Lelaki 2500. Chapter I: Pertemuan di Kereta Listrik

 

Terlihat seorang wanita yang duduk di depannya di sebuah gerbong kereta api listrik bertenaga hidrogen. Sesekali, ia melihat jam yang moderen itu ditangan kirinya. Terlihat tanggal 25 Desember 2500. Jam 10.10 PM. Tiba-tiba, ia terkejut ketika melihat sesosok pria di depannya yang sebelumnya tidak ia perhatikan semejak 30 menit berada di kereta. Ia memperhatikan wajahnya dengan seksama.  Wanita itu terus menatapnya tanpa kata. Mencoba berpikir keras untuk mengingat wajah yang terasa sangat familiar itu.

Tapi Reza tidak pernah menghiraukannya. Ia terlalu asyik dengan pemandangan kota Banda Aceh yang indah. Keadaan ini sungguh berbeda dengan tahun 2004 sebelum ia dimasukkan kedalam capsul waktu. Keadaan dimana ia berjuang sendiri setelah berpisah dengan seluruh keluarganya ketika gelombang Tsunami datang melanda desanya.

Deru ombak yang keras, teriakan orang-orang yang ia kenal, dan hilangnya harapan benar-benar terasa saat ia mengingat kejadian tersebut.

“Penumpang yang terhormat, 5 menit lagi kereta akan tiba di stasiun Jantho. Bagi penumpang yang turun, harap segera bersiap-siap. Mohon tertib dan beradab”.

Suara pemberitahuan tersebut terdengar 2 kali diulang-ulang melalui speaker berteknologi tinggi yang ada di sela-sela dinding gerbong kereta ini.

Reza tidak menyangka bahwa Aceh benar-benar berubah drastis. Sekarang lebih maju, lebih moderen, dan setiap orang lebih beradab.

“Bang! Apakah abang kenal saya?” Wanita tersebut memberanikan diri bertanya.

Reza terlihat terkejut dan memperhatikan wanita ini.

“Maaf. Adek siapa ya? Sepertinya kita memang belum pernah kenal”

“O… Maaf, bang. Wajah abang terlihat familiar sekali.”

Reza hanya tersenyum lebar saja pada wanita tersebut.

Wanita tersebut segera turun di Stasiun Jantho ketika bel tanda pintu kereta terbuka. Ia pun mulai menghilang dari kerumunan orang disaat kereta mulai melaju lagi.

Kini, Reza hanya memperhatikan bangku kosong yang ada di depannya. Tiba-tiba, ia terlihat sebuah buku kecil seperti Diary tergeletak di atasnya.

“Bu, sepertinya buku ibu jatuh”. Kata Reza pada seorang ibu yang duduk disamping bangku tersebut. Ia menunjuk pada buku itu.

“Bukan, nak. Bukan punya saya. Mungkin buku ini milik teman adik, penumpang tadi yang barusan turun”.

“Tapi, ia bukan teman saya, bu”.

“Tadi terlihat kalian berbicara. Ambil saja bukunya. Nanti waktu jumpa kamu kasih balik.”

Ibu itu berkata dengan bijak sambil memberikan bukur tersebut. BERSAMBUNG …

 

 

 

5 thoughts on “Lelaki 2500. Chapter I: Pertemuan di Kereta Listrik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s