Memacu adrenalin di Pulau Bunta (Bagian Ketiga: Tamat)

image
Melewati jalan setapak

Setelah berada semua di lantai bawah mercusuar, kami bener-bener bersyukur bisa selamat. Teman-teman mengaku mengalami ketakutan yang sangat luar biasa juga rupanya. Bukan hanya saya. Tapi, ketakutan mampu mereka taklukkan hingga berhasil mencapai puncak. Teringat kalimat yang pernah diucapkan oleh Bryan Tracy dalam bukunya berjudul, “Change your thinking, change your life”, ia berkata “Untuk sukses butuh keberanian. Berani bukan berarti tidak takut, tetapi mampu mengelola ketakutan”.

Setelah menenangkan diri dibawah mercusuar, baru kami berangkat kembali ke basecamp untuk pulang. Namun, perjalanan pulang ini sedikit lebih lama, selain untuk berfoto ria, juga karena alasan kaki kak Zatin terasa berat, jadi harus pelan-pelan. Sering kami berhenti dan berfoto-foto.

image
Semua pada selfie

image
Semuanya pasang berbagai tampang kalau difoto
image
Mencoba memasang gaya walaupun capek
image
Bunga di tepi jalan

Melalui jalan kecil ini, kita mampu melihat ke bawah dimana air laut yang hijau tampak jernih dan ikan-ikan dengan jelas terlihat. Bahkan kita juga sempat melihat anak ikan hiu yang mendekat ke pantai. Terlihat jelas sirip atasnya keluar air dan bentuk badannya yang khas ada di dalam air. Hal yang wajar bila ikan jenis omnivora ini ada di sini, karena dari sisi jalan setapak ini berdekatan dengan samudera hindia.

Tiba di basecamp, kami segera minum air putih segar yang sudah kita persiapkan semenjak dari Banda Aceh sebanyak 2 galon. Air mineral ini mampu mendinginkan kerongkongan yang terasa kering sejak tadi karena di tengah perjalanan pulang kami kehabisan air.

Setelah shalat zuhur, kami segera mengepakkan barang semuanya. Mengambil pakaian-pakaian yang di jemur di ranting-ranting kayu, mengulung tenda dengan rapi, mantras tidur, sleeping bag dan juga barang-barang lainnya. Semua barang ditumpukkan pada satu tempat biar memudahkan dan tidak hilang atau kelupaan.

Saya melihat ke dermaga. Di sana terlihat boat kami. Air laut saya perhatikan waktu itu semakin surut. Perasaan aneh terasa tiba-tiba hadir di benak. Saya seperti punya firasat buruk. Saya tidak ingin terjadi sesuatu hal aneh yang tak terduga. Jadi, perasaan ini segera saya tepis. Teringat salah satu hadis Qudsi yang berbunyi:

“Aku adalah seperti sangkaan hambaku”

Maka, bila berprasangkan buruk, keburukan akan terjadi. Begitu pula sebaliknya. Sering sekali para penulis dan motivator menggunakan bahasa lain, padahal sama maksudnya. Yaitu, “bila anda bepikir positif, maka positif itu akan terjadi”.

Namun, tiba-tiba Ilham dan Citra datang dan memberitahukan berita buruknya. Bahwa kami tidak bisa pulang ke Banda Aceh sekarang karena air sudah surut sehingga boat terdampar di dermaga di atas karang dan tidak bisa ditarik ke laut.Mendengar berita ini, seluruh teman-teman terdiam seribu bahasa untuk sejenak. Terkejut dan terhenyak. Perasaan teman-teman yang lain dalam kondisi gundah gulana tak terkendali.Rupanya firasat saya tadi terjadi juga.

Sementara saya, saya mencoba mencari dalam ingatan akan film-film yang hampir mirip dengan kejadian saat ini. Sempat berpikir seperti dalam film “Life of Pi”. Tapi pikiran ini sudah pasti tidak sama dengan teman-teman yang lain. Mereka ada yang punya jadwal jumpa dosen besok pagi, ada yang masuk kerja, ada ynag final, kuliah dan macam-macam.

Ilham dan Citra menjelaskan bahwa alternatif lain ada 2. Pertama, kami tunggu air laut pasang, biasanya 3-4 jam lagi, baru berangkat. Sudah pasti berangkatnya malam hari. Inipun kalau anginnya tidak kencang dan ombak tidak tinggi. Resiko besar bisa menghadang bila kami tetap ngotot harus pulang bila cuaca benar-benar ekstrim.

Alternatif kedua adalah pulang besok pagi. Otomatis, teman-teman yang punya berbagai macam kegiatan akan telat tiba di Banda Aceh. Namun, pilihan ini harus ditempuh bila pilihan pertama tidak terwujud.

“Berdoa saja, semoga nanti malam cuacanya bersahabt dan kita bisa pulang malam” kata saya.

Teman-teman sudah mulai tenang. Sebenarnya ini adalah kesalah kami juga yang tidak disiplin dengan jadwal. Seharusnya jam 3 sore sudah siap semua barang-barang dan tinggal berangkat. Tapi, kami terlalu lama menghabiskan waktu di mercusuar. Jadi, disiplin pada aturan yang telah ditetapkan itu penting.

“Sekarang baru namanya survival skill dibutuhkan” lanjut saya.
“Yuk, kita cari kerang sebanyak-banyaknya biar kita bisa makan kayak semalam” kata Citra.

Baru deh semuanya terlihat senyum mengembang di wajah. Seperti adanya zat pengembang yang dipakai pada adonan kue bolu. Mereka terlihat antusia, terutama kak Zatin dan Dekpi. Mereka berdua tidak sempat makan kerang semalam karena sudah tidur. Mereka penasaran ketika kami ceritakan betapa enaknya rasa kerang.

Waktu itu, saya di basecamp saja, tidak ikut mencari kerang. Jasad ini terasa lelah, letih dan bawaannya adalah tidur. Segera saya ambil matras tidur dan saya hamparkan di atas pasir tepat di bawah pohon ketapang, dekat dengan perapian yang kami bikin semalam.

image
Mencoba menggunakan indera pendengaran dengan baik

Saya mencoba menfokuskan telinga pada suara ombak yang berderu tanpa henti. Sementara kulit, saya mencoba merasakan tiupan angin sepoi-sepoi yang terus mengerakkan setiap bulu halus di tangan saya. Suasana dan perasaan seperti inilah yang tidak saya dapatkan di Banda Aceh.

image
Selfie dulu sambil santai

Beberapa saat saya tertidur. Tapi hanya sebentar kemudian terbangun lagi. Perasaan kadang takut karena sendiri di sini dan membayangkan bila ada seokor babi mencoba mencium saya karena ia berpikir kalau saya adalah muhrimnya. Bukannya saya takut pada polisi syariah, tapi saya takutnya ia bukan hanya mencium saya, tapi membunuh saya. Apalagi yang ia tinggalkan nantinya adalah baju saya dengan bercak darah. Teman-teman yang lain harus menunjukkan baju ini ke orang tua saya sebagai bukti bahwa saya telah dimakan binatang buas. Seperti pada kisah nabi yusuf. Bila kisah saya berakhir seperti nabi Yusuf, ya tidak masalah. Malah senang jadinya. Hehehe🙂

Dengan mata terpejam, saya bisa mendengar suara teman-teman mulai mendekat. Ketika membuka mata, terlihat satu plastik besar yang berada dipasir dengan isi penuh dengan kerang. Sementara di tangan kak Zatin ada kerang ukuran besar seperti dalam film “Jinny Oh Jinny”. Untuk selanjutnya kerang ini kami namakan sesuai dengan judul film tersebut.

Teman-teman bercerita bahwa kerang besar ini hanya kak Zatin yang bisa angkat. Semua orang mencoba menarik kerang Jinny Oh Jinny tersebut dengan sekuat tenaga, tapi tidak ada yang berhasil. Kerang tersebut dengan kuatnya menempel di karang melebihi kekuatan lem Super Arteco. Teringat salah satu bacaan di TOEFL pada reading section, yang dijelaskan pak Abdul Manan, bahwa perekat atau lem paling kuat didunia ini adalah air liur atau cairan yang dikeluarkan oleh kerang untuk menempelkan diri pada karang.

image
Agus sedang membuat api untuk membakar kerang

Segera kami mencari kayu bakar yang terdapat di dekat kami. Ikal dengan menggunakan parang memotong kayu satu persatu, Agus membuat api dan yang lainnya terus mengumpulkan kayu bakar. Dibantu oleh Ilham, dan Ramadhan, api berhasil dihidupkan. Sambil menunggu kayu terbakar utuk persiapan membakar kerang yang telah diletakkan di tempat pemangganga, kami bermain scrabel.

Sementara Ilham terus menyiapkan kuliner kerang ini, Ikal dibawah pohon ketapang sedang memotong-motong buah pepaya yang diberikan warga. Mungkin, ia sedang menyiapkan kuah sayur pepaya, saya pikir. Rupanya dugaan saya salah, ia membuat rujak lengkap dengan bumbunya dan satu piring besar langsung diletakkan di samping scrable yang sedang kami mainkan. Akhirnya, kami bermain scrable sambil makan rujak.

Suasana pelan-pelan mulai berubah menjadi gelap, pertanda waktu magrib telah tiba. Kami mengakhiri permainan scrable dan shalat magrib. Setelah itu, baru kami makan daging kerang yang sudah ditusukkan ke lidi menjadi sate. Bumbu yang dibuat oleh Ikal tadi kami jadikan sebagai bumbu sate untuk makan.

Banyak sekali sate kerang yang dimasak tadi. Kita benar-benar menghabiskan semuanya. Bahkan saya sendiri sampai harus menjilat jari telunjuk karena sisa bumbu sate yang menempel. Rasanya sudah tentu beda dengan sate yang dijual di pasar. Rasa lemak, lembut, lunak, dan sedikit pedas karen menggunakan bumbu rujak, serta masih hangat membuat siapapun bisa lupa untuk pulang kembali Banda Aceh.

Air laut sudah mulai pasang dan semuanya siap-siap dengan barang masing-masing. Kami berencana berangkat malam ini. Check dan recheck dilakukan berkali-kali untuk memastikan tidak adanya barang yang tinggal. Api unggun segera dimatikan dengan menggunakan pasir. Penerang sudah disiapkan, yaitu senter khusus yang diletakkan di kepala. Sebagian teman yang lain menghidupkan HP untuk penerangan. Untuk mencapai dermaga, kami memutuskan berjalan di pinggir pantai saja dari pada lewat jalan hutan.

Semua barang dimasukkan ke dalam boat. Pelampung dibagikan. Berbeda ketika berangkat dimana saya tidak menggunakan pelampung, maka untuk kali ini, saya menggunakan pelampung juga. Berpikir bahwa baru ini pertama kali melakukan perjalanan laut di malam hari. Sama persis yang dilakukan oleh nelayan ketika mencari rejeki di lautan, yang berangkat di malam hari.

Di saat boat mulai dihidupakn mesinnya, semua sinar senter dimatikan. Hanya senter yang ada di kepala sang kapten yang berukuran besar dihidupkan. Senter yang ada di kepalanya sering diarahkan ke lautan, pulau yang berdekatan, dan ke ombak-ombak. Mungkin ia punya insting dalam mengetahui koordinat di lautan tanpa harus menggunakan teknologi GPS, pikir saya.

Tiba-tiba, sang kapten mematikan senternya. Suasana jadi gelap. Yang terlihat di atas langit adalah bintang-bintang. Tepat diatas kepala saya, terlihat rasi bintang biduk. Masih teringat pelajaran SD ketika saya harus menghafal dan mengenal rasi bintang sebelum ikut cerdas cermat. Walau saya hanya memenangkan juara harapan dengan hadiah pensil crayon dan jam tangan keren, tapi saya masih bisa mengenali yang mana rasi bintang pari, biduk, kalajengking, dan waluku.

Formasi dalam boat sedikit berbeda dengan formasi duduk sewaktu berangkat. Saya tetap masih di posisi tengah seperti sebelumnya. Disamping kiri saya ada Agus dengan mengenakan pelampung bertuliskan “Bunta Island Tour”. Dengan kuat sekali tangan kirinya berpegangan di pinggir boat, seolah-olah ia sudah siap dengan berbagai kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Matanya yang ditutupi kaca mata minus tiganya terus melihat ke berbagai pulau-pulau yang dekat untuk ,berenang seandainya boat terbalik. Disamping Agus, tepat bagian paling depan, ada Ikal. Ia menyandarkan kepala pada tumpukan tas di depannya. Sepertinya anak ini tidur dengan manisnya tanpa penduli keadaan gelap dan mencekam di atas boat.

Di kanan saya ada Ramadhan yang biasanya siap membidik apa saja untuk dijadikan objek foto. Tapi tidak kali ini. Ia hanya membisu tanpa kata dan suara. Disampingnya ada Citra. Ia mengeluarkan suara keras melawan suara kerasnya mesin boat untuk memberitahukan bahwa ada plankton di pinggir boat dengan cahaya kelap-kelip pada kak Zatin dan Dekpi yang duduk dibelakang. Dua makhluk hawa ini belum pernah melihat plankton semalam karena cepat tidur. Tapi, percuma saja Citra berteriak keras. Suaranya masih tidak mampu mengalahkan suara mesin boat. Dibelakang saya, tepat di kemudi boat, ada kak Zatin dan Dekpi. Sementara Ilham duduk dekat dengan sang kapten.

Suasana seperti ini mengingatkan saya pada berita-berita masuknya imigran gelap ke Australia melalui laut. Dimana pemerintah Indonesia selalu menjadi pemberi informasi imigran gelap ini pada pemerintah Australia, sampai semuanya berakhir ketika masalah sadap-menyadap muncul. Mudah-mudahan saja pertikaian Indonesia dan Australia bisa selesai dengan baik dan keputusan untuk meloloskan saya pada seleksi beasiswa Australia bisa terwujud. Amin.

Jalur yang ditempuh ini adalah berbeda dengan jalur sewaktu kami berangkat. Ini adalah jalur yag sering ditempuh oleh para nelayan. Jadi, ombah besar sering menyentuh boat dan percikan air bisa membasahi kami semua. Ketakutan mulai terasa meningkat ketika tiba-tiba kapten membelokkan boat dengan cepat secara tiba-tiba saat menghindari putaran arus laut yang kuat di perjalanan yang sudah tampak lampu-lampu kota Banda Aceh. Sementara lampu senter yang berukuran besar di kepala sang kapten tetap tidak dihidupkan. Terakhir, ketika di daratan, baru saya tahu bahwa itu untuk memudahkannya melihat dalam gelap dari pada menggunakan cahaya, katanya.

Lampu senter baru kembali dinyalakan ketika memasuki dermaga Ujung Pancu. Suasana segera berubah dari tadi yang begitu mencekam. Ilham yang ada di belakang dengan keras berucap, “Alhamdulillah”. Wajah-wajah ciut berubah dengan senyuman 2 senti ke kiri dan ke kanan terlihat jelas di antara kami.

Di dermaga, setelah semua barang diturunkan, kami mengucapkan terima kasih pada sang kapten. Ia mengaku kalau perjalanan ini bener-bener menegangkan juga dalam hidupnya. Katanya tadi adalah ombak runyam yang membuat muka masam. Semuanya akhirnya tertawa lepas.

Banyak pelajaran hidup yang didapatkan dalam petualangan ini. Diantaranya adalah:

1. Tidak ada perjuangan yang sia-sia karena setelah perjuangan berat dilewati, maka keberhasilan dan kesenangan didapatkan. Ini terinspirasi ketika selesai kami menaiki tebing dengan susahnya, namun dipuncak terlihat keindahan yang bisa dinikmati dan mampu melupakan susahnya perjuangan tadi.

2. Setiap manusia mampu melewati batas pikirannya sendiri. Terbukti ketika ketakutan melanda saat menaiki mercusuar. Seandanya masih terus membatasi pikiran bahwa tidak sanggup, maka selamanya tidak akan mencapai puncak.

3. Untuk hidup harus siap. Coba lihat kembali ketika telah memutuskan untuk melakukan trecking, panjat tebing, melewati hutan di malam hari dalam gelap, dan pulang dengan ombak maut yang mencekam, tidak ada seorangpun mampu memprediksi apa yang akan terjadi. Jadi, apapun harus siap secara mental dan fisik dalam menjalani dan mencapai apapun dalam hidup.

4. Lakukanlah selalu yang terbaik karen hidup hanya sekali. Ini adalah refleksi saya ketika keraguan dan ketakutan datang saat menaiki menara mercusuar. Sampai akhirnya saya berpikir, kalau bukan sekarang saya menaiki ini, kapan lagi. Belum tentu saya akan kembali ke sini lagi dengan suasan seperti ini dan mencoba menaiki mercusuar ini.

5. Disiplin pada waktu. Inilah kesalahan fatal kami yang tidak menghargai waktu. Gara-gara berlama-lama di mercusuar, kami tidak bisa pulang sesuai jadwal karena air laut sudah surut dan boat tidak berangkat, lantaran sudah kandas di atas karang.

6. Letakkanlah sesuatu pada tempatnya. Saya melihat adik saya yang cewek memakai rok dan mengenakan sandal fashionable. Ini sangat menyusahkan bila menghadapi jalanan batu, kerikil, karang dan memanjat tebing. Sampai akhirnya di hari kedua baru ia mengenakn celana untuk memudahkan petualanangan.

Overal, semuanya itu adalah bukan hanya perjalanan kosong, tapi penuh makna dan pelajaran hidup yang bisa diambil.

Terima kasih Citra dan Ilham for managing everything. We’re happy. This is what we call adventure. This is not just holiday or tour but the real adventure.🙂

Untuk anda yang ingin ke pulau Bunta, saya sangat merekomendasikan Citra dan Ilham ini. Selain sebagai koordinator, ia juga berperan sebagai fotografer dan dengan siap mengambil berbagai pose kami ketika diminta dengan kamera SLR kesayangannya itu. Walaupun kami juga membawa kamera masing-masing. Bahkan Citra juga mau membawa air yang sudah disiapkan dalam tas ketika kami melakukan trecking. Ketika kami haus di tengah perjalanan, air dengan siap sedia telah dituangkan di gelas plastik dihadapan kami. Ketika malam hari, tenda sudah siap didirikan untuk kami. Ketika waktu makan, makanan sudah siap tersaji. Citra dan Ilham juga mudah beradaptasi dengan kami yang memiliki berbagai karakter yang berbeda satu sama lain.

17 thoughts on “Memacu adrenalin di Pulau Bunta (Bagian Ketiga: Tamat)”

  1. pengalaman menakjubkan ya…
    asik sepertinya. kalau kita dapat tour guide yang wokeh, perjalanan ke mana pun rasanya tak disesali, walau ada kejadian-kejadian ‘aneh’ ya.

  2. Ini yang membuat saya tertarik membaca petualangan kawan-kawan yg telah pergi ke pulau Bunta yaitu dibalik cerita, kebersamaan, pengalaman, kedisiplinan dsb adalah punya tour guide yg siap selalu mulai dri cameranya hingga tidur….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s