PARLOK untuk Pemilu Daerah dan PARNAS untuk Pemilu Nasional

image
Partai Aceh, Partai Damai Aceh, dan Partai Nasional Aceh

Beberapa waktu yang lalu, saya dapat undangan maulid di tempat paman. Taulah sendiri kalau di Aceh gimana maulidnya. Udah bener-bener mewah banget melebihi hari raya dan pesta perkawinan. Tapi, postingan ini, saya tidak cerita maulidnya. Mungkin nantilah coba saya ceritakan gimana maulidnya di sini. Hehe🙂

Jadi, begini ceritanya *ciyee..udah kayak acara Kismis dulu.kisah-kisah misteri*. Waktu ngobrol-ngobrol dengan sang paman, saya bertanya pertanyaan ringan tentang pemilu. Wajarlah, karena sekarang khan lagi pesta demokrasi dan kampanye ada di mana-mana.

“Jadi, untuk pemilu kali ini, kita milih siapa?” Saya bertanya.

“Jangan pilih yang lain” katanya.

“Pilihlah PA (Partai Aceh)” sambungnya.

“Apa alasannya?” Tanya saya.

Paman saya mampu juga menangkap keraguan saya dengan melihat wajah saya ini. Hal yang memang masuk akal bagi saya untuk tidak memilih PA. Lewat media dan kabar dari banyak orang, orang PA itu banyak mafianya, suka bikin keributan, memberikan ancaman, dan lain-lain. Kenapa saya harus milih PA? Karena saya punya kriteria sendiri dalam memilih wakil rakyat, coba baca di sini.

“Kalau bukan orang Aceh yang bangun Aceh ini, siapa lagi coba?” Ia menjawab.

“Dulu kita sudah merasakan konflik, kemelaratan, kemiskinan, macam-macamlah sudah kita rasakan. Apalagi kita di kampung tahu semua gimana susahnya. Dan sekarang, banyak hal yang sudah berubah. Kita tidak usah lagi jaga malam di poskamling, gk ada lagi harus melapor ke aparat tiap malam” ia menerangkannya dengan berapi-api.

“Nah, bilapun memang diantara caleg PA itu banyak yang nggak bagus, kita pilihnya yang bagus. Yang pastinya PA yang kita pilih” lanjutnya.

“Kalau untuk pemilihan umum atau presiden, terserah mau pilih apa saja partai nasionalnya. Tapi, untuk daerah, pilihlah PA” ia mencoba memberikan pemahaman bagi saya.

Saya yang bukan makhluk yang mengikuti dunia politik, mulai sedikit mencoba untuk memahaminya. Walau sebenarnya kalau dipikir-pikir, masuk akal juga. Tapi, memutuskan PA untuk dipilih, saya masih butuh referensi lain.

Nah, tadi siang, alhamdulilah, saya ngopi dengan seorang teman dekat. Ia adalah kader PA. Ia tahu bahwa saya tidak sembarangan dalam memilih. Saya punya kriteria sendiri, bisa baca di sini. Saya teringat sekali kalimat yang ia ucapkan.

“Bro! ” ia biasa memanggil saya itu.

“Ini saya ngomong bukan sebagai kader PA, tapi sebagi teman” katanya.

“Kalau untuk pemilihan legislatif ini kita milih parnas (partai nasional), suara kita dibawa keluar Aceh, dong. Bila itu terjadi semua kebijakan yang akan diambil oleh wakil rakyat yang terpilih itu tergantung sama pimpinan partai pusat. Sementara mereka tidak tahu apa yang terjadi di Aceh. Apa yang dibutuhkan di Aceh. Tapi, kalau kita memilih parlok (partai lokal), saya nggak bilang PA ya, bro” ia menekankan kalimatnya.

“Mau partai lokal seperti PDA (Partai Damai Aceh), PAN (Partai Nasional Aceh) atau PA (Partai Aceh) boleh. Pilih salah satu. Karena itu suara kita orang Aceh dan untuk Aceh juga. Kita sudah tahu bagaimana Aceh, apa yang dibutuhkan, sementara pemerintah pusat, apa yang mereka tahu? Kitalah yang lebih tahu, maka pilihlah partai lokal. Terserah partai apa saja” katanya.

Akhirnya, kebingungan saya ketika berbicara dengan paman terjawab sudah. Seharusnya, saya bersyukur, dengan adanya MoU Helsinki, kita bisa buat partai lokal. Sementara daerah lain di Indonesia tidak ada partai lokal.

Sebagai orang awam dari dunia politik, saya bisa melihat kelebihan dan lekuarangan negara demokrasi. Demokarasi adalah suara terbanyak merupakan suara tuhan. Suara terbanyak dianggap benar. Nah, kalau mau berpikir lebih lanjut, bila suara terbanyak lewat voting atau apapunlah namanya adalah menyetujui undang-undang agar lancarnya maksiat, merampas kekayaan daerah lain, dan macam-macamnya, berarti dianggap betul dan harus disahkan undang-undang tersebut.

Jadi, analisa saya, kekurangan demokrasi itulah yang dimanfaatkan oleh orang Aceh, pada umumnya. Untuk menguasai parlemen, menyetujui disahkannya penggunaan bendera Aceh, lambang Aceh dan lain sebagainya nantinya, maka harus banyak orang Aceh sendiri di Parlemen. Sehingga ketika voting, banyak suara yang setuju. Maka, lewat partai lokal-partai lokal inilah yang mendapatkan kesempatan ada di parlemen. Sesederhana itulah saya berpikir.

Oya, hari sabtu kemarin, saya mengajar di kampus. Waktu itu, saya terkejut ketika mahasiswa saya minta izin tidak masuk di pertemuan berikutnya. Mereka minta untuk digantikan dengan hari lain. Alasannya adalah karena mereka semua akan dipulangkan ke daerah masing-masing untuk nyoblos. Biasa transportasi PP gratis dari pemerintah daerah mereka.

“Wow! Keren juga strateginya ini” kata hati saya.

Artinya, partai yang ikut dalam pemilihan ini tidak mau kehilangan suara dan banyak yang golput. Jadi, dengan berbagai usaha mereka melakukannya dengan baik.

Finally, postingan ini adalah hanya sebuah opini saya sebagai orang awam dari kata ‘politik’. Keputusan memilih di esok hari, tetap menjadi pilihan masing-masing. Semoga besok berjalan lancar. Amin.🙂

2 thoughts on “PARLOK untuk Pemilu Daerah dan PARNAS untuk Pemilu Nasional”

    1. Iya, mbak… sampe segitunya…🙂 klo teman-teman Aceh yang diluar Aceh gk tau ya…. tp biasanya klo masih pakek KTP Aceh, mereka bakalan balik ke Aceh sebentar untuk nyoblos…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s