Pentingnya pengulangan dalam menghafal al-qur’an

 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat ikut salah satu seminar tentang dahsyatnya otak penghafal al-quran. Saya lupa judul aslinya. Namun, temanya adalah hifidz qur’an. Seminar ini diadakan oleh anak-anak kedokteran Universitas Syiah Kuala. Jadi, dalam kepala saya langsung berpikir untuk mengetahui sudut pada dunia kedokteran dalam menghafal Al-Qur’an.
Salah seorang pemateri dengan latar belakang spesialis otak/saraf, ia sangat menekankan pada repeatation (pengulangan). Menurutnya, otak manusia itu bisa mengingat terus dengan adanya ‘tringger’ atau pengulangan. Otak punya yang namanya short term memory dan juga long term. Short term hanya untuk ingatan jangka pendek saja. Long term adalah kebalikannya. Nah, kalau menggunakan ‘trigger’, maka orang tersebut harus mengalami suatu kejadian yang membuat dia terguncang, shock, trauma, kehilangan dan sebagainya. Contohnya adalah korban tsunami yang selamat. Ada yang kehilangan keluarga, cacat, berjuang dalam air dan sebagainya. Ingatan seperti ini akan terus bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Nah, bagaimana dengan repeatation? Khan ngak mungkin ya kita harus disiksa dan dapat pendidikan militer dalam menghafal qur’an, khan? Hehehe🙂 nggak sanggup ngebayangi ya kalau tidak bisa setor hafalan baru, langsung dirajam, disiksa, dan sebagainya. Makanya wajar bila seorang tentara dengan pendidikan seperti itu, ia bisa teringat berbagai pelajaran militernya. Jadi, solusi kedua yang bisa dilakukan selain ‘trigger’ adalah repeatation atau pengulangan.

Setelah si dokter spesilis tersebut berbicara, selanjutnya baru gilirah pemateri yang memang hafidz dengan gelar Lc lagi. Ia juga memberikan penjelasan yang sama, lho. Padahal ketika si dokter tadi ngomongin tentang pengulangan, ia belum hadir. Telat tibanya. Tapi ia menganjurkan hal yang sama juga. Yaitu pengulangan.

Jadi, untuk bener-bener masuk ke long term memory, haruslah kita terus mengulang-ulang hafalan sampai bisa dan lancar. Bila sudah tercapai target hafalan, maka harus pula diulang-ulang lagi untuk menjaganya.

Saya suka seperti apa yang diterapkan di Dayah Tinggi Al-Qur’an di Japakeh, tempat saya belajar. Di sana, setiap murid setor hafalan baru setiap hari senin-jum’at. Hari sabtu mereka diwajibkan untuk muraja’ah (pengulangan) 1/3 dari semua hafalan yang sudah dihafal. Misal sudah sampai 10 juz, maka hari sabtu ia harus muraja’ah sebanyak kira-kira 3,5 juz sebelumnya. Sementara hari minggu, mereka libur. Tidak ada setoran dan merupakan hari bebas.

Kesimpulannya adalah anjuran untuk terus mengulang hafalan itu bukan sekedar anjuran yang tidak beralasan. Saya menyadari hal itu. Ketika tidak mengulang bacaan yang sudah dihafal, maka ia akan hilang pelan-pelan. Makanya, wajar seprti apa yang rasul bilang bahwa, alqur’an itu harus diikat dengan mengulang sama seperti kuta yang harus diikat agar ia tidak lari. Saya lupa matan hadisnya. Tolong dikoreksi. Intinya itu.

Semoga bermanfaat.

5 thoughts on “Pentingnya pengulangan dalam menghafal al-qur’an”

  1. Insya Allah menjadi lebih kuat lagi hafalan Qur’an kita, bila kita baca dalam sholat malam (tahajjud) bang.
    Silakan dicoba.
    Salaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s