai juz 30. Insha allah.

*Ust. Muhammad Rum, Lc adalah hafidz lulusan madinah dan memiliki ijazah silsilah hafalan qur’annya sampai ke rasululah saw.

6 thoughts on “Menghadap Ust. Rum di jalur Gaza”

    1. Itu artinya seseorang belajar dari seorang syech, syech tersebut belajar dari syech sebelumnya, bersambung terus sampai urutannya ke sahabat-sahabat dan juga rasul. Jadi, bukan belajar sendiri tanpa guru. Bukan belajar dari buku atau kaset seperti otodidak… Rasul pernah bilang “Seseorang yang Belajar suatu ilmu tanpa guru, maka ia telah belajar pada syaithan yang selalu memperdayainya”.

      Gitu maksudnya🙂
      Thanks udh mampir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s