Amil zakat, seorang marketing akhirat

image

Berhubungan dengan manusia adalah hal yang semestinya. Tidak bisa tidak untuk menghindari manusia. Karena kita adalah juga makhluk sosial. Selalu membutuhkan manusia. Adalah tantangan besar bagi mereka yang berprofesi di bidang-bidang yang mau tidak mau harus selalu berurusan dengan makhluk bernama manusia. Seperti pedangan di pasar, penjual asuransi, para pelaku multi level marketing, front office, tukang parkir, dan lain-lain.
Profesi yang berhubungan dengan manusia yang saya salut adalah para amil zakat. Bayangin coba, amil harus mampu melakukan pendekatan yang baik dengan si wajib zakat untuk mengeluarkan isi kantong mereka sejumlah hak zakat. Sudah pasti ada banyak sekali karakter orang yang ia jumpai. Ada yang suka menghindar, ada yang ogah-ogahan, ada yang memang rajin bayar zakatnya dan ada yang harus dipaksaiin dengan pemotongan zakat di setiap gaji bulanan. Macam-macam orang dengar berbagai macam pula karakternya. Karena manusia punya hati, maka harus selalu menjaga hatinya jangan sampai tersinggung.

Saya teringat 2 buku best seller karya Dale Carnegie dan Florence. Florence memaparkan 4 jenis karkater manusia; melankolis, plegmatis, koleris, dan sanguin. Sementara di bukunya Dale Carnegie, memaparkan cara melakukan persuasive dengan orang lain. Keterampilan berkomunikasi sosial inilah yang harus saya miliki seandainya saya jadi amil zakat.

Bagaimanapun juga, seorang amil zakat melebihi marketing biasa. Melebihi sales asuransi, MLM, atau penjual barang. Ia bener-bener harus tahan emosi ketika ada orang yang marah-marah saat zakatnya diambil. Ia harus berani berhadapan dengan orang-orang pemilik usaha yang berbagai macam karakter untuk mengampanyekan kewajiban zakat pada sumber perniagaan. Ia juga harus mampu menjelaskan kewajiban zakat pada para petani yang menolak membayar zakatnya.

Argh ….!! Terlalu ribet pekerjaan ini, sepertinya. Namun, sangatlah mulia sekali tugas amil zakat di lapangan. Mengedukasi masyarakat adalah bukan hal yang mudah. Bagi sebagian orang yang tidak tahu kewajiban zakatnya, maka harus dibuka pola pikirnya dengan baik dan dikampanyekan akan pentingnya membayar zakat.

Hal yang paling menyenangkan adalah melihat senyuman penerima zakat. Senyum sumringah dari penerima beasiswa, senyum bersahaja dari fakir miskin, senyum kecil dari anak yatim yang tak mampu dan senyum ikhlas dari mereka yang kekurangan. Sungguh semuanya telah terbayar. Belum lagi di akhirat. Pahala yang melimpah bagi pelaku profesi mulia ini. Subhanallah.

wpid-untuk-diunggah%2B-%2BCopy.png

4 thoughts on “Amil zakat, seorang marketing akhirat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s