Bisnis Berbasis Aplikasi Online Versus Konvensional

Salah satu layanan delivery online di Banda Aceh.

Beberapa hari yang lalu lagi hot-hotnya berita demo uber, blue bird, dan gojek. Semua pada ribut dengan perseturuan bisnis angkutan penggunaan aplikasi online dan konvensional. Ada sebagian berpendapat bahwa para pebisnis angkutan umum dengan aplikasi online tidak memiliki izin seperti masih menggunakan plat biasa (bukan plat kuning) dan izin usaha lainnya. Pendapat lain adalah karena pangsa pasar jasa konvensional menipis.

Pada masalah ini, saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Namun, saya punya persepektif lain terhadap pebisnis berbasis aplikasi online dan konvensional. Beberapa tahun yang lalu, semenjak adanya rencana pemerintah menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), saya sudah membayangkan akan ketidaksiapannya (baca: belum matang) kita sebagai warga negara untuk menerima hal baru. Penggunaan aplikasi online oleh angkutan umum yang didanai oleh pemegang saham luar negeri, ini merupakan aksi awal dari keterbukaannya pasar di negara-negara Asean.

Diawali dengan Gojek yang bersaing dengan angkutan ojek konvensional. Selanjutnya masuk Uber, Grab, dan beberapa lainnya. Hal ini tidak bisa juga disalhkan rakyat yang tidak siap dengan perubahan kemajuan yang terlalu cepat, tetapi juga pemerintah kita yang belum siap. Buktinya belum ada aturan khusus regulasi terhadap bisnis semacam ini.

Beberapa hari yang lalu, saya dengan teman-teman di kantor sempat menggunakan salah satu fasilitas ini. Namanya adalah Bee-Jek.  Sejenis Gojek yang ada di Jakarta. Kami menggunakan fasilitas ini karena waktu itu hujan deras, malas keluar, tetapi pingin makan. Kami telpon Bee-Jek untuk suruh membeli 3 mie aceh dan 1 bungkus nasi padang. Biaya jasa tersebut adalah IDR 15.000 per lokasi barang yang dibeli. Maksimal limit yang mau mereka beli adalah IDR 200.000.

Bagi saya, sebagai pengguna fasilitas ini, sangat senang dan puas. Kalau memang ada yang lebih mudah dan murah, kenapa harus repot-repot dan bayarnya juga mahal. Itu sih prinsip saya sebagai konsumen. Nah, sekarang si pebisnis harus jeli melihat pasar yang saat ini sudah melek dengan penggunaan teknologi informasi.

Ini hanya contoh kecil saja. Belum lagi nanti ketika para pebisnis luar negeri mendirikan usahanya di sini. Persaingan sudah pasti semakin ketat. Harga bisa dibanting-banting nggak sanggup ngebayangin. Makanya, kitalah sekarang yang harus menyiapkan diri untuk terus berkembang dan mampu bersaing.

2 thoughts on “Bisnis Berbasis Aplikasi Online Versus Konvensional”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s