Efektifkah 30 Murid Per Kelas?

image
Salah satu kelas dengan jumlah siswa yang tidak banyak

Selain pengalaman PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di sekolah MTsN, saya juga punya pengalaman mengajar di sekolah SD dan SMP. Sementara untuk tingkat menengah, saya pernah mengajar di SMA dan juga SMK. Selama itu pulalah saya memperhatikan mekanisme pendidikan lembaga sekolah. Karena biasanya saya mengajar pada kursus dan training untuk lembaga non-sekolah sehingga tidak tahu menahu tentang sekolah.

Kecuali PPL, dari semua pengajaran saya tersebut lebih berorientasi pada profit, bukan saya sebagai guru honor atau semacamnya. Tujuan pengajarannya lebih kepada permintaan sekolah, misalnya untuk kesiapan UAN, atau membuat siswa bisa berkomunikasi bahasa inggris dengan lancar. Alhamdulillah kelas-kelas tersebut tercapai tujuannya.

Hal utama yang saya lakukan ketika membuat deal dan negosiasi dengan pihak sekolah adalah manajemen kelas. Saya tidak mau ikut dengan aturan yang sudah ada tentang jumlah siswa per kelas. Biasanya, sekolah-sekolah tersebut memiliki 25 sampai 30 siswa per kelas, bahkan lebih terkadang. Saya katakan pada pihak yang berwenang tersebut untuk memecahkan kelas tersebut menjadi 10 siswa per kelas. Bila deal, maka baru saya mulai mengajar dan alhamdulilah target tercapai, baik itu untuk lulus UAN atau membuat mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris. Bahkan juga sering saya memberikan garansi tujuan tercapai.

Sekarang, coba anda bayangkan. Anda ada di kelas dengan dihuni oleh 30 siswa. Anda memberikan materi dan terus memberikan materi tanpa tahu apakah mereka sudah mengerti atau belum. Namun, bersyukurlah bila anda adalah guru yang selalu memberikan evaluasi untuk setiap materi sehingga mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik. Tapi bila hasil evaluasi tersebut rupanya masih ada satu siswa yang masih belum mengerti, apakah anda akan mengulang materi tersebut atau melanjutkan materi selanjutnya? Anda sendiri yang jawab pertanyaan ini.

Bagi saya sendiri, alat ukur untuk bisa melanjutkan materi selanjutnya adalah dengan adanya pemahamam yang didapat oleh semua siswa. Bila 10 siswa tersebut mengerti semuanya, baru saya lanjutkan ke materi berikutnya. Bila tidak, maka saya akan mengulang materi tersebut sampai semua mengerti. Barometernya adalah, bila siswa yang paling bod*h sekalipun mengerti, maka yang lainnya pasti lebih mengerti. Nah, apakah mungkin hal tersebut bisa dilakukan untuk kelas yang dihuni oleh 30 orang siswa? Belum lagi si guru harus menuntaskan materinya yang sudah diplotkan oleh pemerintah sesuai deadline (sebelum ujian).

Aturan 10 siswa per kelas ini, banyak diterapkan pada sekolah-sekolah modern dan juga swasta. Lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah juga menerapkan ini. Sama seperti di lembaga saya di ITC-english. Aturan ini susah sekali diterapkan untuk sekolah-sekolah pemerintah kecuali pemerintah sendiri mau mengeluarkan aturan baru tersebut.

Sebenarnya, banyak sekali manfaat bila pemerintah menerapkan satu kelas untuk 10 orang siswa. Manfaat yang paling besar adalah berkurangnya pengangguran karena banyak tenaga pendidik yang terserap di sekolah-sekolah. Selain itu, manfaat yang paling penting adalah cerdasnya anak didik karena guru mudah mengotrol dan membimbing siswanya yang berjumlah kecil.

Saran saya, bila anda punya otoritas untuk memperkecil kelasnya, maka lakukanlah. Baik itu anda sebagai kepala sekolah, guru, atau bahkan kepala dinas. Sebenarnya ini hanyalah hal kecil dengan sedikit usaha yang sangat mudah, tapi mampu membuat perubahan besar di dunia pendidikan kita.

Semoga bermanfaat.

#Saat ini saya memberikan training bahasa inggris untuk karyawan perusahaan, perkantoran, militer, kesehatan, perhotelan, lembaga-lembaga swasta atau pemerintah. Selain itu saya juga aktif di ITC-English, Banda Aceh, sebagai instruktur bahasa inggris dan manager kursus.

2 thoughts on “Efektifkah 30 Murid Per Kelas?”

  1. Sempat terpikir seperti itu juga saat pertama kali ngajar. Kemudian terbentur dengan jumlah SDM, jumlah ruang, dan juga otomatis akan menaikkan SPP (karena kami di sekolah swasta). Selain itu, filosofi sekolah agak berbeda dengan program bimbingan belajar intensif. Setelah mengadakan sedikit analisis (tim kecil), hasilnya kami masih mempertahankan jumlah 30 siswa per kelas.
    Untuk sedikit acuan, bisa kunjungi http://gurupembaharu.com/home/berapa-jumlah-siswa-yang-ideal-pada-tiap-rombel/

    1. Memang bener, mbak…🙂 salah satu kendalanya adalah SDM dan fasilitas yang tersedia. Bila lembaga pemerintah, maka keterlibatan pemerintah akan pengadaan ruang kelas dan juga SDM selalu dibutuhkan. Bila sekolah swasta lebih mudah menerapkan 10 orang per kelas, namun tergantung juga lembaganua. Mereka harua mempertimbangkan seperti apa yang mbak sebutin tadi seperti biaya belajar. Namun, bila pihak sekolah mampu berpikir untuk mendapatkan income bukan hanya dari siswa, maka pengaturan kelasnya tidak akan menjadi masalah …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s