Tidak disiplin, malah cari kambing hitam untuk excuse

image
Pic pinjam dari http://www.m.kompas.com

Saya tidak tahu judul apa sih yang bagus untuk tulisan ini. Beberapa kali saya delete, ketik lagi, delete lagi dan ketik lagi. Susah menemukan judul yang tepat. Tulisan ini juga terinspirasi dari salah satu postingan bang Eka di sini.

Bermula beberapa hari yang lalu, ketika saya hadir di salah satu kelas belajar. Si pengajar bilang bahwa kalau pesertanya ingin mulai belajar pagi jam 8, maka harus siap on time katanya. Mendengar ini, langsung deh peserta membuat berbagai excuse. Diantaranya :

1. Susah, pak. Pagi-pagi jam 8 udah sangat macet di jalan jembatan Lamnyong.

2. Ah, gk bisa. Saya ngantar anak dulu ke sekolah.

3. Saya ngantar istri dulu.

4. Susah deh pokoknya kalau jam segitu. Digeser sedikit aja jamnya.

Wah, banyak ya excusenya. Hehehe😀

Saya tidak mau menafikan semuanya itu. Karena memang bener kalau di jembatan Lamnyong itu macet kalau pagi hari. Mungkin 10 tahun ke depan, Banda Aceh sudah seperti Jakarta saja macetnya. Memang benar pula bahwa setiap orang punya kesibukan ngantar anak ke sekolah, ngantar istri ke kantor, de el el.

Namun, apakah mereka tidak berpikir bahwa mereka itu sudah punya jadwal jam 8 pas. Kalau ngantar anak, istri, macet, itu mah urusan mereka, bukan urusan penganjar yang harus mikir itu masalah.

Mikir dong gimana caranya jam 8 itu harus sudah ada si tempat. Untuk menghindari macet, bisa dengan berangkat lebih cepat, lewat jalur lain. Pasti banyak caranya. Cuma orang tidak mau saja berpikir seperti itu. Bukan tidak mau sih, tepatnya malas bertindak. Terbukti ketika si pengajar menawarkan solusi seperti di atas, jawabannya :

1. Ah, masa saya harus berangkat pagi pagi. Nggak ah.
2. Ngambil jalan lain? Capek lah, pak. Harus mutar lagi.
3. De el el.

Semakin diberi solusi, semakin timbul exuse baru. Huh..!!

Beginilah bangsa kita secara umum. Ini hanya contoh kasus kecil. Bagaimana bangsa ini bisa maju bila pola pikirnya masih seperti ini. Mindset tertutup, belum terbuka. Makannya, sering saya mengajar dia hari pertama itu tanpa memberika materi belajar, tapi saya buka pola pikir siswa saya dulu, saya istilahkan “brain washing” atau cuci otak. Ketika pola pikirnya sudah kita buka, maka baru deh enak belajarnya.

Fenomena yang sangat sering saya lihat dan temukan di lingkungan saya. Saya mencoba mengubah pola pikir ini. Namun, tidaklah bisa di ubah dengan scope yang besar. Tergantung sebesar apa wilayah tangung jawab. Andapun bisa mengubahnya dengan seluas tanggung jawab pekerjaan anda. Misal anda seorang pengajar, maka powernya sebatas siswa kelas anda. Seorang pimpinan, sebatas pada anak buah anda.

Saya masih teringat apa yang dikatakan oleh Aa Gym, “mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah sekarang”.

Ketika setiap orang diantar kita melakukan hal yang sama, maka 10 tahun kedepan, mindset masyarakat kita berkembang. Kemanjuan negara bisa tercapai.

8 thoughts on “Tidak disiplin, malah cari kambing hitam untuk excuse”

  1. Hehehe…,kalau sudah jadi kebiasaan,memang sulit mengadakan perubahan jika tidak benar-benar diniatkan. jadi saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ga ikut menyalahkan kambing #eh?

  2. Betul kata Aa Gym.. semua itu dimulai dari kita dan harus dari skrg..

    Klo diberi solusi dan msh banyak alasan, ya berarti org tsb ga mau melakukan perubahan bagus dlm hdp nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s