Online Jadi Pilihan Saya

Malam ini, saya merenung kembali. Banyak hal yang terjadi dan pastinya sudah terlewati semuanya. Di tengah malam, tepat malam jum’at masuk 6 desember 2013, pukul 00:05 adalah puncak perenungan dan keputusan besar bagi saya.

image
Bersama teman-teman trader forex

Awalnya saya telah melakukan SWOT (Streight, Weakness, Oppurtunity, dan Threat). Hasilnya memang sudah jelas bahwa pilihan karier saya lebih banyak pada sumber online. Namun, keputusan besar belum pernah saya lakulan. Terasa takut terkadang. Selain itu ada ikatan kerja secara offline juga sedikit menjadi pertimbangan. Tetapi untuk kali ini, insha allah, saya akan fokus pada pekrjaan online.

Ada beberapa hal yang saya pertimbangkan sehingga saya memutuskan untuk lebih besar fokus ke pekerjaan online. Diantaranya:

1. Saya memiliki keterampilan dalam dunia online seperti Trading Forex dan juga bloging. Keterampilan ini bisa saya kembangkan lagi, insha allah.

2. Saya memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi digital.

3. Dalam berhubungan dengan manusia, terutama pekerjaan, saya sangat sulit untuk berkerja di bawah tekanan.

4. Saya tidak nyaman menerima pemberian dari orang lain, terutama dalam bentuk uang. Saya merasa sendiri seolah-olah si pemberi mengambil power saya.

5. Relasi saya dengan orang lain sebagai teman kerja, terkadang dianggap salah arti atau terlalu berlebihan. Padahal dalam batas normal.

6. Pekerjaan offline yang selama ini saya lakukan, sebenarnya, saya sangat menikmatinya, tetapi terkadang tidak ada penghargaan yang berarti terkadang. Walau sebenarnya saya tidak gila hormat dan penghargaan, tetapi setidaknya ada perubahan hidup yang berarti.

7. Dengan pekerjaan online, saya punya banyak waktu dengan teman, keluarga, bisa belajar ngaji lagi, bisa bersosialisasi dengan banyak orang; tetangga, dan juga orang-orang baru.

8. Berhubungan dengan manusia seperti berjalan diatas seutas tali yang di kiri kanannya ada pegangang. Namun, saya takut untuk memegang pegangan tersebut karena saya tidak tahu apakah pegangang tersebut kuat atau tidak. Dan bisa saja itu akan membuat saya jatuh. Padahal saya harus berjalan. Karena manusia punya perasaan dan tidak semua manusia mau mempertimbangkan perasaannya apakah benar atau salah dalam memvonis sesuatu. Dan malam ini, saya menjadi korban dari vonis bersalah itu. But I just let it go. Yang saya inginkan adalah hubungan baik dengan setiap orang. Dimanapun jumpa, kapanpun, kita bisa bersapa tanpa ada kemarahan.

image
Ya Allah, tuntunlah hamba, ya rabb.

Bagi saya, kalau memang saya salah, saya minta maaf. Namun, saya tidak pernah punya niat untul berbuat salah. Itu saja. Setiap saat dan bagi setiap orang yang saya kenal, saya ingin selalu ada ikatan silaturrahim. Bila ada kesalahpahaman, segera harus selesai.

Namun yang sangat sedih adalah mendengar kalimat “tidak ada kemaafan bila tidak mengaku”. Selalu yang saya pegang teguh adalah jangan ada dosa antar manusia. Sehingga karena syaratnya harus mengaku hal yang tidak saya lakukan dengan niat buruk, maka saya merasa terpaka mengaku agar bisa mendapatkan kemaafan. Karena yang saya harapkan adalah kemaafan.

Postingan kali ini seperti curhat saja. Jadi, sebaiknya tidak saya share di group facebook. Namun, bila anda sudah membacanya, semoga menjadi pelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s