Triple zero si rupiah

image
Tampilan salah satu pasangan mata uang di pasar valas

Triple zero adalah istilah yang dipakai oleh pelaku pasar uang atau pasar modal, yaitu ketika harga menunjukkan angka akhir berupa tiga nol. Bila sudah mencapai angka tersebut, maka dianggao sebagai angka phisikologis. Saat ini nilai tukar rupiah telah mencapai 12.000 IDR per 1 USD. Angka tersebut punya banyak pengaruh besar, terutama di sektor ril. Sangat ditakutkan bila tidak ada tindakan apapun dari pihak yang punya otoritas seperti bank central kita, Bank Indonesia dan pemerintah. Sangat bertolak belakanh dengan pemberitaan sebelumnya di beberapa media online dimana pemerintah mengatakan masih aman bila 1 USD adalah 11 ribu rupiah.
Bagi penulis, hal itu sangatlah tidak aman. Karena semakin tinggi nilai tukar rupiah terhadap dollar, maka akan memperparah kehidupan ekonomi di banyak sektor. Diantaranya:

1. Meningkatnya harga barang.
Segala kebutuhan hidup, terutama sembako yang masih menggunakan produksi luar negeri, dan jasa serta barang impor, maka akan mengalami kenaikan juga. Ini akan memperparah kehidupan masyarakat dan semakin melarat.

2. Meningkatnya harga produksi.
Produksi dalam negeri yang masih banyak menggunakan bahan baku impor, maka akan mengalami kenaikan juga. Sehingga, mau tidak mau produsen harus menjual produknya dengan nilai lebih tinggi dari sebelumnya. Secara sitematis, hal ini mengakibatkan lemahnya industri domestik.

3. Meningkatnya beban utang dalam negeri.
Bagi pemerintah dan juga pihak swasta, hutang luar negeri yang harus dibayar dengan dollar tersebut akan mengalami peningkatan juga. Saat ditukarkan dengan nilai rupiah, maka otomatis kenaikan nilai tukar sangat terasa.

4. Kekhawatiran investor asing.
Untuk memutuskan berinvestasi, para investor juga menilai keadaan ekonomi indonesia secara makro. Bila nilai tukar rupiah yang masih belum stabil, maka investor memilih menarik kembali uangnya dari negara tersebut.

3. Beban APBN semakin berat.
Untuk menahan laju inflasi yang semakin tinggi, terutama pasca kenaikan BBM, maka mau tidak mau pemerintah menaikkan suku bunga (yield) obligasi dan akibatnya APBN mengalami defisit yang ditutupi dengan utang khususnya penerbitan obligasi.

4. Neraca perdagangan mengalami defisit.
Bila ekspor dan impor tidak seimbang bahkan minus, maka ini berakibat fatal. Secara sistematis akan menekan ekonomi dalam negeri. Contoh nyatanya adalah produksi minyak mentah dan BBM yang jauh melampaui ekspor. Konsumsi dalam negeri yang terus meningkat tidak diimbagi dengan peningkatan jumlah produksi. Misalnya pertamina, hanya dibiarkan stagnan pada kapasitas produksi sebanyak 1,2 juta barel perhari. Mau tidak mau pemerintah terpaksa mengimpor untuk mencukupi kebutuhan domestic. Sementara di negara tetangga, seperti Singapura dan Thailand yang konsumsi domestiknya tidak tinggi, serta bukan negara penghasil minya, punya kapasitas kilang yang jauh lebih besar dari Indonesia.

Apa konstribusi kita untuk memperbaiki keadaan ekonomi?

Untuk membuat gerakan besar dalam menstabilkan nilai tukar ini butuh kebijakan pihak yang memiliki otoritas, seperti Bank Indonesia sebagi bank sentral negara dan juga pemerintah. Namun, sebagai daerah yang punya otonomi khusus seperti Aceh juga punya peran baik tingkat pemerintah daerah dan juga penduduknya. Yaitu:

1. Memilih produk dalam negeri.
Kampanye untuk mencintai produk dalam negeri sebenarnya sudah lama digaung-gaungkan. Namun, penulis sudah sangat jarang mendengarnya lagi. Padahal dengan kita memilih produk yang diciptakan oleh anak negeri, maka akan menstimulus kapasitas produksi yang lebih banyak. Hal ini akan menstimulus peningkatan tenaga kerja. Pengangguran bisa menjadi berkurang.

2. Menciptakan lapangan kerja.
Kalau pemerintah mengerti sistematika ekonomi, maka akan sangat mudah sekali menurunkan angka pengangguran. Salah satunya adalah memberikan kemudahan bagi pemilik usaha atau calon pengusaha untuk memperoleh modal pengembagan usaha dimana pemerintah juga aturan dengan syarat harus menambah tenaga kerja dengan jumlah yang sudah diatur’ misalnya. Selain itu bisa juga dengan menumbuhkan usaha baru di sektor yang belum disentuh oleh pemerintah. Dimana pemerintah bisa memberikan pelatihan sebelumnya kepada usahawan.
Serta masih banyak lagi hal teknis lain bila pemerintah serius untuk mengurangi angka pengangguran.

3. Fokus lebih pada pemanfaatan SDM dari pada SDA.
Di negara-negara maju, sperti Canada, fokus pemerintah bukan pada ‘menjual’ Sumber Daya Alam. Pemerintah lebih fokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia. Sumber Daya Alam bisa habis, tapi tidak Sumber Daya Manusia. Menitik beratkan pada panjualan skill atau jasa, bisa menghasilkan juga income negara yang lebih besar dari pada hanya ‘menjual’ alam. Seprti sektor pendidikan yang mampu menghasilkan industri-industri baru untuk masa mendatang, jasa keuangan dan lainnya.

4. Menarik investor asing dan wisatawan.
Ini adalah salah satu peran lain yang penting. Namun, melihat dan mempertimbahkan kembali apa sebenarnya yang membuat investor atau wisatawan datang dan betah. Pakailah kacamata atau sudut pandang mereka. Menurut hemat penulis, yang telah berkecimpung dalam dunia pasar uang, 2 hal penting yang investor hindari adalah perang dan korupsi. Tempat dimana perang berkecamuka adalah bukan tempat yang bagus untuk berinvestasi. Selain itu, tempat dimana korupsi tumbuh subur akan tidak menguntungkan untuk berinvrstasi.

Alhamdulillah Aceh telah melewati masa-masa konflik yang telah makan korban sangat banyak. Kita sekarang sudah hidup dalam keadaan yang damai. Namun, korupsi, suap-menyuap dan sejenisnya baik sekala besar dan kecil, masih terjadi di Aceh. Bahkan Aceh masuk urutan yang paling parah.

Maka, tugas kita bersama juga dalam menstabilkan ekonomi negara ini. Dengan bersama-sama mengambil peran sesuai otoritas pekerjaan masing-masing. Sebagai pendidik, punya peran untuk membuka pola pikir anak didik untuk lebih produktif. Sebagai karyawan, bisa berperan dalam memanfaatkan pemakaian produk-produk dalam negeri. Sebagai pengusaha, bisa menggunakan lebih banyak tenaga kerja lokal sehingga sedikit banyaknya telah memantu mengurangi angka pengangguran. Jadi, marilah kita mengambil peran masing-masing.

Ini adalah tulisan opini saya yang sudah pernah saya kirim ke harian lokal Serambi Indonesia.

By Rahmat Hidayat
Sekretaris Aceh Forex Community (AFC)
Banda Aceh

2 thoughts on “Triple zero si rupiah”

  1. Pemilihan tema yang menarik. Saya ingin tahu latar belakang kenapa tulisan ini diajukan ke harian Serambi Indonesia dalam artian segmen pembaca mana yang ingin disasar oleh Rahmat sebagai penulisnya. Oh iya, salam kenal, saya Azhar, juga tergabung dalam Gaminong Blogger…🙂

    1. Oya, salam kebal juga…🙂 sbenarnya ini cocok untuk media nasional, tapi saya mau coba tembus harian lokal dulu. Pingn tahu gimana tingkat penulisan yang mereka inginkan. Apakah yang low? Middle? Atau high kelas? Hehehe …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s