Memacu adrenalin di Pulau Bunta (Bagian Kedua)

image

Lagu fox rain dalam film korea berjudul “Gumiho” terdengar dari arah tenda depan. Membuat saya terbangun dan sudah bisa dipastikan kalau itu bunyi alarm di HP saya. Saya lupa mengambil tas kecil saya yang ada di tenda yang di huni oleh Ramadhan.
Ketika tidak ada lagi suara manisnya Shin Min Ah si aktris korea ini, saya keluar tenda dan terlihat fajar dengan jelas, pertanda sudah waktunya shalat subuh. Burung-burung berkicauan membangunkan yang lain, juga.

Disambut sunrise di pagi hari
Disambut sunrise di pagi hari

Pagi itu, setelah urusan dengan sang pencipta retina mata yang mampu melihat keindahan alam ini, saya berjalan sendiri dengan kaki telanjang di atas pasir putih yang terasa halus ini. Di kejauhan terlihat babi yang sedang mencari telur penyu di pinggir pantai. Ketika makhluk tuhan ini melihat saya, ia segera menghindar memberi saya jalan bak artis berjalan di atas karpet merah. Saya tidak tahu apakah ia takut dengan saya yang memakai jaket merah tebal bertuliskan “Karate IAIN Ar-raniry” atau takut melihat di tangan kanan saya ada pisau Army Swiss stanless bermodel pisau yang digunakan Rambo untuk bertahan hidup di hutan Amazon dan Vietnam.

Tujuan saya berjalan ke ujung yang terlihat karang ini adalah untuk mencari kerang. Ada kerang khusus yang bisa dimakan yang semalam sempat kita makan. Saya ketagihan ingin mencobanya lagi. Kerang jenis ini bisa direbus atau dibakar. Semalam kami membakarnya menggunakan alat panggang untuk mengeluarkan isi. Setelah itu dipotong ujung ekornya dan isinya dicuci dengan air laut dan dibakar sekali lagi, baru bisa dimakan. Sepertinya pak Bondan harus datang kesini untuk mencicipi betapa maknyusnya kuliner pinggir laut ini.

Dikejauhan, saya melihat salah seorang nelayan, mungkin warga di sini, sedang mencari tripang sepertinya. Sementara saya sendiri asyik melihat-lihat ke sela-sela karang mencari kerang, tapi rupaya dewi fortuna tidak berpihak kepada saya waktu itu. Hasilnya nihil. Sampai akhirnya datang Agus dan dengan cepat ia menemukan kerang tersebut. Saya tidak mengerti kenapa Agus dengan secepat itu menemukannya. Mungkin, kaca mata yang ia kenakan bukan hanya untuk mengurangi mata berminus 3 saja, tetapi mampu mendeteksi letak kerang di laut. Hehe🙂

Disaat air terlihat mulai pasang, saya dan agus kembali ke basecampt. Susah mencari kerang di saat air mulai pasang dan menutupi karang. Diperjalanan, kami menjumpai 2 putri duyung berkaki dua yang sedang berfoto ria, kak Zatin dan Dekpi. Sepertinya mereka tidak sabar lagi ingin segera mengupload foto-fotonya ke facebook untuk membuat teman-temannya yang lain pada iri semua. Hehehe🙂

Kak Zatin buru-buru upload foto ke facebook ketika dapat sinyal
Kak Zatin buru-buru upload foto ke facebook ketika dapat sinyal

Tapi sayang, di Pulau Bunta sering putus-putus sinyalnya terkadang. Untuk telpon dan terima SMS bisa dan lancar, tapi kalau facebookan, twitteran dan internetan, kayaknya kita harus bawa perangkat komunikasi menggunakan satelit seperti di film “battle ship”.

Menu sarapan pagi hari ini adalah Spaghetti. Karena makan nasi terlalu mainstream, kita sarapan dengan Spaghetti. Hehehe🙂 Menu masakan khas Italia ini dimasak oleh koki handal, Citra dan juga Ilham. Dengan rasa yang maknyus dan aroma bumbu lezat, serta hiasan tomat merah yang dipotong kecil-kecil, mampu melupakan mertua bila lewat disamping dan seperti harus menjilat sikunya masing-masing karena saking terasa banget dilidah akan rasa Spaghetti yang sebenarnya.

Spagheti sebagai menu sarapan pagi
Spagheti sebagai menu sarapan pagi

Teh dan Coffe Mix panas sudah tersedia di samping sebagai penutup makanan. Aroma khas kedua minuman ini terasa ingin berlama-lama dipulau Bunta. Bahkan saya sempat berkelakar, “Yuk, kita buka cabang Dhapu Kupi di sini”. Hehehe🙂 Sekali-kali kita ngopinya di sini, jangan di Banda Aceh terus.

Melihat air pasang dan sudah menutupi karang, jiwa snorkling saya mulai kambuh lagi dengan ganasnya. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk snorkling karena ombaknya tenang dan dengan jelas bisa melihat ikan-ikan warna-warni diantara terumbu karang yang beraneka ragam.

Melihat saya sudah di dalam air, Agus juga ingin coba snorkling. Saya ajarin dia beberapa menit cara snorkling dan iapun langsung bisa.

“Bang, cantik kali ikan dan terumbu karangnya”, kata Agus dengan tersenyum.

Sementara Dekpi juga minta diajarin snorkling. Saya menyuruhnya menggunakan pelampung karena ia belum bisa berenang. Namun, tidak seperti Agus, Dekpi sedikit lebih lama bisa melakukan snorkling. Sampai ia muntah-muntah dan tertelan air. Hehehe🙂 Ketika ia bisa, ia terus dengan asyiknya melakukan snorkling sampai lebih lama lagi.

“Bang, seperti di video RCTI oke”, katanya.🙂

Rupanya ia teringat salah satu cuplikan di salah satu chanel TV swasta.

Mulai deh snorklingnya
Mulai deh snorklingnya
Mereka punya cara sendiri-sendiri untuk bersantai
Mereka punya cara sendiri-sendiri untuk bersantai

Sementara Ramadhan sudah langsung snorkling sendiri sampai ke tempat yang jauh. Citra sibuk sendiri mengambil foto-foto kami. Kak Zatin dengan gaya bule-nya berjemur di atas pasir beralaskan matras dengan buku novel ditangan berjudul “Nol Kilometer”. Sementara Ikal dan Ilham tidak sempat saya perhatikan entah kemana mereka menghilangkan diri.

Puas snorkling, saya mandi dengan air sumur yang ada di dekat mushalla sebentar. Kemudian ganti baju dan kembali ke basecamp untuk petualangan menegangkan selanjutnya, yaitu menaiki mercusuar sambil mengembalikan senter dan sepatu bang David yang dipinjamkan semalam.

Semua sudah pada siap untuk menelusuri hutan yang dijelajahi semalam dalam gelap. Namun, Agus tidak ingin ikut, katanya ngantuk dan ingin tidur. Sepertinya Agus tidak bisa tidur semalam. Sempat saya tanyakan kenapa, ia mengaku seperti merasa ada yang menggores tenda dan suara kresek-kresek. Saya bilang bahwa itu daun yang jatuh karena kita tidurnya memang di bawah pohon ketapang. Semalam saya juga mengecek suara seperti itu dan memang hanya dedaudan kering yang jatuh menerpa tenda.

Akhirnya yang berangkat adalah saya, Dekpi, Ikal, kak Zatin, Citra dan Ramadhan. Kita membawa barang yang paling penting diantara yang penting, apalagi kalau bukan kamera. Alhamdulilah semua alat elektronik kami sudah terisi batere penuh karena pagi hari setelah sarapan, Ilham mengumpulkan semua HP dan juga kamera untuk dicas di Balai penyambutan dekat dermaga. Di sini ada gensetnya untuk listrik.

Kami terus berjalan melewati jalan semalam. Rupanya kami sangat dekat dengan pantai yang terjal dan curam. Airnya yang hijau mampu melihat ikan-ikan yang ada di karang dan bebatuan. Perjalanan ini rupanya memakan waktu lebih lama lagi dari semalam, karena semuanya pada sibuk foto-foto disetiap sudut indah.

Rupanya kami melewati pemandangan ini semalam
Rupanya kami melewati pemandangan ini semalam
Jalan kecil menuju mercusuar
Jalan kecil menuju mercusuar
Satu per satu menaiki tangga mercusuar
Satu per satu menaiki tangga mercusuar

Ditengang perjalanan, kami juga berjumpa dengan beberapa anak muda yang camping dekat mercusuar semalam. Kami saling menyapa ramah. Rupanya mereka sudah siap dengan barangnya masing-masing untuk kembali pulang ke Banda Aceh.

Ketika memasuki hutan, kami istirahat sebentar. Citra, sang koordinator, selalu menyiapkan air yang di dalam tas kecilnya. Dengan satu botol Tuperware hijau ukuran besar dan gelas plastik untuk minum, kami tidak takut merasa kehausan. Thanks Citra ya?🙂

Setelah sampai di kantor bang David, rupanya ia tidak ada di kantor. Pikir kami, mungkin ia sedang mencari sesuatu. Kami hanya meletakkan saja senter di gagang pintu dan sepatunya di situ sambil berucap,
“Makasih bang David ya? “.

Kami segera menuju tower mercusuar yang mengeluarkan lampu kelap kelip di malam hari itu. Waktu itu angin sangat kencang sekali. Saya mempersilahkan teman-teman yang lain untuk naik. Sementara saya dibawah dulu untuk mengambil gambar.

Saya melarang Dekpi untuk naik walaupun kali ini ia mengenakan celana panjang. Saya bilang bahwa ia sudah sangat hebat kemarin karena mampu menaklukkan rasa takut ketika memanjat tebing tinggi. Sementara ini adalah untuk tingkat advance, saya beralasan. Ia akhirnya mengerti dan mengambil foto sendiri di lantai atas pertama bangunan mercusuar.

Saya meletakkan barang-barang yang tidak terlalu penting di bawah dan membawa kamera saja di tas kecilnya Ikal. Saya berpikir untuk mudah menaiki tangga dan menjaga keseimbangan ketika ditiup angin kencang.

Setelah menaiki sampai tempat belokan tangga pertama, hati ini berdebar kencang bagai genderang perang ditabuh. Saya tidak bisa meneruskan menaiki tangga. Mempertimbangkan perasaan dan angin yang tanpa kompromi terus menderu di telinga. Darah terasa mengalir deras memasuki pembuluh darah disekujur tubuh. Terasa dingin dan kaku kedua kaki ini tak bisa bergerak. Sementara mata mengarah ke bawah, kesamping, dan ke atas. Yang terlihat adalah samudera Hindia yang hijau dan karang-karang yang sudah nampak kecil lewat pelupuk mata. Hijaunya air dipinggiran terasa terlihat seperti maut yang ingin menerkam.

Stuck ditengah-tengah tangga dan sudah pasti tidak ada seorangpun yang bisa menolong, selain berdoa saja. Bila turun terasa tanggung dan juga menakutkan karena sudah jauh dari sentuhan tanah. Untuk menaiki kembalipun terasa masih tinggi dengan tantangan angin yang terus memasukui sela-sela baju ini.

Lebih kurang 10 menit saya menenangkan diri di tengah-tengah ketinggian yang masih tanggung. Setelah akhirnya saya berpikir bahwa sudah tanggung untuk turun ke bawah dan belum tentu saya akan kembali lagi ke pulau Bunta ini. Jadi, saya harus bisa menaiki tangga ini sampai ke puncak mercusuar dan setidaknya ini saya lakukan seumur hidup saya sekali saja. Teringat apa yang dikatakan oleh filsuf cina, Tao, “Seribu langkah selalu diawali dengan satu langkah kecil”. Saya sudah memulainya, maka harus saya selesaikan sampai ke puncak.

Saya mulai kembali menggerakkan kaki satu per satu. Anak tangga demi anak tangga saya lewati. Tangan dengan kuat berpegangan pada setiap besi pinggir tangga yang kemiringannya hampir 90 derajat. Saya tidak sanggup membayangkan apa yang ada di kepala arsitek yang membangun ini. Kenapa tidak menggunakan kemiringan 45 atau 30 derajat saja.

Alhamdulilah, akhirnya saya sampai ke puncak. Disambut oleh teman-teman yang lain dengan air putih yang sudah disediakan oleh Citra. Terasa seperti dehidrasi tinggi dan antara haus dan rasa yang melayang bercampur jadi satu komplit seperti jamu sido muncul.

Dari kiri: Kak Zatin, Saya dan Ramadhan
Dari kiri: Kak Zatin, Saya dan Ramadhan
Latar belakang samudera hindia
Latar belakang samudera hindia

Setelah menenangkan diri, Citra mengambil beberapa foto saya dari berbagai sudut. Namun, rupanya untuk jalan ke setiap sudut dipuncak, masih juga harus pelan-pelan karena angin yang kencang dan ketinggian yang bener-bener terlihat bebatuan laut semakin kecil. Tapi ada yang lebih gila, yaitu si Ikal. Spesies penghuni bumi ini berani duduk di pinggir pagar pembatas dan berpose ria seolah-olah ia punya sayap yang bisa dikepakkan bila ia jatuh.

Ikal, bagaikan spesies yang punya sayap tak terlihat
Ikal, bagaikan spesies yang punya sayap tak terlihat

Lama sekali kami berada dipuncak. Ingin turun dan memang harus turun, namun rasa takut menyelimuti jiwa kami. Masih juga ada pengecualian, yaitu spesies dengan dugaan punya sayap alias Ikal ini, yang duluan turun menyentuhkan sepatu lars coklatnyanya ke bumi. Beberapa menit kemudian, baru menyusul kak Zatin, saya menyebutnya sebagai wanita pembawa kerang, karena ia mengumpulkan kerang yang bisa dimakan di kantong kecil tas ranselnya.🙂

Segera setelah itu saya menyusul turun pelan-pelan ke bawah. Caranya adalah dengan cara naik tadi. Punggung ke belakang, tangan selalu berpegangan pada besi samping, dan mata terus melihat setiap pijakan anak tangga. Disusul Ramadhan dan terakhir Citra.

Capek juga rupanya
Capek juga rupanya

Bersambung ke Memacu Adrenalin di Pulau Bunta (Bagian Ketiga: Tamat)

13 thoughts on “Memacu adrenalin di Pulau Bunta (Bagian Kedua)”

      1. Kalau menurut Citra, Bang. Foto yang bagus itu bukan dengan kamera apa yang dipakai untuk mengambil gambar, tapi ketika kita bisa melihat keindahan dari kamera apapun tapi kita bisa merasakan keindahannya. Seperti foto sunset Kak Zatin yang di fb itu, meski sederhana, tapi sama Citra itu sudah sangat indah sekali. :’D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s