Tercengang

image

Alhamdulillah, hari ini saya bisa nyetor hafalan lagi sama my qur’an mentor. Siapa lagi kalau bukan ust. Rum.🙂 Rupanya saya semakin mengenal lagi kemampuan beliau ketika tiba di Dayah Tinggi Tahfidz Al-qur’an tadi di Japakeh, Mata Ie, Aceh Besar tadi sore.
Setelah shalat ashar, saya bisa tiba dengan selamat setelah melewati ‘jalur gaza’. Menunggu beberapa saat sambil memperbaiki hafalan dan kemudian baru tiba ust. Rum. Segera para santri berbondong-bondong naik ke bale (rangkak; tempat shalat dan ngaji di dayah Aceh). Mereka mencium tangan beliau dan langsung duduk di samping beliau untuk menyetor hafalan. Sampai sejauh ini, sangat normal sekali terlihat.

Namun, sejurus kemudian santri lain mencium tanggan beliau dan langsung meneyetor hafalan. Berikutnya datang lagi santri yang lain dan melakukan hal yang sama. Anda bisa bayangkan ada tiga orang sudah mengelilingi beliau. Mereka terus membaca ayat-ayat suci itu, sementara ust. Rum terus mendengar dan memperbaiki bila salah bacaan, mad dan makhrajul huruf, serta menyuruh mereka mengulang kembali. Bagi saya, sebagai orang awam, ini merupakan pemandangan yang sangat tidak lazim dan subhannallah sekali. Beliau mampu mengawal mereka sekalian. Pernah juga ust. Rum mengatakan kepada saya bahwa terkadang seting kalau hari sabtu, para santri bisa sampai 6 atau sepuluh langsung sekali duduk. Hari sabtu adalah muraja’ah semua hafalan. Jadi, sangat lama sekali bila haru one by one, makanya sekalian terus nyetornya.

Setelah shalat magrib, beliau mengajak saya untuk makan bersama. Di dapur sudah ada ikan bakar yang sangat mengoda selera, lengkap dengan bumbu kecapnya. “Wow”, saya berseru dalam hati, “this is my favorite fish”. Hehehe🙂 Di satu meja besar saya makan bersama Ust. Rum dan juga santri yang lain dengan asyiknya. Hehe🙂

image
Ilustrasi ikan bakar (sumber: dok pribadi minggu kemarin)

Pemandangan lain yang menakjubkan terjadi lagi di depan mata saya. Santri yang baru datang dan belum kasih setoran hafalan, segera mencium tangan beliau yang sedang makan dan langsung duduk menghadap beliau di meja untuk menyetor hafalan. Sementara santri lain ada yang berada di samping beliau nyetor hafalannya. “Kapan saya bisa seperti itu, ya? Bisa menyimak hafalan orang lain dan tahu salahnya dimana dan tahu cara memperbaikinya? ” pertanyaan itu muncul di dalam hati ini. Setelah si santri selesai kewajiban makan, baru mereka makan bersama kami. “Subhanallah”, hati daya bener nyaman sekali berada di lingkungan seperti ini.

image

Setelah hujan deras tadi mulai reda, baru saya pamit sama ust. Rum dan pulang. Hari yang samgat indah sekali. Alhamdulillah.

Fabiayyiala irabbikuma tukadziban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s