Aturan wisata alam dan cagar budaya

image
Ketika melakukan wisata lintas agama bersama para anggota Gam Inong Blogger. (Foto di dalam kuil Hindu Palani Andawer, Banda Aceh)

Keledai saja tidak pernah jatuh ke lobang yang sama. Adalah kalimat yang mengajarkan kita untuk selalu belajar dari pengalaman dan selalu benar-benar mengamalkan pelajaran dari pengalaman tersebut.
Hari ini adalah kedua kalinya saya melihat dan mengalami sendiri penolakan kunjungan wisata. Pertama adalah pada saat saya dan teman-teman pergi ke ke puncak Linge, Aceh Besar. Setelah bertemu pamplet dengan tulisan “selamat datang. Dilarang menginap bagi pengunjung”. Tulisannya ditulis dengan front horor dan berwarna merah. Hehehe🙂 Namun, ditengah hutan menujuk puncak, kami berjumpa dengan salah seorang penduduk yang melarang kami dan mengatakan bahwa sekarang sudah dilarang dan juga tidak boleh membawa perempuan ikut serta. Finally, mission is failled. Terakhir kami menuju Pucok Krueng.

image
Di dalam Museum Tsunami, Banda Aceh

Nah, hari ini adalah kedua kalinya ditolak berkunjung. Tujuan pertama tadi pagi adalah ke kampung Pande untuk mengujungi makam raja-raja. Namun, beberapa teman langsung melompat pagar dan berlomba-lomba mengambil gambar melalu kamera mereka. Salah seorang teman yang bertugas memandu telah menghubungi petugas penjaga makam (tadi adalah pak kepala desa). Ketika petugas ini datang, ia sangat marah sekali karena melihat sikap beberapa teman kami yang menerobos makam lewat pagar. Mission is failled. Finally, kami memutuskan wisata lintas agama dengan mengunjungi makam ulama dan juga kuil hindu. Nanti bila ada waktu, insha allah saya posting tentang wisata lintas agama ini.

image
Makam Sultanah Nahrisyah di Bayu, Aceh Utara. 100 meter setelah komplek makam Malikul Saleh.

Berdasarkan beberapa pengalaman saya berwisata alam dan cagar budaya, ada banyak hal yang harus dipatuhi sebenarnya, Lebaran kemarin saya juga berziarah ke makam Malikul Saleh di Bayu, Aceh Utara, bersama keluarga. Waktu itu mission was complete.

image
Jangan melanggar aturan

Berikut ini adalah hal yang mesti diperhatikan ketika melakukan wisata alam dan cagar budaya. Yaitu:

#1. Anda adalah pendatang, maka hormatilah penduduk setempat.
Bila mau mengikuti aturan yang berlaku di situ, maka penduduk juga nyaman. Prinsipnya adalah “anda sopan, kami segan”. Ketika anda sopan dan menghargai serta menghormati penduduk, maka semua sumber informasi apapun bakalan dapat banyak. Bahkan rahasia ataupun konflik tersembunyipun, kita bisa dapat infonya.

#2. Bila bertanya arah jalan, maka turunlah dari kenderaan dan matikan saja kederaan anda.
Hal ini sangat sensitif sekali bagi penduduk, apalagi di Aceh. Dianggap tidak sopan bila bertanya masih duduk santai di atas kenderaan. Bahkan bisa saja mereka menujukkan arah jalan yang salah dengan sengaja. Maka, berhati-hatilah. Sangat baik juga anda bertanya sambil membeli sesuatu seperti rokok atau permen pada penjaga kios misalnya, bila bertanya pada mereka.

#3. Jangan ambil gambar tanpa izin.
Mintalah izin bila ingin mengambil foto baik tempat-tempat sejarah atau atau ritual. Terutama sekali bila anda menziarahi makam. Mintalah izin pada penjaganya. Biasanya mereka mengizinkan. Namun ada juga tempat-tempay yang memang dilarang mengambil gambar. Nampak sekali anda seperti seorang fotografer amatiran bila tidak meminta izin. Para fotografer profesional selalu meminta izin bila mengambil gambar.

#4. Jangan menaiki pagar tempat sejarah.
Tempat sejarah segaja diberikan pagar untuk pemugaran dan terjaga dengan baik. Kecuali pemakaman umum. Artinya untuk masuk harus lewat pintu pagar seperti kisah Abu Nawas bukan spiderman yang langsung terbang. Hehe🙂

#5. Berilah salam kepada penghuni kubur.
Khusus ziarah kubur baik ulama atau raja-raja, maka ikutilah adab berpergian ke kuburan. Ucapkanlah salam, “Assalamualaikum ya ahlil kubur”. Hal ini selalu diajarkan oleh orang tua kita.

#6. Sesuaikan dengan tempat yang dituju.
Bahasa arabnya, “wadha’ syaich fil makani” atau isitilah bahasa inggris, “put the right man on the right placa”. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya. Sesuaikanlah pakaian, cara komunikasi, dan juga aturan yang ada ditempat tersebut. Bila berpergian ke hutan, pakailah pakaian yang menutup lengan, siapin jaket dan juga P3K. Bila ke pantai, cari tahulah kapan pantai itu ditutup. Jangan sampai ketika sudah waktunya ditutup, masih di situ juga. Bawalah kaca mata, pakaian ganti walaupun anda tidak mandi dan perlengkapan ibadah. Karena tidak semua tempat punya kebersihan dan perlengkapan di tempat ibadah..

#7. Bertanyalah.
Setiap tidakan apapun yang mau dilakukan, maka bertanyalah bisa atau tidaknya. Aturannya gimana dan sebagainya.

#8. Berjabat-tanganlah.
Berjabat tanganlah dengan orang yang anda jumpai. Terutama orang-orag yang punya otoritas di tempat tersebut. Seperti pentugas atau kepala desa dan juga orang-orang yang terkait di situ. Ingat!! Sentuhan punya power untuk meng-influence orang lawan bicara. Dale Canegie aja

image
Nikmatilah setiap moment apapun

Capek sekali bila berpergian ke tempat yang dituju tapi tidak terwujud. Hanya gara-gara kita tidak tahu aturannya, semua persiapan jadi tidak berguna. Maka lakukanlah tips di atas dengan baik.

Semoga bermanfaat.

5 thoughts on “Aturan wisata alam dan cagar budaya”

  1. Sangat bermanfaat buat kita2 yang hobi ke berbagai tempat dan mengambil gambar.
    Setiap tips yang diuraikan memng sering dilaksanakan, namun dengan membaca pengalaman abg tentunya mengingatkan saya untk tetap melaksanakan tata tertb dlam bepergian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s