Bangkai yang berjalan

image
Berjalan (sumber: hiddenskils.blogspot.com)

Dalam beberapa hari ini terasa kehilangan motivasi yang bertubi-tubi. Tidak seperti biasanya. Biasanya, bilapuh semangat hilang, paling hanya satu hari saja. Itu sudah maksimal sekali. Keesokan harinya, langsung dech semangat 45 dengan power 100 cc.
Namun, beberapa hari ini memang aneh bila diperhatikan. Langkah demi langkah hanya jasad yang berpindah sepertinya. Seperti “bangkai yang berjalan”. Kalimat penuh makna yang mendalam yang diucapkan oleh Imam Al-Ghazali (kalau tidak salah) dalam kitab Ihya Ulumuddin. Inilah yang saya takutkan. Kalimat inilah yang sangat saya hindari.

Coba kita lihat surat Al-An’am ayat 122.

ﺃَﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﺄَﺣْﻴَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﺑِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
ﻛَﻤَﻦْ ﻣَﺜَﻠُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﺎﺭِﺝٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺯُﻳِّﻦَ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
Apakah sama orang yang mati, lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya (Qur’an) yang ia bawa berjalan di tengah manusia, dengan orang yang berada dalam berbagai kegelapan di mana ia tidak bisa keluar darinya (kegelapan-kegelapan itu). Demikianlah,
diperlihatkan baik pada orang-orang kafir itu apa saja yang mereka lakukan.

Di saat seseorang mulai menolak kebenaran Al-Quran dengan tanpa mengamalkannya, maka itulah yang disebut sebagai bangkai berjalan. Artinya kebusukan dari setiap tindak tanduk manusia bener-bener bisa menyengat sekali. Wajar saja bila ada orang menyebutnya sebagai sampah masyarakat.

By the way, bagi saya sendiri, hafalan al-qur’an bisa menjadi barometer dalam menilai diri akan banyaknya dosa. Karena sesuai dengan kisah antara imam syafie yang dikenal sudah mampu menghafal al-qur’an sejak kecil, yang berkonsultasi dengan gurunya waqi’. Waktu itu sang imam bertanya kenapa ia sering menggalami kehilangan hafalan. Waqi’ menyusuh beliau untuk menghindari dosa. Ilmu adalah cahaya. Sementara dosa adalah kegelapan. Maka, hindarilah dosa.

Teringat pula apa yang Ust. Yusuf Mansur bilang. “Bila engkau susah menghafal quran, maka perbanyaklah istighfar. Nah, inilah yang sayang katakan sebagi barometer. Disaat hafalan banyak yang hilang, maka kemungkinan besar disebabkan banyaknya dosa. Jadi, kita seperti sudah mencoba melakukan metamorfosis menjadi bangkai berjalan.

Semoga saya, anda sebagai pembaca dan keluarga kita tidak masuk ke dalam golongan bangkai berjalan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s