Ketika Hati Harus Terlibat

image
Hati vs Logika (sumber:google)

“Dikasih hati, minta jantung” adalah kalimat yang sering kita dengar. Disaat seharusnya tolerasi sudah mencapai batas cukup, namun atas nama kemanusian, kasih sayang, dan apapunlah namanya, kita harus memberikan toleransi untuk kesekian kalinya. Inilah yang tidak saya sukai dan sangat saya hindari untuk berada pada kondisi yang begini.

Sekitar 1 bulan yang lalu, saya menyewakan rumah kepada sebuah keluarga muda. Mereka mengatakan harus cepat-cepat pindah dari rumah sebelumnya. Alasanya rumah sebelumnya adalah rumah dinas dan segera dibongkar. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan ceritanya kenapa pindah. Akhirnya, mereka pindah rumah.

Nah, sekarang adalah transaksinya. Sekitar 2 atau 3 hari setelah kepindahan, baru mereka bayar sewanya 70 persen. Alasan ketika dikasih duitnya adalah karena nggak enak sama saya karena tetanggaan. Oke, akhirnya saya terima dulu dan uang sisanya nanti dibayar.

Saya jenis makhluk homosapies yang punya sifat untuk memberikan toleransi kepada orang lain. Namun, saya juga sangat menghindari untuk terlalu banyak menggunakan perasaan dalam bisnis. Ada batasnya dan hanya sewajarnya saja. Terlalu sakit rasanya bila hati tersakiti padahal secara logika tidak harus tersakiti karena urusan bisnis. (Biar lebih jelas baca paragraf selanjutnya).

Tadi, saya dihubungi kembali oleh si penyewa. Istrinya, karena masalah transaksi rumah lebih banyak ditangani istrinya. Ia mohon pada saya untuk memberikan rekening listrik rumah. Alasanya adalah untuk pencairan uang kredit yang bisa dikasih ke saya nanti sore. Saat seperti inilah antara hati dan logika harus bertarung.

Secara logika, saya tidak harus memberikan rekening listrik padanya karena belum lunas. Saya juga dari awal selalu memposisikan diri untuk tidak mudah percaya sama orang baru, terutama yang berhubungan dengan masalah keuangan. Namun bila harus mempertimbangkan hati, maka beda lagi kebijakannya. Sayang kepada orang, saya kemanusian, dan sebagainya bisa jadi alasan. It’s hard to do this.

Akhirnya saya coba untuk memilih logika saja. Saya katakan “maaf, nanti biar R kasih setelah selesai semua pembayaran”. Terus, tau nggak, apa katanya.🙂 Si penyewa bilang, “ya sudahlah, kalau tidak mau bantu kami”. Hehehe🙂 saya ketawa bacanya SMSnya. Bayangin coba, kita sudah memberikan toleransi bisa bayar lagi nantinya, namun kalimat seperti ini keluar. Secara logika, saya kalah bila memberikan rekening rumah ke dia karena saya tidak punya pegangan apapun.

Mungkin karena ia adalah seorang wanita, makanya ia tidak mampu berpikir secara logika. Ia lebih memilih menggunakan perasaannya dan menumpah ke saya karena tidak tahan. Hehe🙂 Finally, saya cabut kalimat saya sebelumnya dan mengatakan dengan alasan “maaf, salah paham. Silahkan kakak ambil di rumah karena R sdh ada d rmh sekrang. Biar nanti sore bisa cair”. Setelah itu, suaminya datang ke rumah dan saya berikan rekening listriknya. Saya tanyakan kemana kakak, ia bilang di rumah. Saya mengerti.

Sebenarnya saya ingin menjadi tetangga yang baik. Bisa berhubungan dengan banyak orang. Saya juga tidak mau terlibat hutang piutang dan masalah keuangan lainnya. Bilapun harus, maka segera saya selesaikan cepat-cepat.

Ada tipe orang yang terlalu banyak menggunakan perasaan dari logika. Begitu pula sebaliknya. Sebenarnya, lebih enak berhubungan dengan orang yang menggunakan perasaan. Sedikit pukulan kecil pada perasannya bisa membuat ia sadar. Tidak seperti orang yang tidak menggunakan perasaan. Walau sudah kita sidir dengan parahpun, ia tetap tidak sadar untuk memenuhi kewajibannya membayar, misalnya. Jadi , setidaknya, kalimat “Biar nanti sore bisa cair” bisa membuat ia segera melunasi pembayaran dan sadar akan kewajibannya membayar.

4 thoughts on “Ketika Hati Harus Terlibat”

    1. Bener, Mira…🙂 tp sebenarnya kita ngak salah. Cuma si penyewa membuat kita seolah2 bersalah padanya … gegara ia ngeluarin emosi gitu dengan kalimat “ya udahlah klo gk mau bantu”.

      Klo kita memasukkan itu ke dalam hati, berarti si penyewa yang menang krn membuat kita merasa bersalah … ya khan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s